Oleh: FC-Goest
BELAKANGAN ini, diwilayah Kota Depok, Jawa Barat, ada satu kalimat yang sering terlontar dari mulut para lurah.
“Kelurahan sudah tidak punya kegiatan,” ujar Irwan , Lurah Ratujaya, Kecamatan Cipayung, saat di temui di kantornya, Kamis (23/7-26).
Kalimat itu muncul, tidak cuma dari Lurah Ratujaya. Tapi juga, dari beberapa Lurah dan Kasi Ekbang sejak berjalannya kebijakan Walikota Depok terkait program dana Rp 300 juta per RW.
Dana itu besar, dan efeknya langsung terasa. Titik kegiatan pun pindah. Dulu musyawarah, pelatihan, lomba, perbaikan lingkungan dikomandoi kelurahan. Sekarang semua ada di RW dan pokmas.
Disatu sisi, ini seperti suatu kemajuan. Pengambilan keputusan, jadi lebih dekat ke warga. Pasalnya, RW memang paling tahu mana jalan yang banjir duluan, mana posyandu yang butuh timbangan, mana gang yang lampunya mati. Uang turun, eksekusi tentu seharusnya cepat.
Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan penting: “lalu kelurahan mau jadi apa?!”
Jangan sampai akhirnya, kelurahan berubah jadi kantor administrasi yang hanya cap-stempel. Fungsi pembinaan, pengawasan, dan penguatan kapasitas RW justru harus diperkuat. Karena tidak semua RW, punya bendahara yang paham pembukuan. Tidak semua pokmas, paham aturan pengadaan.
Dana Rp 300 juta tanpa pendampingan, bisa jadi bumerang. Rawan konflik internal, rawan miskelola, rawan terjadi penyimpangan dan rawan jadi proyek bancakan.
Pemerintah kota, harus jujur melihat ini. Tujuan desentralisasi anggaran, boleh jadi bagus, yakni: ‘memberdayakan’. Tapi pemberdayaan tanpa penguatan kelembagaan, itu sama saja dengan melempar tanggung jawab.
Para RW, butuh pelatihan. Pokmas, butuh audit. Kelurahan, butuh peran baru: bukan sekedar cuma sebagai fasilitator, pembina, dan pengawas, namun harus tetap dalam tupoksinya sendiri sebagai kepanjangan dari pemerintahan kota.
Sebab pada akhirnya, tujuan dana ini bukan hanya membuat para RW sibuk. Tujuannya tentu, untuk membuat Depok lebih baik.
Jangan sampai 5 tahun lagi kita mendengar kalimat baru: “Dana sudah habis, RW bingung, warga kecewa!”
Kota Depok, memang butuh para RW yang kuat. Tapi juga, butuh kelurahan yang tidak kosong !. (®)
FC-Goest / Inisiator Forum Wartawan Investigasi Nusantara (For-WIN)














