Agama  

10 Larangan Rasulullah Sehari-Hari

banner 120x600

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kebiasaan yang tampak sepele namun ternyata pernah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ. Karena dianggap ringan, sering kali seseorang melakukannya berulang kali tanpa merasa sedang mengabaikan tuntunan agama. Padahal Islam tidak hanya mengatur perkara besar, tetapi juga adab-adab kecil yang menjadi jalan menuju kesempurnaan iman, ketenangan hati, dan kemuliaan akhlak seorang mukmin di hadapan Allah SWT.

Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada satu pun sisi kehidupan manusia yang luput dari bimbingannya. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah, tetapi juga mendidik umatnya agar memiliki adab yang baik dalam makan, minum, tidur, berjalan, bergaul, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Sering kali seseorang merasa telah menjalankan agama dengan baik karena tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban besar, namun tanpa disadari masih melakukan kebiasaan yang pernah dilarang atau dimakruhkan oleh Rasulullah ﷺ.

Larangan-larangan tersebut bukanlah untuk mempersulit kehidupan manusia. Sebaliknya, semuanya mengandung hikmah yang sangat besar bagi kesehatan, kenyamanan, kebersihan, kekhusyukan ibadah, dan pembentukan karakter seorang muslim. Karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan kembali beberapa larangan Rasulullah ﷺ yang sering dilanggar tanpa disadari.

Pertama, shalat sambil menahan buang air.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Tidak sempurna shalat ketika makanan telah dihidangkan dan tidak pula ketika seseorang menahan dua hal yang kotor (buang air kecil dan buang air besar).”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya menyelesaikan kebutuhan biologisnya terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat. Menahan buang air dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi kekhusyukan, dan menjadikan hati tidak fokus dalam bermunajat kepada Allah SWT.

BERITA TERKAIT  Menepis Gelisah Dengan Tawakal

Kedua, suka bernadzar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ النَّذْرَ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Sesungguhnya nazar tidak mendatangkan kebaikan. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Islam tidak melarang nazar yang sah, namun Rasulullah ﷺ tidak menyukai kebiasaan menggantungkan ibadah kepada suatu syarat tertentu. Seorang mukmin hendaknya beramal karena cinta kepada Allah, bukan karena transaksi atau syarat tertentu.

Ketiga, membuang makanan yang terjatuh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمْطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila suapan salah seorang di antara kalian jatuh, hendaklah ia membersihkan kotoran yang menempel padanya lalu memakannya dan jangan membiarkannya untuk setan.”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan penghormatan terhadap nikmat Allah. Banyak orang membuang makanan dengan mudah, padahal di tempat lain masih banyak saudara kita yang kesulitan memperoleh makanan.

Keempat, mencela makanan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mencela makanan berarti meremehkan nikmat Allah dan dapat menyakiti hati orang yang menyiapkannya. Akhlak mulia mengajarkan rasa syukur, bukan keluhan.

Kelima, masuk masjid dalam keadaan bau.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا

“Barang siapa makan dari tanaman ini, yaitu bawang putih, maka janganlah mendekati masjid kami.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

BERITA TERKAIT  Merenungi Api Yang Tak Menyala

Larangan ini bukan karena bawang putih haram, melainkan karena baunya mengganggu jamaah dan malaikat. Kebersihan diri merupakan bagian dari penghormatan terhadap rumah Allah.

Keenam, mencabut uban.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Janganlah kalian mencabut uban, karena sesungguhnya uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad)

Uban mengingatkan manusia tentang perjalanan usia dan kedekatan dengan akhir kehidupan. Ia menjadi pengingat agar memperbanyak amal saleh dan memperbaiki diri.

Ketujuh, meniup makanan atau minuman panas.

Dalam riwayat disebutkan:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنْفَخَ فِي الشَّرَابِ

“Rasulullah ﷺ melarang meniup ke dalam minuman.”
(HR. Tirmidzi)

Larangan ini mengandung hikmah kebersihan dan kesehatan. Selain itu, adab yang diajarkan adalah menunggu makanan atau minuman hingga cukup dingin untuk dikonsumsi.

Kedelapan, tidur tengkurap.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّهَا ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ

“Sesungguhnya itu adalah cara berbaring yang dibenci Allah.”
(HR. Abu Dawud)

Posisi tidur yang dianjurkan adalah miring ke kanan sebagaimana kebiasaan Rasulullah ﷺ. Selain bernilai ibadah, posisi tersebut juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh.

Kesembilan, berjalan menuju masjid dengan terburu-buru.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ

“Apabila shalat telah ditegakkan maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, tetapi datangilah dengan berjalan dan tetap tenang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Masjid adalah tempat ketenangan. Seorang muslim diajarkan mendatangi shalat dengan hati yang tenang, penuh wibawa, dan tidak tergesa-gesa.

BERITA TERKAIT  Merenungi Api Yang Tak Menyala

Kesepuluh, melaksanakan shalat ketika makanan telah dihidangkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَابْدَؤُوا بِالْعَشَاءِ

“Apabila makan malam salah seorang di antara kalian telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka dahulukanlah makan malamnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuannya bukan meremehkan shalat, melainkan agar seseorang tidak melaksanakan shalat dalam keadaan pikirannya terus tertuju kepada makanan yang ada di hadapannya. Islam menginginkan ibadah dilakukan dengan hati yang hadir dan jiwa yang tenang.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Kesempurnaan seorang muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari sejauh mana ia menjaga adab dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dalam perkara-perkara kecil. Justru kebiasaan-kebiasaan yang tampak sederhana itulah yang membentuk karakter takwa, menumbuhkan kepekaan hati, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mencintai sunnah Nabi Muhammad ﷺ, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta memperoleh syafaat beliau pada hari ketika tidak ada pertolongan selain pertolongan dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *