Cerpen  

Cerpen: SEBUAH DOMPET HILANG UJI KEMANUSIAAN HARI

banner 120x600

Sore itu perjalanan pulang suamiku seperti biasa, melewati jalan yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Di tepi jalan ia menemukan sebuah dompet kulit yang terlihat masih cukup baik kondisinya. Ia berhenti sejenak lalu mengambilnya karena khawatir pemiliknya akan kesulitan mencarinya. Di dalam rumah, kami kemudian membuka dompet itu untuk mencari identitas pemiliknya dan menemukan beberapa kartu penting serta sejumlah uang tunai.

Kami tidak menghitung uangnya dan tidak juga memikirkan nilainya secara rinci. Fokus kami hanya satu, yaitu mencari alamat yang bisa dituju agar dompet itu segera kembali ke pemiliknya. Setelah memastikan alamat pada kartu identitas, suamiku memutuskan untuk mengantarkannya langsung. Ia sempat mandi dan makan terlebih dahulu sebelum kami berangkat bersama membawa anak anak. Kami menganggap perjalanan itu sekaligus sebagai kesempatan untuk keluar rumah sejenak di sore hari.

Perjalanan menuju alamat tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak ada nomor rumah yang jelas sehingga kami harus bertanya dari satu warga ke warga lain. Jalanan kampung itu cukup panjang dan membuat kami beberapa kali salah arah. Kami berhenti berkali kali hanya untuk memastikan bahwa kami tidak tersesat. Sampai akhirnya seorang warga menunjukkan arah yang lebih pasti menuju sebuah gang kecil.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Botol Sambal dan Arti Sebuah Aman

Di ujung gang kami menemukan rumah yang dimaksud. Seorang perempuan muda menyambut kami di depan rumah dan setelah kami menjelaskan maksud kedatangan, ia memanggil ayahnya. Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya keluar dan kami menyerahkan dompet tersebut kepadanya. Ia memeriksa sekilas lalu mengucapkan terima kasih dengan nada yang singkat. Tidak ada percakapan panjang karena kami pun merasa tugas kami sudah selesai.

Kami kemudian berpamitan untuk pulang. Suamiku mulai memutar arah motor di halaman depan rumah itu sementara anak kami duduk di bagian depan. Saat itulah kejadian kecil yang tidak terduga terjadi. Permukaan tanah di depan rumah ternyata sedikit miring dan membuat motor kehilangan keseimbangan ketika kaki suamiku salah menapak. Motor itu terjatuh pelan ke samping dan anak kami ikut terjatuh bersama.

Aku langsung panik melihat anak kami yang masih memiliki luka di bagian kepala. Aku segera menghampirinya dan memastikan keadaannya baik baik saja. Syukurlah tidak ada cedera serius karena motor belum sempat berjalan atau dinyalakan. Suamiku segera berdiri dan membantu mengangkat motor kembali. Suasana menjadi tegang sesaat karena kejadian itu berlangsung sangat cepat.

BERITA TERKAIT  Cerpen:Sol Sepatu Pada Hari Terakhirnya

Yang membuatku terdiam adalah reaksi orang orang di depan rumah tersebut. Mereka hanya berdiri di tempat tanpa mendekat atau membantu. Bahkan setelah kejadian itu berlalu, tidak ada pertanyaan atau langkah untuk memastikan kami baik baik saja. Sang bapak hanya sempat bertanya dari kejauhan dengan suara singkat lalu kembali diam. Kami memilih tidak memperpanjang keadaan dan tetap berpamitan dengan sopan sebelum benar benar meninggalkan tempat itu.

Di perjalanan pulang kami berhenti sebentar di warung untuk menenangkan diri. Suamiku terlihat masih sedikit gemetar karena kejadian tadi. Aku sendiri masih memikirkan situasi yang baru saja kami alami. Bukan soal tidak adanya imbalan atau ucapan khusus, tetapi lebih pada sikap yang terasa sangat dingin di momen ketika seseorang sedang membutuhkan perhatian sederhana. Kami hanya berbicara sedikit sambil mencoba meredakan perasaan masing masing.

Hari hari setelahnya kejadian itu masih sesekali terlintas di pikiranku. Aku menyadari bahwa setiap orang bisa merespons situasi dengan cara yang berbeda. Ada yang sigap membantu dan ada yang justru membeku dalam kebingungan. Mungkin kami terlalu cepat menilai keadaan saat itu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan orang lain di depan rumah tersebut. Yang tersisa akhirnya bukan rasa kesal, melainkan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya manusia saling hadir di momen kecil seperti itu.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Botol Sambal dan Arti Sebuah Aman

Sejak hari itu aku belajar bahwa kebaikan tidak selalu kembali dalam bentuk yang kita harapkan. Mengembalikan dompet itu memang hal yang benar untuk dilakukan tanpa perlu mengharapkan balasan. Namun pengalaman singkat di depan rumah itu mengingatkanku bahwa empati sering kali hadir atau tidak hadir dalam cara yang sangat sederhana. Dan kadang yang paling sulit bukanlah berbuat baik, melainkan menerima bahwa tidak semua orang akan merespons kebaikan dengan cara yang sama.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *