Cerpen  

Cerpen: Catatan Yang Tersimpan Setelah Senja Mereda

banner 120x600

Senja turun perlahan dan langit masih menyisakan warna jingga di ufuk barat. Cahaya lampu mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Di sebuah warung kopi kecil di ujung kampung, beberapa anak muda berkumpul menghabiskan malam sambil berbincang ringan. Namun bagi Yani, malam itu terasa berbeda. Sejak sebuah video muncul di layar ponselnya, dadanya mendadak sesak seperti dihimpit sesuatu yang lama terkubur.

Video itu menampilkan seorang ulama yang sedang menyampaikan doa di hadapan seorang pemimpin. Suaranya tenang, tetapi setiap kata terasa tajam. Ketika doa itu menyentuh soal amanah rakyat dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, suasana warung yang semula riuh perlahan berubah sunyi. Yani menatap layar tanpa berkedip. Jemarinya yang memegang gelas kopi bergetar pelan hingga sebagian kopi nyaris tumpah ke meja.

“Aku merinding dengarnya,” ujar Jaya sambil mengusap tengkuknya. Biasanya ia selalu punya bahan candaan untuk segala hal, tetapi kali ini wajahnya tampak serius. Ia memutar kursi sedikit mendekati meja dan kembali mendengarkan potongan video itu. Kalimat demi kalimat yang terdengar membuatnya menarik napas panjang.

Juri yang duduk di sampingnya mengangguk pelan. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan yang penuh manipulasi laporan dan tahu betul bagaimana rasanya hidup bersama kebohongan. Baginya, doa itu bukan sekadar kata kata. Doa itu seperti pengingat bahwa tidak ada amanah yang benar benar hilang dari catatan kehidupan.

“Kadang yang bikin takut bukan hukuman manusia,” katanya pelan. “Yang bikin takut itu saat kita tahu kita salah, lalu tetap memilih diam.” Kalimat itu meluncur begitu saja, tetapi terasa berat menggantung di udara. Yani menundukkan kepala setelah mendengarnya.

Di saku dompetnya tersimpan sebuah foto lama yang mulai pudar. Foto itu memperlihatkan dirinya bersama sang ayah di depan rumah sederhana mereka bertahun tahun lalu. Entah mengapa, malam itu wajah ayahnya terus muncul dalam ingatan. Ia teringat satu nasihat yang dulu sering diulang ketika masih remaja.

“Kalau dipercaya orang, jagalah kepercayaan itu lebih baik daripada menjaga uang.”

Dulu Yani menganggap nasihat itu biasa saja. Ia mengangguk lalu melupakannya. Namun kini kalimat yang sama terasa seperti gema yang terus berputar di kepalanya.

Obrolan di warung berlanjut ke berbagai cerita tentang amanah. Jaya bercerita tentang ayahnya yang bekerja puluhan tahun sebagai bendahara koperasi desa tanpa pernah mengambil satu rupiah pun yang bukan haknya. Juri menceritakan seorang mantan atasannya yang akhirnya dipenjara karena korupsi. Kisah demi kisah mengalir seperti jalan panjang yang membawa seseorang menuju tempat yang selama ini ingin dihindarinya.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Jemuran Yang Tak Pernah Benar Benar Pergi

Yani hanya mendengar. Sesekali ia tersenyum, tetapi pikirannya berada jauh di tempat lain. Ia sedang menatap sebuah masa lalu yang selama ini berusaha ia sembunyikan dari siapa pun.

Empat tahun sebelumnya, ia dipercaya menjadi ketua panitia pembangunan fasilitas umum di kampungnya. Dana yang terkumpul berasal dari sumbangan warga dan para perantau yang ingin membantu kampung halaman. Semua orang mempercayainya karena ia dikenal aktif, rajin, dan bertanggung jawab. Kepercayaan itu membuatnya bangga sekaligus merasa dihormati.

Awalnya semua berjalan baik. Pembangunan berlangsung sesuai rencana dan laporan keuangan terlihat rapi. Namun di tengah proses itu, ibunya jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Tabungan Yani tidak cukup, sementara waktu terus berjalan.

Pada malam yang penuh kebingungan, ia membuka buku kas panitia dan menatap angka angka yang tersimpan di dalamnya. Niat awalnya sederhana. Ia hanya ingin meminjam sebagian dana dan mengembalikannya setelah keadaan membaik. Tidak ada seorang pun yang akan tahu.

Tetapi hidup sering kali tidak berjalan sesuai niat awal. Setelah mengambil sejumlah uang, muncul kebutuhan lain yang mendesak. Kemudian kebutuhan berikutnya. Sedikit demi sedikit jumlah yang diambil bertambah besar. Ketika pembangunan selesai, laporan keuangan masih tampak normal, tetapi ada selisih yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Sejak hari itu, Yani hidup bersama rahasia yang tidak pernah benar benar pergi. Setiap kali melihat bangunan hasil proyek tersebut, hatinya terasa tidak nyaman. Setiap kali mendengar orang memujinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, ia justru merasa semakin kecil.

Bahkan ada malam malam ketika ia terbangun mendadak karena mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia berdiri sendirian di sebuah lapangan luas sambil membawa buku kas yang halaman halamannya beterbangan diterpa angin. Tidak ada seorang pun di sana, tetapi ia merasa sedang diadili.

Di luar warung, lalu lintas malam berjalan tenang. Sesekali kendaraan melintas dan cahaya lampunya menyapu jalanan yang mulai lengang. Yani memandangi suasana itu lama sekali. Ada perasaan aneh yang tumbuh dalam dirinya.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Langkah Sunyi Seorang Pencari Harapan

“Apa yang kalian lakukan kalau pernah mengkhianati amanah seseorang?” tanyanya tiba tiba.

Jaya dan Juri saling pandang. Mereka tidak menyangka pertanyaan itu muncul dari Yani yang selama ini dikenal paling tenang di antara mereka.

“Kalau masih bisa diperbaiki, ya diperbaiki,” jawab Jaya. “Kalau harus mengaku, ya mengaku. Berat memang, tapi lebih berat kalau dibawa terus.”

Juri mengangguk setuju. “Kesalahan tidak selalu bisa dihapus. Tapi tanggung jawab bisa dimulai kapan saja.”

Jawaban itu membuat Yani terdiam. Ia merasa seperti sedang berdiri di depan sebuah pintu yang selama bertahun tahun tidak berani dibukanya. Di balik pintu itu ada rasa malu, ketakutan, dan kemungkinan kehilangan penghormatan dari banyak orang.

Tak lama kemudian ia berdiri dan berjalan ke area parkir. Udara malam terasa sejuk. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya.

Tangannya gemetar ketika memasukkan nominal transfer. Jumlah yang ia kirim jauh lebih besar daripada uang yang dulu pernah diambilnya. Setelah transaksi berhasil, ia memejamkan mata beberapa saat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia merasa dadanya sedikit lebih ringan.

Namun ia tahu itu belum cukup.

Keesokan pagi, langit tampak cerah dan matahari bersinar lembut dari balik pepohonan. Jalanan kampung mulai ramai oleh aktivitas warga yang memulai hari. Yani berjalan menuju rumah ketua RT dengan langkah yang terasa berat. Ia sudah memutuskan untuk mengakui semuanya.

Di ruang tamu yang sederhana, ia menceritakan seluruh kejadian tanpa menyisakan apa pun. Setiap kesalahan, setiap alasan, dan setiap penyesalan ia ungkapkan apa adanya. Setelah selesai berbicara, ia menundukkan kepala dan menunggu.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Ketua RT tidak marah. Ia juga tidak tampak terkejut. Wajahnya justru menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak.

“Yani,” katanya perlahan, “sebenarnya ada sesuatu yang perlu kamu ketahui.”

Ia lalu berdiri, membuka lemari kayu tua, dan mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat. Map itu tampak usang, seolah sudah lama disimpan. Ketika dibuka, terlihat sejumlah dokumen dan laporan yang disusun rapi.

Yani mulai membaca halaman demi halaman. Semakin lama matanya semakin membesar. Ternyata selisih dana yang selama ini ia sembunyikan telah ditemukan sejak lama melalui audit internal kampung. Beberapa tokoh masyarakat sudah mengetahui semuanya bertahun tahun sebelumnya.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Jemuran Yang Tak Pernah Benar Benar Pergi

Tubuhnya terasa lemas.

“Lalu kenapa tidak ada yang menegur saya?” tanyanya dengan suara nyaris berbisik.

Ketua RT menarik napas panjang sebelum menjawab. “Karena ada seseorang yang meminta kami menunggu.”

Jantung Yani berdegup lebih cepat.

Ketua RT menunjuk sebuah lembar terakhir di dalam map itu.

Ketika membaca nama yang tertulis di sana, dunia seakan berhenti bergerak.

Nama itu adalah nama ayahnya.

Tangannya bergetar hebat. Ia membaca ulang berkali kali untuk memastikan bahwa matanya tidak salah melihat. Namun nama itu tetap sama. Nama yang selama ini hanya hidup dalam kenangan ternyata tersimpan di dalam dokumen tersebut.

Di bagian bawah halaman terdapat catatan tulisan tangan yang sudah sedikit memudar dimakan usia.

“Aku tidak ingin anakku dihukum oleh manusia sebelum ia belajar menghukum dirinya sendiri. Jika suatu hari ia datang mengaku, berarti hatinya masih hidup.”

Air mata Yani jatuh tanpa mampu ditahan. Ia baru menyadari bahwa ayahnya telah mengetahui semuanya jauh sebelum meninggal tiga tahun lalu. Lelaki yang paling ia hormati ternyata memikul rahasia itu sendirian tanpa pernah mempermalukannya di depan siapa pun.

Di luar rumah, sinar matahari pagi semakin terang. Cahaya keemasan menyentuh halaman dan dedaunan yang bergerak perlahan tertiup angin. Yani memandang langit yang bersih dengan mata basah.

Saat itulah ia benar benar memahami makna doa yang didengarnya malam sebelumnya. Yang membuat seseorang merinding bukan semata ancaman hukuman atau beratnya siksaan. Yang paling menggetarkan adalah kenyataan bahwa setiap amanah akan selalu menemukan jalannya untuk meminta pertanggungjawaban.

Dan yang paling mengejutkan, orang yang pertama kali menjadi saksi atas pengkhianatan itu ternyata bukan masyarakat, bukan aparat, bukan pula para tokoh kampung.

Melainkan ayahnya sendiri, yang telah lama tiada, tetapi tetap menunggu anaknya pulang kepada kejujuran.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *