Masa Depan Adalah Kesempatan

banner 120x600

Masa depan bukan sekadar waktu yang belum datang, melainkan ruang yang Allah sediakan bagi manusia untuk memilih, berikhtiar, belajar dari kesalahan, memperbaiki diri, dan menjemput kebaikan. Ketakutan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti, kelemahan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah, dan keberanian harus diarahkan oleh iman agar setiap langkah menjadi ibadah yang bernilai.

Ungkapan bahwa masa depan memiliki beberapa nama mengandung pelajaran yang dalam. Bagi orang yang lemah, masa depan tampak seperti sesuatu yang mustahil. Bagi orang yang takut, masa depan terasa sebagai sesuatu yang tidak diketahui dan mengancam. Namun bagi orang yang berani, masa depan dipandang sebagai kesempatan. Dalam pandangan Islam, keberanian bukan sekadar keberanian menghadapi ketidakpastian, tetapi keberanian untuk bertawakal kepada Allah setelah melakukan ikhtiar, keberanian meninggalkan kemalasan, keberanian memperbaiki kesalahan, dan keberanian berjalan menuju kebaikan meskipun hasil akhirnya belum diketahui.

Seorang mukmin tidak diperintahkan untuk mengetahui seluruh masa depannya. Manusia hanya diperintahkan untuk menjalani hari ini dengan iman, ilmu, amal saleh, ikhtiar, doa, dan tawakal. Allah berfirman dalam Surah Al Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang beriman harus memiliki pandangan ke depan. Ia tidak hidup tanpa arah. Ia memikirkan apa yang sedang dipersiapkan untuk “hari esok”. Masa depan dalam Islam bukan hanya persoalan karier, kekayaan, rumah, pendidikan, jabatan, atau kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan setelah kematian. Karena itu, manusia yang bijaksana tidak hanya bertanya, “Apa yang akan menjadi milikku kelak?” tetapi juga bertanya, “Apa yang telah aku siapkan untuk menghadap Allah?”

Masa depan duniawi memang tidak diketahui manusia. Akan tetapi, ketidaktahuan tersebut bukan alasan untuk berhenti berusaha. Allah berfirman dalam Surah Ar Ra’d ayat 11:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya: “Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Ayat tersebut memberikan dorongan untuk melakukan perubahan. Seseorang tidak seharusnya menunggu masa depan menjadi lebih baik tanpa memperbaiki dirinya. Jika ingin kehidupan berubah, maka ilmu harus ditambah, kebiasaan buruk harus ditinggalkan, tanggung jawab harus ditunaikan, hubungan dengan manusia harus diperbaiki, dan hubungan dengan Allah harus dikuatkan.

BERITA TERKAIT  ENAM BELAS UNDANG-UNDANG, MENGUJI KINERJA DPR

Namun ayat ini tidak boleh dipahami secara sederhana seolah olah manusia memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh hasil kehidupannya. Manusia memiliki kewajiban berikhtiar, sedangkan hasil berada dalam ketetapan Allah. Di sinilah tawakal menjadi penting. Ikhtiar tanpa tawakal dapat membuat seseorang sombong ketika berhasil dan hancur ketika gagal. Sebaliknya, tawakal tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan antara usaha, keteguhan, dan tawakal. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan demikian dan demikian,’ tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan,’ karena perkataan ‘seandainya’ membuka pekerjaan setan.”

Hadis ini sangat relevan dengan cara manusia memandang masa depan. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk pasif menghadapi kehidupan. Beliau memerintahkan agar manusia mengejar sesuatu yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah. Dengan demikian, keberanian dalam Islam bukan keberanian yang liar tanpa perhitungan, melainkan keberanian yang lahir dari iman dan diwujudkan melalui usaha yang benar.

Kegagalan pun tidak selalu berarti masa depan telah berakhir. Ada kegagalan yang justru menjadi jalan menuju kedewasaan. Ada kehilangan yang mengajarkan ketergantungan kepada Allah. Ada rencana yang tidak terwujud karena Allah mengarahkan manusia kepada sesuatu yang lebih baik. Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak boleh mengukur seluruh kehidupannya hanya dari keberhasilan yang tampak di mata manusia.

Allah berfirman dalam Surah Asy Syarh ayat 5 dan 6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Pengulangan ayat tersebut menguatkan hati manusia bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan. Seorang yang sedang berada dalam keadaan sulit tidak boleh menganggap dirinya telah kehilangan seluruh peluang. Selama hidup masih diberikan Allah, pintu untuk berubah, bertobat, belajar, berusaha, dan memperbaiki keadaan masih terbuka.

Bahkan ketika seseorang merasa dirinya telah terlalu jauh melakukan kesalahan, Islam tetap mengajarkan harapan. Allah berfirman dalam Surah Az Zumar ayat 53:

BERITA TERKAIT  Ketika Bantuan Hukum Menggugat Akar Ketidakadilan

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Ayat ini mengajarkan bahwa masa lalu tidak boleh dijadikan penjara yang menghalangi seseorang memperbaiki masa depan. Dosa harus disesali dan ditinggalkan, kesalahan harus diperbaiki, hak manusia harus dikembalikan, dan kehidupan harus diarahkan kembali kepada ketaatan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk membanggakan dosa, tetapi juga tidak mengajarkan manusia untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Karena itu, orang yang pernah gagal tidak perlu merasa bahwa dirinya pasti gagal selamanya. Orang yang pernah jatuh tidak harus terus berada di tanah. Orang yang pernah kehilangan arah masih dapat kembali menemukan jalan. Yang terpenting adalah tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti bergerak.

Allah juga mengingatkan bahwa manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada dirinya. Dalam Surah Luqman ayat 34 Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya ilmu tentang Hari Kiamat; Dia menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Ketidaktahuan manusia tentang hari esok seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan ketakutan yang melumpuhkan. Kita boleh menyusun rencana, tetapi tidak boleh menyembah rencana. Kita boleh memiliki cita-cita, tetapi tidak boleh menganggap cita-cita kita pasti menjadi kenyataan. Kita boleh bekerja keras, tetapi harus menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

Masa depan dengan demikian adalah wilayah ikhtiar sekaligus tawakal. Kita menanam hari ini karena kita berharap ada buah esok hari. Kita belajar hari ini karena kita berharap ilmu menjadi manfaat di kemudian hari. Kita memperbaiki akhlak hari ini karena kita berharap kehidupan menjadi lebih baik. Kita memperbanyak amal saleh hari ini karena kita sadar bahwa kematian dapat datang tanpa pemberitahuan.

Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Mulailah dari hal yang mampu dilakukan. Jika belum mampu melakukan banyak kebaikan, lakukan kebaikan yang sedikit tetapi konsisten. Jika belum mampu memperbaiki seluruh kehidupan, perbaiki satu bagian terlebih dahulu. Jika pernah jatuh dalam dosa, segera bertobat. Jika pernah gagal, pelajari sebabnya. Jika pernah kehilangan kesempatan, jangan biarkan kesempatan berikutnya berlalu dengan cara yang sama.

BERITA TERKAIT  Ucapan Di Internet Ada Konsekuensinya

Masa depan bukan milik orang yang tidak pernah takut. Masa depan lebih mungkin dibangun oleh orang yang mampu mengendalikan ketakutannya, lalu tetap melangkah dengan pertimbangan yang benar. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian berarti tidak membiarkan rasa takut menguasai seluruh keputusan.

Seorang mukmin harus memiliki harapan sekaligus kewaspadaan. Ia berharap kepada rahmat Allah, tetapi tidak meninggalkan amal. Ia takut kepada dosa, tetapi tidak berputus asa. Ia mengejar dunia, tetapi tidak mengorbankan akhirat. Ia menyusun rencana, tetapi menyerahkan hasil kepada Allah. Ia menghadapi ketidakpastian dengan doa, ilmu, ikhtiar, sabar, dan tawakal.

Pada akhirnya, masa depan bukan sekadar sesuatu yang menunggu untuk kita datangi. Masa depan sedang dibentuk oleh pilihan yang kita lakukan hari ini. Setiap waktu yang berlalu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali. Karena itu, jangan habiskan hari ini hanya dengan menyesali kemarin atau mencemaskan esok. Jadikan hari ini sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Jika masa depan bagi orang lemah adalah sesuatu yang mustahil, maka iman mengajarkan bahwa tidak ada alasan untuk menyerah kepada keputusasaan. Jika bagi orang takut masa depan adalah sesuatu yang tidak diketahui, maka tawakal mengajarkan bahwa kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk berani menapakinya. Dan jika bagi orang berani masa depan adalah kesempatan, maka bagi seorang mukmin masa depan adalah kesempatan untuk memperbanyak kebaikan, memperbaiki diri, menunaikan amanah, memberi manfaat kepada sesama, dan semakin dekat kepada Allah.

Yang belum terjadi tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Yang telah berlalu tidak perlu disesali tanpa akhir. Yang sedang terjadi harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Sebab manusia tidak memiliki hari esok sebagai miliknya, tetapi manusia memiliki kewajiban untuk menggunakan hari ini dengan benar.

Maka berdoalah, berusahalah, belajarlah, bertobatlah, bangkitlah, dan jangan menyerah. Bisa jadi jalan yang hari ini terasa berat justru sedang membawa kita menuju kedewasaan. Bisa jadi kegagalan yang hari ini membuat kita menangis sedang mengajarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh keberhasilan. Dan bisa jadi kesempatan yang kita tunggu ternyata tidak berada jauh di masa depan, melainkan sudah berada di depan mata: kesempatan untuk berubah menjadi hamba Allah yang lebih baik mulai hari ini.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *