Agama  

Menepis Gelisah Dengan Tawakal

banner 120x600

Terkadang kegelisahan datang tanpa suara. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memperkenalkan diri, dan tidak selalu membawa alasan yang mudah dikenali. Seseorang bisa menjalani hari seperti biasa, bekerja, berbincang, beraktivitas, bahkan tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi di dalam hati ada sesuatu yang terasa mengganjal. Ada beban yang tidak terlihat, ada keresahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Begitulah keadaan yang sering dialami manusia. Hati merasa tidak tenang, pikiran terasa penuh, namun ketika ditanya apa yang sedang dikhawatirkan, ia sendiri tidak mampu menjawabnya. Seakan-akan ada awan tipis yang menutupi cahaya batin, membuat langkah menjadi ragu dan jiwa menjadi letih. Dalam keadaan seperti itu, terkadang Allah menghadirkan seseorang yang mampu menunjukkan cermin bagi diri kita sendiri. Bisa melalui nasihat seorang sahabat, seorang guru, atau bahkan seorang ibu yang dengan kasih sayangnya mampu membaca keadaan anaknya tanpa perlu banyak penjelasan.

Dalam Islam, kegelisahan bukanlah sesuatu yang asing. Para nabi, orang-orang saleh, bahkan setiap manusia pasti pernah mengalaminya. Namun yang membedakan adalah bagaimana mereka menyikapi kegelisahan tersebut. Apakah membiarkannya tumbuh menjadi ketakutan yang melumpuhkan, atau menjadikannya jalan untuk semakin dekat kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini memberikan petunjuk bahwa sumber ketenangan sejati bukanlah hilangnya seluruh masalah, melainkan hadirnya Allah dalam kesadaran hati. Banyak orang mengira mereka akan tenang ketika semua persoalan selesai. Padahal kenyataannya, setelah satu masalah selesai, masalah lain akan datang. Kehidupan dunia memang tempat ujian. Karena itu, ketenangan tidak bergantung pada keadaan di luar diri, tetapi pada hubungan seorang hamba dengan Rabbnya.

Nasihat seorang ibu dalam kisah tersebut begitu sederhana namun mengandung hikmah yang dalam. Gelisah sering kali lahir dari kekhawatiran dan ketakutan. Ketika seseorang terlalu takut melakukan kesalahan, ia bisa kehilangan keberanian untuk melangkah. Ia terlalu sibuk memikirkan kemungkinan gagal sehingga lupa bahwa hidup memang merupakan proses belajar yang penuh dengan kekeliruan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari sifat manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang selalu benar. Bahkan orang yang paling bijaksana sekalipun pernah melakukan kekeliruan. Yang menjadi ukuran kemuliaan bukanlah tidak pernah salah, melainkan kesediaan untuk memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan.

Sering kali seseorang terjebak dalam penjara yang ia bangun sendiri. Penjara itu bukan terbuat dari besi atau tembok, melainkan dari ketakutan-ketakutan yang memenuhi pikirannya. Takut gagal. Takut dikritik. Takut dianggap kurang baik. Takut mengecewakan orang lain. Akibatnya ia tidak berani mengambil keputusan, tidak berani bergerak, dan akhirnya hanya diam dalam kebimbangan.

Padahal Allah tidak meminta manusia menjadi sempurna. Allah hanya meminta manusia berusaha dengan sungguh-sungguh lalu bertawakal kepada-Nya.

Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)

Perhatikanlah ayat ini. Allah tidak mengatakan, “Pastikan dahulu semuanya sempurna.” Allah tidak mengatakan, “Tunggu sampai tidak ada risiko kesalahan.” Yang Allah perintahkan adalah bertekad, berusaha, lalu bertawakal. Sebab manusia hanya bertugas melangkah, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah.

Nasihat, “Jangan jongkok terlalu lama tapi tidak melakukan apa-apa,” sesungguhnya memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam kehidupan, ada masa untuk merenung dan mengevaluasi diri. Namun jika terlalu lama tenggelam dalam keraguan, seseorang bisa kehilangan momentum untuk bertumbuh. Ia terus memikirkan berbagai kemungkinan buruk sampai akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Keadaan seperti ini mirip dengan orang yang berdiri di tepi sungai. Ia ingin menyeberang tetapi terus menghitung kemungkinan jatuh. Karena terlalu lama berpikir, hari menjadi gelap dan kesempatan pun hilang. Padahal keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada.

Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini mengingatkan bahwa apa pun yang sedang kita hadapi sesungguhnya masih berada dalam batas kemampuan yang Allah anugerahkan kepada kita. Jika Allah mengizinkan sebuah ujian datang, berarti Allah juga telah menyediakan kekuatan untuk menghadapinya.

Ketika kegelisahan datang, seorang mukmin hendaknya kembali memeriksa isi hatinya. Apakah ada ketakutan yang berlebihan? Apakah ada kekhawatiran tentang masa depan yang belum tentu terjadi? Apakah ada penyesalan masa lalu yang terus dipelihara? Setelah menemukannya, bawalah semua itu kepada Allah dalam doa dan sujud yang panjang.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia.”
(HR. Bukhari)

Doa ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengabaikan persoalan psikologis manusia. Kegundahan dan kesedihan diakui keberadaannya, namun seorang mukmin diajarkan untuk tidak berhenti pada kegelisahan. Ia diajak mengubah kegelisahan menjadi doa, mengubah ketakutan menjadi tawakal, dan mengubah keraguan menjadi langkah nyata.

Betapa indahnya ketika Allah menghadirkan seorang ibu yang mampu melihat kegelisahan anaknya bahkan sebelum sang anak mampu mengakuinya sendiri. Kasih sayang seorang ibu sering kali menjadi jalan datangnya hikmah. Dari lisannya keluar kalimat-kalimat sederhana yang ternyata mampu membuka pintu kesadaran. Kadang yang kita perlukan bukan jawaban yang rumit, melainkan pengingat bahwa kita adalah manusia biasa yang memang tidak dituntut untuk selalu benar.

Maka ketika kegelisahan menghampiri, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Jangan pula membiarkan diri tenggelam dalam ketakutan yang tidak berujung. Duduklah sejenak bersama hati, perbanyak zikir, perkuat doa, lalu bangkitlah. Jika memang pernah salah, perbaiki. Jika belum tahu hasilnya, serahkan kepada Allah. Jika masih ada rasa takut, tetaplah melangkah dengan niat yang lurus.

Karena kehidupan tidak akan menunggu sampai kita merasa sempurna. Dan sering kali, setelah kita berani berdiri dan berjalan, barulah kita menyadari bahwa sebagian besar ketakutan yang selama ini mengurung hati ternyata hanyalah bayangan yang dibesarkan oleh pikiran sendiri. Sedangkan Allah, sejak awal, telah menyiapkan jalan keluar bagi hamba-Nya yang mau percaya, berusaha, dan bertawakal kepada-Nya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *