Jejak Sunyi Di Balik Wasiat Senja

banner 120x600

BuserNasional.my.id // Senja turun perlahan di halaman rumah tua itu, menyisakan semburat jingga yang menempel pada batang pohon mangga di sudut pekarangan. Purwanto duduk di beranda sambil memandangi buku catatan peninggalan ayahnya yang tergeletak di atas meja kayu, seolah benda itu menyimpan jawaban atas kegelisahan yang tak kunjung menemukan jalan pulang. Sejak sore tadi pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang masa depan sebidang tanah warisan keluarga, tanah yang selama bertahun tahun dibiarkan kosong dan kini menjadi penentu arah hidupnya. Di kejauhan terdengar suara azan magrib bersahutan dengan desir angin yang menyusup lewat celah dinding papan.

Ia membuka buku itu perlahan, membiarkan jari jemarinya menyentuh lembar lembar kusam yang telah lama tak disentuh. Aroma kertas tua bercampur samar dengan bau tembakau yang dulu selalu melekat pada tubuh ayahnya. Pada salah satu halaman, matanya tertumbuk pada tiga kalimat yang ditulis rapi dengan tinta hitam. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung tekanan yang terasa begitu hidup.

Janganlah engkau melibatkan orang yang kikir dalam urusan keputusan, karena ia akan mempersempit langkahmu. Janganlah engkau melibatkan orang yang penakut, karena ia akan menakut nakutimu dengan sesuatu yang tak perlu ditakuti. Dan janganlah engkau menyertakan orang yang tamak, karena ia akan menjanjikan sesuatu yang belum tentu dapat terwujud.

Purwanto membaca ulang kalimat itu beberapa kali. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ia memang belum pernah benar benar berani membuka seluruh isi buku tersebut. Malam itu entah mengapa ia merasa seperti sedang dipanggil untuk memahami sesuatu yang selama ini terlewatkan. Kata kata itu seperti mengetuk bagian terdalam dalam dirinya, mengingatkannya pada satu keputusan besar yang harus diambil sebelum akhir pekan.

Tanah warisan keluarga di tepi jalan raya akan segera dikenai peninjauan status oleh pemerintah daerah. Jika tak segera difungsikan, tanah itu berisiko dialihkan untuk kepentingan pembangunan komersial. Selama berbulan bulan Purwanto memikirkan cara agar tanah itu tetap menjadi milik keluarga, sekaligus berguna bagi warga kampung. Mimpi membangun perpustakaan kecil bagi anak anak desa terus hidup dalam benaknya, seperti bara yang tak pernah benar benar padam sejak ayahnya masih ada.

BERITA TERKAIT  Simulasi Malam Paling Sunyi Negara

Ayahnya dulu seorang guru sederhana yang percaya bahwa buku dapat mengubah nasib seseorang. Di rumah itu, setiap malam ia mengajar anak anak kampung membaca dan menulis. Purwanto masih ingat bagaimana mata ayahnya berbinar ketika membicarakan cita cita mendirikan ruang baca yang terbuka untuk siapa saja. Namun setelah kepergian ayah, mimpi itu ikut terkubur di bawah beban kenyataan.

Keesokan paginya Purwanto mengundang tiga orang yang ia percaya untuk meminta pertimbangan. Ia membutuhkan sudut pandang yang jernih sebelum memutuskan nasib tanah itu. Mereka datang bergantian ke rumah tua tersebut, masing masing membawa sejarah dan cara pandang yang dibentuk oleh hidup mereka sendiri.

Rahmat datang lebih dulu. Sepupunya itu dikenal cermat dan tak pernah gegabah dalam urusan uang. Wajahnya tampak tenang, tetapi kerut halus di dahinya selalu memberi kesan seseorang yang terbiasa hidup dalam kewaspadaan. Setelah meneliti dokumen tanah dengan saksama, ia menatap Purwanto cukup lama sebelum berbicara.

Menurut Rahmat, menjual atau mengubah fungsi tanah sekarang adalah keputusan yang terlalu berisiko. Ia pernah kehilangan seluruh usahanya karena keputusan investasi yang salah, dan pengalaman itu membuatnya percaya bahwa keamanan jauh lebih penting daripada cita cita besar. Ia menyarankan agar tanah itu tetap dibiarkan, menunggu nilainya naik, lalu kelak dijual saat harga mencapai puncaknya. Ucapannya terdengar logis, tetapi Purwanto merasakan sesuatu yang menyesakkan, seolah masa depan dipersempit oleh ketakutan akan kehilangan.

Siang harinya Beni datang. Ia sahabat masa kecil Purwanto, lelaki pendiam yang hidupnya berubah sejak kehilangan istri dan anaknya dalam kecelakaan akibat keputusan perjalanan mendadak bertahun tahun lalu. Sejak saat itu Beni memandang perubahan sebagai sesuatu yang harus dicurigai. Saat mendengar rencana pembangunan perpustakaan, matanya menyiratkan kegelisahan yang sulit disembunyikan.

Ia mengingatkan Purwanto bahwa harapan besar sering berakhir dengan luka yang lebih besar pula. Menurutnya, kampung mereka belum siap untuk proyek semacam itu. Anak anak sekarang lebih akrab dengan layar daripada buku, dan orang tua terlalu sibuk mengejar nafkah untuk memikirkan pendidikan tambahan. Kata katanya lahir dari luka yang belum benar benar sembuh, membuat Purwanto merasakan dingin keraguan merambat di dadanya.

BERITA TERKAIT  Simulasi Malam Paling Sunyi Negara

Menjelang sore Surya datang dengan mobilnya yang berhenti mulus di depan pagar rumah. Ia adalah pengusaha muda yang sedang naik daun, dikenal pandai membaca peluang. Tutur katanya halus, senyumnya terukur, dan matanya memancarkan keyakinan yang mudah menular. Ia mendengarkan rencana Purwanto tanpa memotong, lalu menyampaikan gagasannya dengan tenang.

Surya menawarkan kerja sama pembangunan pusat pertokoan kecil di atas tanah itu. Menurutnya, keuntungan dari proyek tersebut dapat digunakan untuk membangun perpustakaan yang jauh lebih megah di lokasi lain. Ia bahkan menunjukkan simulasi rancangan yang tampak meyakinkan, lengkap dengan janji dukungan investor dari kota. Semua terdengar masuk akal, terlalu masuk akal hingga justru terasa licin.

Malamnya Purwanto duduk sendiri di beranda, ditemani suara serangga dan cahaya rembulan yang jatuh tipis di lantai kayu. Ketiga pendapat itu berputar putar di kepalanya, menimbulkan kegaduhan yang tak mudah ditenangkan. Ia menatap kembali tiga nasihat dalam buku ayahnya. Untuk pertama kali ia menyadari bahwa pesan itu bukan sekadar petuah umum, melainkan seperti peta yang sedang menuntunnya membaca isi hati orang lain.

Saat malam semakin larut, terdengar suara ketukan tongkat dari arah halaman belakang. Bunyinya pelan namun teratur, seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia hendak melangkah. Purwanto menoleh dan melihat seorang lelaki tua berdiri di bawah pohon mangga. Tubuhnya kurus, wajahnya teduh, dan matanya menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.

Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Karim, sahabat lama ayahnya. Ia berkata bahwa selama bertahun tahun ia memegang amanah untuk datang ketika Purwanto menghadapi keputusan penting terkait tanah warisan itu. Tanpa banyak kata, ia menyerahkan sebuah amplop kecokelatan yang tampak sangat tua. Tangan Purwanto gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ayahnya. Dalam surat itu dijelaskan bahwa separuh hak atas tanah sebenarnya terikat pada sebuah klausul wasiat lama. Tanah tersebut harus difungsikan sebagai sarana pendidikan sebelum batas waktu tertentu. Jika tidak, hak keluarga akan gugur dan beralih kepada yayasan pendidikan yang telah ditentukan.

Purwanto menahan napas saat membaca nama ketua yayasan itu. Nama yang tertulis di sana adalah Surya. Lelaki yang tadi datang membawa senyum dan janji masa depan rupanya telah lama mengetahui isi klausul tersebut. Jika Purwanto mengikuti sarannya, tanah itu secara hukum akan beralih kepadanya melalui celah administratif yang telah ia siapkan.

BERITA TERKAIT  Simulasi Malam Paling Sunyi Negara

Bagian akhir surat itu membuat dada Purwanto bergetar. Ayahnya menulis bahwa jika hari itu tiba, Purwanto harus mendirikan bangunan pendidikan sekecil apa pun sebelum tenggat berakhir. Itulah satu satunya cara menjaga amanah keluarga dan mewujudkan cita cita yang dulu mereka impikan bersama.

Tanpa menunggu lebih lama, Purwanto membangunkan para pemuda kampung. Dengan bantuan warga, mereka mengangkut papan bekas, lembar seng, dan rak buku lama dari balai desa. Mereka bekerja hingga menjelang subuh, membangun ruang baca sederhana di atas tanah kosong itu. Anak anak yang terbangun ikut membawa buku pelajaran, sementara para ibu menyalakan lampu minyak untuk menerangi pekerjaan.

Saat fajar menyingsing, sebuah bangunan sederhana telah berdiri. Di depannya terpasang papan bertuliskan Perpustakaan Cahaya Senja. Tidak megah, tidak sempurna, tetapi cukup untuk menjadi bukti bahwa tanah itu telah difungsikan sebagaimana amanat wasiat.

Beberapa jam kemudian Surya datang bersama petugas administrasi. Langkahnya terhenti ketika melihat bangunan itu telah berdiri dan dipenuhi anak anak yang duduk membaca di lantai beralas tikar. Senyum tenangnya memudar seketika. Untuk sesaat matanya menatap Purwanto dengan ekspresi yang tak mampu disembunyikan.

Ketika Purwanto menoleh untuk mencari Karim, lelaki tua itu sudah tak ada. Tak seorang pun warga mengaku melihatnya datang malam sebelumnya. Dengan perasaan ganjil Purwanto kembali ke rumah dan membuka buku catatan ayahnya yang tertinggal di meja.

Halaman terakhir yang semula kosong kini memuat jejak sidik jari basah tanah. Di bawahnya tertulis satu kalimat dengan tinta yang masih belum sepenuhnya kering.

Kadang petunjuk paling terang datang dari mereka yang telah lama meninggalkan cahaya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *