Benarkah Muhammadiyah telah membeli sebuah gereja di Spanyol? Pertanyaan itu sempat ramai menghiasi media sosial dan berbagai platform digital sejak 2023. Sebagian orang menyambutnya dengan penuh kebanggaan, sementara sebagian lainnya mempertanyakan kebenarannya. Setelah ditelusuri melalui berbagai sumber resmi dan referensi sejarah, narasi yang beredar ternyata merupakan perpaduan antara fakta, interpretasi, dan klaim yang belum seluruhnya terverifikasi. Di balik polemik tersebut, tersimpan pelajaran penting mengenai dakwah, literasi informasi, dan pentingnya menjaga integritas dalam menyampaikan sebuah berita.
Muhammadiyah bukanlah organisasi yang asing bagi dunia internasional. Sejak didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912, organisasi ini tumbuh menjadi salah satu gerakan Islam modern terbesar di dunia. Dakwah yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pembangunan masjid, tetapi juga diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga aksi kemanusiaan. Model dakwah seperti inilah yang membuat Muhammadiyah memperoleh pengakuan luas sebagai organisasi yang mengedepankan kemajuan, moderasi, dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Keinginan memperluas kiprah ke luar negeri sesungguhnya bukanlah hal baru. Muhammadiyah telah memiliki sejumlah cabang istimewa di berbagai negara sebagai wadah pembinaan warga negara Indonesia sekaligus media memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang damai dan inklusif. Karena itu, ketika muncul gagasan menghadirkan pusat kegiatan Islam di Spanyol, banyak pihak melihatnya sebagai langkah strategis yang sejalan dengan semangat dakwah berkemajuan.
Perbincangan mengenai Spanyol bermula setelah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Saad Ibrahim, menjelaskan adanya ikhtiar untuk memperoleh sebuah kompleks bangunan di Alcalá de Henares. Kompleks tersebut disebut memiliki berbagai fasilitas, termasuk sebuah gereja yang sudah tidak lagi digunakan secara aktif. Tujuan utama yang disampaikan bukan sekadar memiliki bangunan, melainkan menghadirkan pusat ibadah, pendidikan, dakwah, serta aktivitas sosial bagi komunitas Muslim di kawasan tersebut.
Pernyataan tersebut kemudian berkembang sangat cepat di ruang digital. Dalam hitungan hari, berbagai unggahan di media sosial mulai menyebut bahwa Muhammadiyah telah resmi membeli sebuah katedral bersejarah di Spanyol dan akan mengubahnya menjadi masjid. Narasi itu terus disalin, diterjemahkan, dan dibagikan tanpa penjelasan yang memadai sehingga banyak pembaca menganggapnya sebagai fakta yang telah selesai.
Padahal, hasil penelusuran terhadap pernyataan resmi Muhammadiyah menunjukkan bahwa informasi yang tersedia saat itu masih berada pada tahap proses dan negosiasi. Tidak ditemukan pengumuman resmi yang menyatakan bahwa transaksi telah selesai ataupun kepemilikan bangunan telah berpindah tangan. Demikian pula, tidak terdapat pernyataan dari otoritas Gereja Katolik maupun pemerintah setempat yang mengonfirmasi adanya penjualan sebuah katedral aktif kepada Muhammadiyah.
Perbedaan inilah yang menjadi inti persoalan. Sebuah rencana belum tentu menjadi kenyataan, sementara sebuah proses tidak otomatis berakhir dengan keberhasilan. Dalam dunia jurnalistik, membedakan fakta, rencana, harapan, dan opini merupakan prinsip yang tidak boleh diabaikan. Ketika batas tersebut kabur, informasi yang semula benar dapat berubah menjadi narasi yang menyesatkan.
Di sisi lain, polemik ini justru memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat terhadap kiprah Muhammadiyah. Organisasi yang selama lebih dari satu abad membangun ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga pelayanan sosial itu telah memiliki reputasi yang melampaui batas Indonesia. Setiap langkah yang dilakukan organisasi ini mudah menjadi perhatian publik karena dianggap memiliki dampak yang luas.
Apabila suatu saat Muhammadiyah benar-benar berhasil memiliki pusat kegiatan di Spanyol, keberadaan fasilitas tersebut seharusnya dipahami sebagai sarana memperkuat pendidikan, pelayanan sosial, dialog antarumat beragama, dan pembinaan masyarakat Muslim. Nilai sebuah dakwah tidak ditentukan oleh simbol bangunannya, melainkan oleh manfaat yang dihadirkan bagi manusia tanpa membedakan latar belakang agama, budaya, maupun kebangsaan.
Kota Alcalá de Henares sendiri memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Eropa. Kota ini merupakan tempat kelahiran Miguel de Cervantes, pengarang novel Don Quixote, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Sejarahnya membentang sejak masa Romawi, periode pemerintahan Islam di Andalusia, hingga berkembang menjadi salah satu pusat intelektual Spanyol. Kekayaan sejarah tersebut menjadikan kota ini sebagai ruang perjumpaan berbagai peradaban yang silih berganti meninggalkan jejak budaya.
Wilayah Andalusia memang pernah menjadi salah satu pusat kejayaan Islam di Eropa. Sejak awal abad kedelapan, umat Islam membangun kota-kota yang berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan, kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan arsitektur. Córdoba, Sevilla, Granada, dan Toledo menjadi simpul peradaban yang melahirkan banyak ilmuwan serta menjadi jembatan masuknya ilmu pengetahuan ke Eropa Barat. Namun sejarah juga mencatat bahwa perjalanan panjang itu tidak selalu diwarnai harmoni. Ada masa koeksistensi, tetapi ada pula masa konflik dan pergantian kekuasaan yang mengubah wajah berbagai kota di Semenanjung Iberia.
Karena itu, sejarah bangunan-bangunan tua di Spanyol tidak dapat disederhanakan hanya dengan menyebutnya sebagai bekas masjid atau bekas gereja. Banyak situs mengalami perubahan fungsi selama berabad-abad, bahkan dibangun kembali di atas fondasi bangunan yang lebih tua. Penjelasan mengenai asal-usul sebuah bangunan harus bertumpu pada bukti arkeologis, dokumen sejarah, dan kajian ilmiah, bukan sekadar cerita yang beredar luas di media sosial.
Kasus yang berkembang mengenai Muhammadiyah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya literasi informasi. Kemajuan teknologi memungkinkan setiap orang menjadi penyebar berita hanya dengan sekali menekan tombol. Namun kecepatan menyebarkan informasi tidak selalu diiringi dengan ketelitian memeriksa sumbernya. Akibatnya, klaim yang belum selesai diverifikasi dapat berubah menjadi keyakinan publik hanya karena diulang berkali-kali.
Masyarakat digital memerlukan kebiasaan baru, yaitu membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber resmi, membandingkan beberapa referensi, dan tidak mudah terpengaruh oleh judul yang sensasional. Sikap kritis bukan berarti gemar membantah, melainkan menghargai fakta sebagai fondasi utama dalam membangun pengetahuan. Semakin besar sebuah isu, semakin tinggi pula tanggung jawab untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan benar adanya.
Bagi Muhammadiyah sendiri, polemik ini tidak mengurangi makna dari cita-cita dakwah berkemajuan yang selama ini diperjuangkan. Organisasi ini telah menunjukkan bahwa kontribusi kepada umat tidak selalu diwujudkan melalui simbol-simbol monumental, melainkan melalui karya nyata yang dirasakan masyarakat. Pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang terjangkau, penguatan ekonomi umat, penanggulangan bencana, dan diplomasi kemanusiaan merupakan wajah dakwah yang jauh lebih substansial daripada sekadar kepemilikan sebuah bangunan.
Perbincangan mengenai Spanyol bukan semata-mata berbicara tentang gereja, masjid, ataupun bangunan bersejarah. Isu tersebut mengajarkan bahwa integritas informasi sama pentingnya dengan semangat dakwah itu sendiri. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Dakwah yang mengedepankan nilai kejujuran akan selalu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap fakta. Di tengah derasnya arus informasi, sikap itulah yang akan menjaga kepercayaan publik sekaligus memperlihatkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh sensasi, melainkan oleh ilmu pengetahuan, kejujuran, dan manfaat yang terus mengalir bagi seluruh umat manusia.














