BuserNasional.my.id // Setiap manusia pasti pernah mengalami masa ketika hati terasa berat, pikiran dipenuhi kegelisahan, dan langkah seolah kehilangan arah. Bahkan orang-orang pilihan Allah pun pernah merasakan kesedihan yang mendalam. Karena itu, tidak sepantasnya kita memandang rendah seseorang yang sedang terpuruk. Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa kasih sayang, penghiburan, kelembutan, dan harapan adalah pintu pertama untuk membangkitkan jiwa sebelum memberikan nasihat dan tuntunan agar kembali kuat menjalani kehidupan.
Islam adalah agama rahmat yang memahami tabiat manusia. Allah menciptakan manusia dengan hati yang dapat merasakan bahagia, sedih, takut, cemas, bahkan putus asa apabila tidak memperoleh pertolongan-Nya. Oleh sebab itu, Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan para nabi dan hamba-hamba pilihan sebagai manusia tanpa emosi. Sebaliknya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa mereka pun pernah diuji dengan kesedihan yang luar biasa. Namun, pada setiap ujian itu, Allah selalu hadir dengan kasih sayang-Nya, menguatkan hati mereka, memberikan jalan keluar, dan menanamkan harapan agar mereka kembali bangkit.
Ketika Rasulullah ﷺ mengalami masa terhentinya wahyu sehingga beliau menghadapi ejekan dan cercaan kaum musyrikin, mereka mengatakan bahwa Tuhannya telah meninggalkannya. Dalam keadaan itulah Allah menurunkan Surah Ad-Duha sebagai penghibur hati Nabi.
﴿وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ﴾
Artinya:
“Demi waktu duha. Demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu. Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia kepadamu sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Ad-Duha: 1-5).
Perhatikanlah bagaimana Allah menghibur Rasul-Nya. Tidak ada celaan, tidak ada tuduhan bahwa beliau kurang ibadah atau kurang sabar. Allah justru menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan Nabi-Nya. Setelah hati beliau diteguhkan, barulah Allah mengingatkan berbagai nikmat yang telah diberikan dan memerintahkan beliau agar terus berbuat baik kepada sesama.
Demikian pula kisah Maryam binti Imran ketika menghadapi persalinan seorang diri. Beban fisik, tekanan batin, dan pandangan masyarakat membuat beliau berkata sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an.
﴿فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا﴾
Artinya:
“Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dia berkata, ‘Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi, dilupakan.'” (QS. Maryam: 23).
Ungkapan itu menunjukkan betapa berat beban yang sedang dipikul Maryam. Namun, Allah tidak mencela beliau. Allah justru menenangkan, menghibur, dan memenuhi kebutuhan beliau.
﴿فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا﴾
Artinya:
“Maka dia dipanggil dari tempat yang rendah di sisinya, ‘Janganlah engkau bersedih hati. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makanlah, minumlah, dan bersenanghatilah.'” (QS. Maryam: 24-26).
Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa perhatian terhadap kondisi fisik dan psikologis seseorang merupakan bagian dari kasih sayang Allah. Maryam diminta makan, minum, dan menenangkan hati. Kebutuhan jasmani tidak dipisahkan dari kebutuhan rohani. Tubuh yang lemah perlu dikuatkan, hati yang terluka perlu dihibur, dan jiwa yang gelisah perlu ditenangkan.
Rasulullah ﷺ juga mencontohkan sikap penuh kasih terhadap orang yang sedang mengalami kesedihan. Beliau bersabda:
«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
Artinya:
“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesusahan di dunia, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa menghibur orang yang sedang susah merupakan amal yang sangat dicintai Allah. Seorang mukmin bukanlah orang yang menambah luka saudaranya dengan kata-kata yang menyakitkan, melainkan menjadi penyejuk hati yang menghadirkan harapan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
Artinya:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah siapa pun yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Karena itu, ketika kita bertemu seseorang yang sedang depresi, cemas, atau kehilangan semangat hidup, jangan terburu-buru menghakimi bahwa ia kurang iman atau kurang ibadah. Bisa jadi ia telah berjuang sekuat tenaga, tetapi beban hidup yang dipikulnya sangat berat. Yang pertama ia butuhkan adalah telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami, tangan yang siap menolong, dan lisan yang menguatkan. Setelah hatinya tenang, nasihat akan lebih mudah diterima.
Tentu saja, ibadah tetap merupakan sumber kekuatan bagi seorang mukmin. Namun, menyampaikan ajakan beribadah harus dilakukan dengan hikmah, kasih sayang, dan kelembutan, sebagaimana Allah memperlakukan para nabi-Nya. Mengingatkan tanpa empati hanya akan menambah beban, sedangkan mengingatkan dengan kasih sayang akan membuka pintu hidayah.
Marilah kita meneladani cara Allah mendidik hamba-hamba-Nya dan cara Rasulullah ﷺ memperlakukan umatnya. Jadilah pribadi yang menghadirkan ketenangan, bukan ketakutan; menghadirkan harapan, bukan keputusasaan; menghadirkan kasih sayang, bukan celaan. Sebab, rahmat Allah selalu lebih dahulu menyapa hamba-Nya sebelum tuntunan demi tuntunan mengantarkannya menuju kemuliaan. Siapa pun yang hari ini sedang bersedih hendaknya yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang beriman. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan, setelah air mata akan datang senyum, dan bersama setiap ujian selalu ada kasih sayang Allah yang tidak pernah putus bagi orang-orang yang berharap hanya kepada-Nya.














