Sudah tiga bulan aku kehilangan pekerjaan. Tabungan yang dulu terasa cukup kini semakin menipis, sementara tagihan terus berdatangan tanpa peduli keadaan. Hampir setiap pagi aku duduk di teras rumah memandangi jalanan kompleks dengan pikiran yang dipenuhi kecemasan. Aku mulai mudah tersinggung dan semakin sering menghitung segala sesuatu berdasarkan untung rugi. Dalam kondisi seperti itu, aku merasa dunia tidak pernah benar benar adil.
Pagi itu langit tampak cerah dengan sinar matahari yang lembut menyusup di sela pepohonan. Udara masih sejuk dan jalanan belum terlalu ramai oleh aktivitas warga. Aku sedang membersihkan rak sepatu ketika melihat seorang tukang sol sepatu tua berjalan perlahan sambil memanggul kotak kayu yang tampak berat. Langkahnya tidak lagi tegap, namun wajahnya menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan. Entah mengapa, aku langsung memanggilnya ketika ia melewati pagar rumah.
Sepasang sepatu kulit milikku memang sudah lama rusak. Bagian solnya mulai menganga dan tidak nyaman digunakan. Lelaki tua itu tersenyum lalu masuk ke halaman rumah dengan langkah hati hati. Ia memeriksa sepatu tersebut sambil mengangguk pelan, seolah memahami pekerjaan yang akan dikerjakannya. Dari dekat, aku bisa melihat guratan usia yang begitu jelas di wajahnya.
Belum sempat ia membuka peralatannya, seorang tukang sol sepatu lain datang dari arah ujung jalan. Usianya jauh lebih muda dan wajahnya tampak lelah seperti seseorang yang telah berjalan cukup jauh. Ia melirik ke arah kami lalu menghentikan langkahnya beberapa meter dari pagar rumah. Aku mengira lelaki tua itu akan segera memulai pekerjaannya sebelum orang lain merebut pelanggan yang sudah ada di depan mata.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Lelaki tua itu memanggil tukang sol yang lebih muda tersebut dan mengajaknya mendekat. Setelah berbincang beberapa saat, ia menyerahkan pekerjaan memperbaiki sepatuku kepada orang itu. Aku yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa mengernyitkan dahi karena tidak memahami maksudnya. Bukankah pekerjaan itu seharusnya menjadi miliknya?
“Apa tidak apa apa, Pak?” tanyaku. “Saya tadi memanggil Bapak, bukan beliau.”
Lelaki tua itu tersenyum hangat. Ia lalu duduk di kursi teras sambil meletakkan kotak kayunya di samping kaki. Dengan suara tenang ia berkata bahwa temannya itu belum mendapatkan pekerjaan sejak pagi. Ia menambahkan bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar dan tidak akan berkurang hanya karena dibagikan kepada orang lain. Kalimat sederhana itu membuatku terdiam lebih lama daripada yang kuduga.
Aku memperhatikan tukang sol yang lebih muda mulai bekerja dengan teliti. Tangannya bergerak cepat memperbaiki bagian yang rusak pada sepatuku. Sementara itu lelaki tua tersebut hanya duduk menikmati segelas air putih yang kuberikan. Tidak ada sedikit pun penyesalan atau rasa kehilangan di wajahnya. Yang terlihat justru kebahagiaan karena seseorang memperoleh kesempatan mencari nafkah.
Pemandangan itu terasa mengganggu pikiranku. Selama berbulan bulan aku sibuk mengkhawatirkan masa depan dan takut kehilangan kesempatan sekecil apa pun. Aku bahkan pernah bertengkar dengan sahabat sendiri karena persoalan pekerjaan yang sebenarnya sepele. Kini, di hadapanku duduk seorang lelaki yang hidup dalam keterbatasan tetapi mampu melepaskan penghasilan dengan begitu ringan. Perbandingan itu membuatku merasa malu terhadap diriku sendiri.
Setelah pekerjaan selesai, aku membayar ongkos perbaikan dan memberikan sedikit tambahan uang kepada tukang sol yang lebih muda. Ketika hendak memberikan sejumlah uang kepada lelaki tua tersebut sebagai tanda terima kasih, ia menolak dengan halus. Ia berkata bahwa hari itu cukup baginya melihat temannya mendapat pelanggan pertama. Senyum yang mengiringi ucapannya terasa tulus dan tanpa beban.
Sebelum pergi, lelaki tua itu berdiri dan memandangku beberapa saat. Tatapannya tenang, bahkan terasa meneduhkan. Ia kemudian berkata bahwa manusia sering lelah mengejar apa yang belum tentu menjadi miliknya, sementara lupa mensyukuri apa yang sudah ada di tangannya. Setelah mengucapkan salam, ia melangkah meninggalkan rumahku bersama temannya. Aku memandangi punggungnya hingga menghilang di tikungan jalan.
Malam harinya aku masih memikirkan pertemuan itu. Saat membereskan rak buku peninggalan ayah, aku menemukan sebuah kitab lama yang pernah sering dibacanya. Di dalamnya terdapat kisah tentang tiga ulama saleh yang sedang berbincang mengenai kehidupan dan kematian. Aku membacanya perlahan sambil menikmati suasana malam yang sunyi.
Dalam kisah itu, Sufyan ats Tsauri mengungkapkan kekhawatirannya terhadap fitnah yang dapat menyesatkan manusia. Yusuf bin Asbath memiliki pandangan berbeda karena berharap usia panjang agar bisa memperbanyak amal saleh. Ketika pendapat Wuhaib bin al Ward diminta, jawabannya jauh lebih sederhana. Ia berkata bahwa dirinya mencintai apa yang dicintai Allah dan menerima apa pun yang dipilihkan untuknya.
Aku menutup kitab itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Entah mengapa wajah tukang sol sepatu tua kembali terlintas di benakku. Ada kesamaan yang samar antara dirinya dan kisah yang baru saja kubaca. Keduanya memperlihatkan ketenangan yang lahir dari kepasrahan kepada kehendak Allah. Mereka tidak tampak sibuk mempertahankan sesuatu yang fana.
Keesokan paginya aku keluar rumah lebih awal. Aku berniat mencari lelaki tua itu untuk sekadar berbincang atau mungkin membantunya. Ada banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan, terutama tentang bagaimana seseorang bisa hidup setenang dirinya. Namun setelah menunggu cukup lama, sosok yang kucari tidak pernah muncul di sepanjang jalan kompleks.
Aku mulai bertanya kepada para pedagang dan warga sekitar. Beberapa orang mengenali ciri cirinya dan mengaku pernah bertemu dengannya. Dari percakapan itu aku mengetahui bahwa ia memang sering membantu sesama tukang sol yang lebih muda. Banyak orang mengenalnya sebagai pribadi yang ringan tangan dan tidak pernah pelit berbagi pekerjaan.
Pencarianku membawaku ke sebuah warung kecil dekat pasar. Pemilik warung itu tampak mengenal lelaki yang kucari ketika aku menjelaskan ciri cirinya. Namun ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi muram. Ia memandangku cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pelan.
“Lelaki itu sudah meninggal,” katanya lirih. “Beliau wafat kemarin pagi karena serangan jantung saat beristirahat di musala dekat pasar.”
Aku merasa seperti kehilangan pijakan. Jantungku berdetak lebih cepat dan tenggorokanku mendadak kering. Dengan suara bergetar aku mengatakan bahwa kemarin pagi aku baru saja berbincang dengannya cukup lama di rumah. Perempuan itu terlihat bingung mendengar ucapanku.
Ia lalu menunjukkan salinan pengumuman kematian yang ditempel di dinding warung. Tanggal dan waktunya membuat tubuhku merinding. Menurut catatan itu, lelaki tua tersebut dinyatakan meninggal sekitar pukul sembilan pagi. Pada jam yang hampir sama, ia sedang duduk di terasku, tersenyum, dan menyerahkan pekerjaannya kepada orang lain.
Aku pulang dengan pikiran yang kacau. Berkali kali aku mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Namun semakin kupikirkan, semakin sulit semuanya dipahami. Yang paling jelas dalam ingatanku bukanlah misteri kematiannya, melainkan ketulusan yang ia tunjukkan pada hari itu.
Malamnya aku mengambil sepatu yang telah diperbaiki lalu membersihkannya sebelum disimpan. Saat membalik bagian dalam sol, aku menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kusadari. Terselip secarik kertas kecil yang terlipat rapi di sela lapisan kulit sepatu. Dengan tangan gemetar aku membukanya perlahan.
Di atas kertas itu hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta biru yang mulai memudar.
“Rezekimu bukan yang kau genggam, melainkan yang kau ikhlaskan.”
Aku terdiam cukup lama memandangi tulisan tersebut. Tidak ada nama, tidak ada penjelasan, dan tidak ada cara untuk mengetahui siapa yang menuliskannya. Namun untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan, dadaku terasa jauh lebih ringan. Sejak malam itu aku memahami bahwa ketenangan bukan datang ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati mampu menerima pilihan Allah dengan lapang. Dan pelajaran terbesar dalam hidupku justru datang dari seorang tukang sol sepatu yang mungkin telah menunaikan kebaikan terakhirnya sebelum pulang menghadap Sang Pencipta.













