BERISLAM GEMBIRA DENGAN HATI YANG LEMBUT

banner 120x600

Di tengah menguatnya kecenderungan sebagian umat untuk mengukur kesalehan dengan simbol, penampilan, atau banyaknya amalan yang tampak, narasi “Ber-Islam dengan Gembira, Ber-Muhammadiyah dengan Lembut Hati” menghadirkan pesan yang menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa Islam bukan agama yang dibangun di atas kesulitan, melainkan agama yang menuntun manusia bertumbuh sesuai kemampuan, sambil tetap menjaga ketulusan, kerendahan hati, dan kemanfaatan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. (Sumber: Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 185; Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah)

Narasi tersebut pada dasarnya mengandung satu gagasan penting, yaitu kesadaran bahwa kualitas keberagamaan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya amalan yang dilakukan, melainkan oleh keikhlasan, istiqamah, dan kesesuaian dengan tuntunan syariat. Dalam manhaj Tarjih Muhammadiyah, ibadah memang harus berdasarkan dalil yang sahih, namun pada saat yang sama Islam tidak menghendaki sikap berlebihan yang justru memberatkan diri sendiri.

Allah SWT berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

(Sumber: Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi landasan bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan yang bertanggung jawab, bukan kemudahan yang mengabaikan kewajiban. Karena itu, ketika seseorang berusaha menjaga shalat berjamaah, melaksanakan puasa sunnah sesuai kemampuan, bersedekah, berzakat, membaca Al-Qur’an, dan berbuat baik kepada tetangga, maka hal itu merupakan bentuk kesungguhan dalam beragama yang patut disyukuri, bukan diremehkan.

BERITA TERKAIT  Dari Birugo Menuju Persatuan Ulama Nasional

Dalam perspektif Tarjih Muhammadiyah, amal yang sedikit tetapi istiqamah lebih bernilai daripada amal besar yang hanya sesaat. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

(Sumber: Shahih Al-Bukhari No. 6464; Shahih Muslim No. 783)

Karena itu, sikap memilih amal-amal sunnah yang mampu dijaga secara konsisten merupakan pendekatan yang lebih realistis dan dekat dengan tuntunan Nabi daripada semangat sesaat yang berakhir dengan kelelahan spiritual.

Narasi tersebut juga mengandung pesan penting tentang rendah hati dalam beragama. Penulis tidak menampilkan dirinya sebagai orang yang paling saleh, paling sunnah, atau paling benar. Sikap ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

(Sumber: Al-Qur’an QS. An-Najm: 32)

Kerendahan hati merupakan salah satu ciri orang beriman. Sebab kesalehan sejati tidak lahir dari perasaan lebih baik daripada orang lain, melainkan dari kesadaran bahwa setiap manusia masih memiliki kekurangan di hadapan Allah SWT.

Pada sisi lain, narasi tersebut menonjolkan dimensi sosial Islam. Memberi makan tetangga, membantu masyarakat, kerja bakti membersihkan lingkungan, menjaga keamanan kampung, menjenguk orang sakit, takziah, dan membangun persaudaraan merupakan bentuk nyata dari dakwah bil-hal yang sangat ditekankan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.

BERITA TERKAIT  Meneladani Kecerdasan Hidrologi Agung Warisan Majapahit

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)

(Sumber: Al-Mu’jam Al-Awsath Ath-Thabrani)

Spirit Al-Ma’un yang menjadi salah satu fondasi gerakan Muhammadiyah sesungguhnya terletak pada keberpihakan kepada kemaslahatan sosial, bukan sekadar perdebatan simbolik yang tidak berujung.

Narasi tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan ijtihad. Menjalin hubungan baik dengan warga NU, Persis, Al-Irsyad, maupun kelompok dakwah lainnya merupakan bagian dari akhlak Islam selama tidak mengorbankan prinsip akidah dan keyakinan yang diyakini. Muhammadiyah sejak dahulu dikenal sebagai gerakan tajdid yang tegas dalam prinsip, namun santun dalam muamalah.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

(Sumber: Al-Qur’an QS. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan tidak mengharuskan keseragaman dalam seluruh persoalan furu’iyah. Perbedaan ijtihad dapat dikelola melalui dialog, saling menghormati, dan berlomba dalam kebaikan.

Meski demikian, dari perspektif Tarjih Muhammadiyah perlu diberikan beberapa catatan penting. Prinsip “Islam itu mudah” tidak boleh dipahami sebagai kebebasan memilih syariat berdasarkan selera semata. Kemudahan dalam Islam tetap berada dalam koridor dalil dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Setiap amalan hendaknya diupayakan memiliki landasan yang kuat agar semangat beragama tidak hanya didasarkan pada tradisi atau kebiasaan, tetapi juga pada ilmu yang benar.

BERITA TERKAIT  Monumen Cinta Itu Bernama Nurul Izzah

Allah SWT berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)

(Sumber: Al-Qur’an QS. An-Nahl: 43)

Karena itu, kegembiraan dalam beragama perlu berjalan beriringan dengan semangat menuntut ilmu, mengkaji dalil, dan memperbaiki kualitas ibadah dari waktu ke waktu.

Inti pesan narasi tersebut sangat relevan dengan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ber-Islam dengan gembira bukan berarti meremehkan agama, melainkan menjalankan syariat dengan hati yang lapang, penuh syukur, dan jauh dari sikap merasa paling benar. Ber-Muhammadiyah dengan lembut hati bukan berarti kehilangan prinsip, melainkan menghadirkan dakwah yang mencerahkan, memudahkan, mempersatukan, dan memberi manfaat bagi sesama. Inilah keberagamaan yang kokoh dalam akidah, benar dalam ibadah, luas dalam ukhuwah, serta nyata dalam amal kemanusiaan sebagaimana cita-cita Islam Berkemajuan yang terus diperjuangkan Muhammadiyah.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *