Oleh: Yusuf Blegur
PIDATO Bung Karno, mampu membakar semangat rakyat, namun pidato Bung Bowo membakar emosi rakyat. Begitulah seloroh netizen Nusantara.
Publik terus dipaksa bereaksi keras, terhadap kebanyakan pidato Bung Bowo. Berulang kali narasi yang disampaikan seorang presiden itu, menuai banyak respon negatif dari pada yang mana rakyatnya!
Mulai dari halusinasi, kebohongan dan dianggap melakukan fitnah, hingga yang relatif lebih lunak, menganggapnya sebagai presiden pikun. Prabowo seperti sedang berada dalam pusaran penghakiman dirinya, terutama di media sosial akibat lemahnya pengendalian kata-katanya sendiri.
Pidato kenegaraan Prabowo di gedung DPR/MPR RI pada Jumat 14 Agustus 2026, kembali memunculkan kehebohan di kalangan netizen. Saat Prabowo menyebut Ibu Susana, sebagai pengupas bawang dengan upah 700 ribu per kilo. Padahal, ibu Susana yang terdaftar sebagai penerima program PKH dan program sembako yang dihadirkan pada momen itu, aslinya adalah penjahit kain majun, atau kain perca alias potongan kain sisa bahan yang dimanfaatkan sebagai lap pembersih.
Penelusuran netizen atas pernyataan Prabowo itu, begitu dalam dan mendetail. Sampai kemudian, menemukan sosok ibu Susana yang ternyata cuma menerima upah sebesar 700 rupiah untuk setiap kilogram kain majun yang selesai dijahitnya. Bukan sebagai tukang kupas bawang, yang sebenarnya secara umum menerima upah sebesar 30 s/d 40 ribu/kilonya.
Fakta yang berbanding terbalik dengan pernyataan Prabowo itu, bukan hoaks karena dilansir oleh komdigi.co.id sebuah situs resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI. Ketidaksesuaian ucapan dan fakta yang kerap terjadi, saat Prabowo pidato, jika tidak mau disebut kebohongan yang terus menerus boleh jadi itu malahan menunjukkan kedangkalannya dalam memahami kehidupan jelata dari rakyatnya.
Beragam komentar terus membanjiri, pernyataan Prabowo tak terbatas hanya pada pidatonya semata. Saking seringnya salah ucap, tak sepantasnya dilontarkan dan juga dipenuhi kontroversi hingga tidak berdasarkan fakta. Lambat-laun menimbulkan asumsi, bahkan konklusi publik yang miring, skeptis, dan apriori terhadap Prabowo.
Sudah ada penilaian kritis, pada sosok presiden yang sarat beban sejarah dan dosa masa lalu itu. Mulai dari faktor umur yang kian uzur, penyakit yang terus menjangkit, hingga kondisi miris psikis akibat bertumpuknya masalah demi masalah dalam pengelolaan negara yang dipimpinnya. Bahkan penilaian khalayak ramai berkembang, bahwasanya kehadiran dan keberadaan Prabowo itu sendiri, juga sudah menjadi problem krusial dan kronis bagi rakyat, negara dan bangsa Indonesia.
Ada sedikit pembenaran atau upaya pemakluman, terutama dari kalangan abdi dalem, penjilat, dan buzzer pengerat berbayar. Namun banyak pula, yang tak lagi bisa menerima kebiasaan buruk pada pidato dan perilaku Prabowo sebagai presiden. Mimik ngenyek, gimik joget dan meledek menjulurkan lidah, serta gestur disertai aksi marah-marah sembari mengancam siapa saja di atas podium dan door stop. Membuat Prabowo terlihat, sudah tidak pantas dan tak selayaknya lagi sebagai presiden yang sejatinya harus dipenuhi kehormatan, kewibawaan dan lebih substansi memiliki kepercayaan dan dukungan rakyat.
Publik mengelus dada, dan netizen pun menggerutu. Entah harus tantrum, atau menjadikan presidennya sebagai badut yang penuh lelucon. Mimpi apa rakyat sebelumnya, sehingga sampai harus menanggung penderitaan karena memiliki pemimpin yang malah menjadi beban dan sumber masalah. Terlepas dari itu, yang jelas rakyat harus menerima apa adanya, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, selamat menikmati negara dengan kwalitas presiden seperti itu karena pilihannya sendiri.
Dari penjahit kain majun, ke pengupas bawang. Entah kepeleset lidah, entah saking piawainya pidato tanpa teks hingga kalimat yang keluar pun jadi sekata-katanya. Begitulah, hobi presiden yang tak bisa jauh dari mik atau podium. Bebas saja, mau ngomong dan bertingkah apapun. Toh sudah jadi presiden.
Asalkan kalau ngawur dan sudah bikin gaduh, jangan bilang semua ini karena Anies Baswedan yaa.. Oh iya, masih di forum yang sama, ada satu lagi yang fatal ketika pernyataan presiden menyuruh Citra seorang anak perempuan yang baru berumur 10 tahun untuk pacaran 10 tahun lagi. Sungguh super miris, di forum resmi kenegaraan. Ayo gas, ayo gas, ayo gas. Asyiknya sih, dijogetin aja !. (YB/FC)
Indonesia Buram,
3 Rabiul Awal 1448 H/16 Desember 2026.














