Berkah Yang Tak Ternilai

banner 120x600

Sering kali manusia mengukur keberhasilan hidup dengan angka-angka. Besarnya penghasilan, luasnya rumah, banyaknya tabungan, atau tingginya jabatan dianggap sebagai tolok ukur kebahagiaan. Padahal, ada anugerah yang jauh lebih berharga daripada semua itu, yaitu keberkahan. Berkah tidak selalu tampak dalam jumlah, tetapi nyata dalam ketenteraman, kecukupan, kesehatan, keharmonisan keluarga, serta hati yang selalu bersyukur kepada Allah Swt. Itulah kekayaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat kendaraan yang lebih mewah, rumah yang lebih besar, atau usaha yang lebih maju. Akibatnya, hati menjadi gelisah karena merasa kurang. Padahal, belum tentu semua yang tampak melimpah itu disertai keberkahan. Ada orang yang hartanya berlimpah, tetapi keluarganya retak. Ada yang memiliki jabatan tinggi, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan. Ada pula yang memiliki kekayaan melimpah, namun kesehatannya terus menurun sehingga tidak mampu menikmati nikmat yang dimiliki.

Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang hidup dalam kecukupan. Makanan yang tersedia mungkin tidak mewah, tetapi selalu terasa cukup. Rumahnya mungkin tidak besar, tetapi dipenuhi tawa anak-anak. Penghasilannya mungkin tidak tinggi, tetapi orang tua bangga kepada anak-anaknya, pasangan hidup saling menguatkan, dan setiap malam dipenuhi doa bersama. Itulah salah satu wajah keberkahan yang sering luput dari perhatian manusia.

Allah Swt. mengingatkan bahwa keberkahan selalu berkaitan dengan keimanan dan ketakwaan. Firman Allah:

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

BERITA TERKAIT  Dari Birugo Menuju Persatuan Ulama Nasional

“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa keberkahan bukan semata-mata hasil kerja keras manusia, melainkan karunia Allah kepada hamba-hamba yang menjaga iman dan ketakwaannya. Sebab itu, seorang mukmin tidak hanya berusaha memperbanyak rezeki, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga kejujuran, menghindari kezaliman, serta memperbanyak amal saleh.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa keberkahan sangat erat kaitannya dengan kejujuran. Beliau bersabda:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
«الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»

“Dua orang yang berjual beli memiliki hak memilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan keadaan barang dengan benar, maka diberkahi jual beli mereka. Namun jika keduanya berdusta dan menyembunyikan cacat barang, maka dihapus keberkahan jual beli mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak selalu identik dengan keuntungan yang besar. Keuntungan yang diperoleh melalui kebohongan mungkin tampak banyak, tetapi kehilangan keberkahan. Sebaliknya, keuntungan yang sedikit namun diperoleh dengan kejujuran justru menghadirkan ketenteraman, kecukupan, dan kemudahan dalam kehidupan.

Berkah juga hadir dalam keluarga. Tawa anak-anak bukan sekadar suara riang, tetapi tanda bahwa rumah dipenuhi kasih sayang. Rasa bangga orang tua bukan hanya karena keberhasilan materi anaknya, melainkan karena akhlak, bakti, dan ketakwaannya. Kebahagiaan pasangan hidup bukan diukur dari mahalnya hadiah yang diberikan, tetapi dari kesetiaan, saling menghormati, dan kesediaan berjalan bersama dalam suka maupun duka.

BERITA TERKAIT  Meneladani Kecerdasan Hidrologi Agung Warisan Majapahit

Allah Swt. berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ketenteraman, mawaddah, dan rahmah adalah bentuk keberkahan yang jauh lebih mahal daripada kemewahan materi. Banyak keluarga yang hidup sederhana, tetapi dipenuhi cinta. Sebaliknya, tidak sedikit keluarga yang bergelimang harta namun kehilangan kehangatan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah ukuran yang diajarkan Islam. Jiwa yang kaya adalah jiwa yang merasa cukup atas karunia Allah, selalu bersyukur, tidak iri terhadap nikmat orang lain, serta terus berusaha memperbaiki diri. Orang seperti ini akan merasakan keberkahan dalam setiap langkah hidupnya.

Karena itu, marilah kita mulai mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Jangan hanya menghitung berapa rupiah yang masuk ke rekening, tetapi hitunglah berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan tanpa kita sadari. Masih dapat tersenyum bersama keluarga adalah nikmat. Masih bisa memeluk orang tua adalah nikmat. Masih mampu beribadah dengan tenang adalah nikmat. Masih diberi kesehatan untuk bekerja adalah nikmat. Semua itu adalah bentuk keberkahan yang tidak dapat dinilai dengan angka.

BERITA TERKAIT  Benturan Dakwah Menguji Kedewasaan Ruang Keagamaan

Jangan sampai kita menjadi manusia yang sibuk mengejar tambahan harta, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga. Jangan sampai kita memperoleh keuntungan besar, tetapi kehilangan kejujuran. Jangan sampai kita memiliki rumah megah, tetapi kehilangan ketenangan di dalamnya. Sebab keberkahan bukanlah tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat, ketenteraman, dan kebaikan yang Allah titipkan dalam setiap nikmat.

Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba yang lebih pandai mensyukuri keberkahan daripada sekadar menghitung kekayaan. Semoga setiap rezeki yang kita peroleh menjadi rezeki yang halal, baik, dan penuh berkah. Semoga tawa anak-anak kita menjadi penyejuk hati, kebanggaan orang tua menjadi penyemangat hidup, kasih sayang pasangan menjadi penguat langkah, serta seluruh perjalanan hidup kita senantiasa berada dalam limpahan rahmat dan keberkahan Allah Swt. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *