Aisyah, Suara Al-Quran Menembus Batas Dunia

banner 120x600

Empat tahun berlalu sejak suara Aisyah Nur Ramadhani menembus batas negara melalui layar. Pada usia 13 tahun, siswi asal Pekanbaru itu menjuarai MTQ Internasional Tijan An-Nour Qatar 2022 setelah bersaing dengan 51 peserta dari berbagai negara. Kini Aisyah telah duduk di kelas XII, tetapi Al-Qur’an tetap hadir dalam perjalanan pendidikan dan kehidupannya, menghubungkan prestasi masa lalu dengan hari ini kembali.

Pada 24 Februari 2022, Aisyah duduk di depan layar, bukan di panggung megah Qatar. Pandemi Covid-19 mengubah rencana keberangkatannya. Final Tijan An-Nour akhirnya digelar secara daring dan ditayangkan televisi Qatar. Beberapa jam kemudian, dewan juri menempatkan namanya di posisi pertama. Medcom.id pada 28 Februari 2022 mencatat Aisyah sebagai siswi kelas VIII MTsN 1 Andalan Pekanbaru yang baru berusia 13 tahun.

Kemenangan itu bukan datang tiba-tiba. Jejaknya sudah terlihat ketika Aisyah masih belajar di MIN 1 Pekanbaru. Pada MTQ XXXVIII Provinsi Riau 2019, ia menjadi juara pertama cabang tilawah anak-anak putri dengan nilai 96,5. Ia juga pernah meraih juara ketiga Musabaqah Syarhil Qur’an tingkat nasional di Jakarta. MIN 1 Pekanbaru pada 5 Desember 2019 mencatat pesan sederhana Aisyah tentang prestasi: rajin berlatih, ikhlas, dan tidak menjadikan hadiah sebagai tujuan.

BERITA TERKAIT  Tolak Akhmad Muzakki Jabat Rektor Dua Periode, Mahasiswa UINSA Segel Gedung Rektorat Kampus A Yani

Jalan menuju Qatar bahkan berlangsung berbulan-bulan. Aisyah lolos semifinal Tijan An-Nour pada Desember 2021. Seleksi kemudian mengerucut ke 15 besar, sembilan besar, hingga grand final yang menyisakan lima peserta. InfoPublik pada 26 Februari 2022 melaporkan Aisyah merupakan satu dari 10 wakil anak Indonesia yang mengikuti kompetisi internasional tersebut.

Pada malam pengumuman, Aisyah memperoleh nilai 95,67, tertinggi di antara finalis. Di belakangnya terdapat Ahmad Azfar Azrai dari Malaysia, Wafa Maulida Ulfa dari Jawa Barat, Zulfa Ayatul Husna dari Lampung, dan Muhammad Abu Bakar dari Pakistan. Kabarlah.com pada 25 Februari 2022 mencatat hasil tersebut berdasarkan pengumuman dewan juri.

Di titik inilah sebuah kabar baik perlu dijaga dari godaan melebih-lebihkan. Unggahan yang kembali beredar menyebut Aisyah “mengalahkan 51 negara”. Catatan pemberitaan sezaman menunjukkan rumusan yang lebih tepat: Aisyah menjadi yang terbaik setelah bersaing dengan 51 peserta dari berbagai negara. Medcom.id pada 28 Februari 2022 dan MTsN 1 Pekanbaru pada 26 Februari 2022 sama-sama mencatat jumlah peserta tersebut.

BERITA TERKAIT  Bantu Atasi Krisis Air Bersih, BNPM DPC Konang Salurkan Dropping Air untuk Ponpes Al-Hamidiyah Senasen Konang

Koreksi itu sama sekali tidak mengecilkan pencapaiannya. Justru fakta yang utuh membuat prestasi Aisyah lebih bermakna. Seorang anak berusia 13 tahun melewati proses seleksi internasional, bertahan hingga lima besar, lalu keluar sebagai juara dengan nilai tertinggi. Ia membuktikan bahwa prestasi besar tidak selalu lahir dari panggung yang gemerlap, tetapi dari latihan panjang yang sering tidak terlihat publik.

Empat tahun kemudian, kisah itu memperoleh babak baru. Pada 2 Maret 2026, Aisyah kembali melantunkan ayat suci dalam kegiatan penyerahan mushaf kepada siswa tahfiz MAN 2 Pekanbaru. Harian Times pada 5 Maret 2026 menyebutnya telah berada di kelas XII. Gelar internasional ternyata bukan titik akhir dari kedekatannya dengan Al-Qur’an.

Di situlah kisah Aisyah menjadi lebih besar daripada sebuah medali. Dari juara Riau hingga kompetisi internasional, dari anak berusia 13 tahun hingga pelajar kelas XII, ada benang yang tidak putus: ketekunan. Kisahnya juga mengajarkan bahwa kebanggaan tidak membutuhkan hiperbola. Aisyah tidak perlu disebut mengalahkan 51 negara untuk menjadi inspirasi. Fakta tentang perjalanan, kerja keras, dan prestasinya sudah cukup kuat untuk membuat Indonesia bangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *