Busernasional.my.id – Setiap manusia dilahirkan dengan perjalanan yang berbeda, amanah yang tidak sama, serta takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Namun, di tengah derasnya arus kehidupan, banyak orang justru kehilangan arah karena sibuk mengejar kehidupan orang lain. Padahal, kebahagiaan sejati tidak ditemukan saat menjadi seperti orang lain, melainkan ketika mengenali jati diri sebagai hamba Allah dan mensyukuri segala ketetapan-Nya dengan penuh keimanan.
Hampir setiap hari manusia disibukkan oleh berbagai aktivitas. Sejak mata terbuka hingga kembali terpejam, waktu dihabiskan untuk bekerja, belajar, mencari harta, mengejar jabatan, membangun citra, atau memperoleh pengakuan dari sesama. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak lalu bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya apa yang sedang kita kejar? Apakah semua itu benar-benar membawa kita semakin dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari tujuan penciptaan?
Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang penuh ujian. Jika hati tidak dipenuhi iman, manusia akan mudah terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah berakhir. Hari ini iri kepada tetangga, besok ingin seperti teman, lusa ingin memiliki kehidupan orang yang terlihat lebih bahagia. Akhirnya, hidup habis hanya untuk mengejar bayangan yang semu.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Thaha: 131)
Ayat ini mengajarkan agar kita tidak terus-menerus memandang kelebihan orang lain. Sebab apa yang tampak indah di mata manusia belum tentu menjadi kebaikan di sisi Allah. Bisa jadi kekayaan menjadi sebab kesombongan, jabatan menjadi jalan kehancuran, atau popularitas menjadi penyebab hilangnya keikhlasan.
Salah satu penyakit hati yang paling banyak merusak kebahagiaan adalah kebiasaan membandingkan diri. Ketika melihat orang lain berhasil, hati menjadi gelisah. Ketika melihat orang lain lebih kaya, diri merasa gagal. Ketika melihat orang lain lebih dihargai, muncul perasaan bahwa Allah tidak adil kepada dirinya. Padahal, ukuran kemuliaan seseorang tidak pernah ditentukan oleh dunia, melainkan oleh ketakwaannya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Sering kali kita memandang diri penuh kekurangan. Kita mengeluhkan wajah, tubuh, keluarga, pekerjaan, bahkan keadaan ekonomi. Lalu muncul pertanyaan dalam hati, mengapa Allah menciptakan diriku seperti ini?
Padahal, Allah adalah Al-Khaliq, Dzat Yang Maha Menciptakan dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang yang sempurna. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.
Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
Kesempurnaan yang dimaksud bukan berarti semua manusia memiliki wajah, harta, atau kemampuan yang sama, melainkan setiap orang diciptakan sesuai dengan hikmah yang Allah kehendaki. Apa yang kita anggap kekurangan bisa jadi justru menjadi jalan datangnya pertolongan Allah, membentuk kerendahan hati, menguatkan kesabaran, atau menjadi sebab tingginya derajat di akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Betapa menenteramkan hadis ini. Nilai seorang mukmin tidak diukur oleh penampilannya, melainkan oleh kebersihan hati, keikhlasan, serta amal salehnya.
Karena itu, jangan habiskan hidup dengan berharap menjadi orang lain. Allah tidak meminta kita menjadi siapa pun selain menjadi hamba-Nya yang terbaik sesuai kemampuan yang telah Dia anugerahkan. Setiap orang memiliki jalan ibadah, ujian, dan ladang amal yang berbeda.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu, janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Karena ucapan ‘seandainya’ membuka pintu godaan setan.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Kita diperintahkan bekerja keras, tetapi setelah itu menyerahkan hasilnya kepada Allah tanpa terus-menerus menyesali takdir yang telah berlalu.
Maka belajarlah mencintai jalan hidup yang Allah pilihkan. Jadikan setiap kelebihan sebagai sarana bersyukur dan setiap kekurangan sebagai jalan mendekat kepada-Nya. Jangan sibuk mengejar kehidupan orang lain hingga lupa membangun kehidupan sendiri. Sebab, di hadapan Allah nanti, yang ditanya bukan mengapa kita tidak menjadi orang lain, tetapi apakah kita telah menjadi hamba yang taat sesuai amanah yang diberikan kepada kita.
Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang qanaah, mata yang mampu melihat nikmat-Nya, jiwa yang ridha terhadap setiap ketetapan-Nya, serta langkah yang selalu berjalan di atas jalan yang diridhai-Nya hingga kelak dipanggil pulang dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.













