Dalam perjalanan hidup yang singkat ini, manusia sering kali disibukkan oleh pencarian yang tidak pernah selesai. Harta dikumpulkan, kedudukan dikejar, pujian diharapkan, dan kehendak pribadi dipertahankan sekuat tenaga. Padahal, semua yang dianggap milik itu hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya. Kesadaran inilah yang mengantar seseorang menuju hakikat kehidupan yang sesungguhnya.
Ungkapan “mati sebelum mati” bukanlah ajakan untuk mematikan jasad atau meninggalkan kehidupan dunia. Ungkapan ini merupakan nasihat ruhani yang mengajarkan manusia agar mematikan keakuan, kesombongan, dan rasa memiliki yang berlebihan sebelum kematian fisik benar-benar datang menjemput. Banyak manusia yang hidup secara biologis, tetapi sesungguhnya hatinya telah mati karena terbelenggu oleh ego. Sebaliknya, ada orang-orang yang jasadnya masih berjalan di muka bumi, tetapi egonya telah tunduk di hadapan Allah sehingga hidupnya dipenuhi ketenangan, kebijaksanaan, dan kedekatan kepada Rabb semesta alam.
Keakuan adalah salah satu hijab terbesar yang menghalangi manusia dari mengenal Tuhannya. Ketika seseorang terlalu sibuk dengan kata “aku”, ia akan sulit melihat kebesaran Allah. Ketika seseorang selalu merasa bahwa keberhasilannya adalah hasil usahanya semata, ia akan lupa bahwa setiap kemampuan, kesempatan, kesehatan, dan kecerdasan adalah karunia dari Allah. Ketika seseorang merasa bahwa segala sesuatu berada dalam kendalinya, ia akan kecewa dan marah saat kenyataan tidak berjalan sesuai keinginannya.
Padahal Allah telah mengingatkan manusia bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara. Allah berfirman:
﴿كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
“Kullu man ‘alaihaa faan. Wa yabqaa wajhu rabbika dzul-jalaali wal-ikraam.”
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)
Ayat ini mengingatkan bahwa apa pun yang saat ini kita banggakan akan berakhir. Rumah yang megah akan lapuk. Jabatan yang tinggi akan berakhir. Tubuh yang kuat akan melemah. Popularitas akan dilupakan. Bahkan orang-orang yang kita cintai pun suatu saat akan berpisah dengan kita. Yang tetap abadi hanyalah Allah Yang Mahakekal.
Karena itu, orang yang memahami hakikat kehidupan tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Ia memanfaatkan dunia sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah. Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaannya. Ia memiliki harta, tetapi tidak diperbudak hartanya. Ia memperoleh kedudukan, tetapi tidak diperbudak oleh kedudukannya. Hatinya tetap merdeka karena ia sadar bahwa semua itu hanyalah bayangan yang akan sirna.
Allah berfirman:
﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ﴾
“I‘lamuu annamal-hayaatud-dunyaa la‘ibuw wa lahwuw wa ziinatuw wa tafaakhurum bainakum wa takaatsurun fil-amwaali wal-aulaad.”
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan berarti Islam melarang manusia bekerja atau menikmati nikmat dunia. Namun Allah mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia sehingga melupakan tujuan penciptaannya. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal yang abadi.
Makna “mati sebelum mati” juga berarti menghidupkan kesadaran bahwa diri ini bukan pusat alam semesta. Kita hanyalah hamba. Segala yang kita miliki berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketika kesadaran ini tumbuh, hati menjadi lebih lapang. Kita tidak mudah sombong saat mendapatkan nikmat, dan tidak mudah putus asa saat kehilangan sesuatu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ»
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan kerendahan hati. Ego selalu ingin menjadi yang paling tinggi, paling kaya, paling dihormati. Namun jiwa yang telah “mati sebelum mati” tidak lagi diperbudak oleh perlombaan semacam itu. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada membandingkan dirinya dengan orang lain.
Hakikat kehidupan ini memang hanya bayangan. Bayangan tidak memiliki wujud mandiri. Ia ada karena adanya sumber cahaya dan objek yang memancarkannya. Demikian pula kehidupan dunia. Semua yang kita lihat hanyalah tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan dan kebesaran Allah. Maka orang yang bijaksana tidak berhenti pada bayangan. Ia mencari Pemilik bayangan itu.
Allah berfirman:
﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾
“Sanuriihim aayaatinaa fil-aafaaqi wa fii anfusihim hattaa yatabayyana lahum annahul-haqq.”
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fussilat: 53)
Segala sesuatu di alam semesta adalah ayat-ayat Allah. Gunung, lautan, langit, matahari, bahkan denyut jantung kita sendiri merupakan tanda yang mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta. Jika manusia hanya terpukau pada tanda tanpa mengenal yang ditunjukkan oleh tanda tersebut, maka ia belum sampai kepada tujuan.
Ketika seseorang mulai mematikan keakuannya, ia akan lebih mudah menerima takdir Allah. Ia tidak lagi memaksakan segala sesuatu harus sesuai dengan keinginannya. Ia memahami bahwa kehendak Allah jauh lebih sempurna daripada kehendaknya sendiri. Dari sinilah lahir ketenangan yang sejati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ»
“Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu.” (HR. At-Tirmidzi)
Orang yang telah memahami makna ini tidak lagi hidup dalam kegelisahan yang berlebihan. Ia tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya bersandar kepada Allah. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba, sedangkan Allah adalah Pengatur seluruh urusan.
Pada akhirnya, “mati sebelum mati” adalah perjalanan panjang untuk membersihkan hati dari kesombongan, ketergantungan kepada dunia, dan rasa memiliki yang berlebihan. Ini adalah perjalanan dari “aku” menuju “Engkau”, dari ego menuju penghambaan, dari bayangan menuju Pemilik bayangan. Ketika keakuan mulai sirna, cahaya makrifat akan semakin terang. Ketika kesombongan mulai runtuh, kebesaran Allah akan semakin nyata. Dan ketika hati telah mengenal Pemilik segala sesuatu, ia akan menemukan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Maka jangan silau oleh bayangan kehidupan yang sementara. Jangan terpesona oleh apa yang suatu saat pasti lenyap. Gunakan dunia sebagai jalan menuju Allah, bukan sebagai tujuan akhir. Sebab seluruh yang ada akan pergi dan sirna, sedangkan Allah tetap ada selama-lamanya. Barang siapa mengenal Allah, maka ia telah menemukan yang abadi. Dan barang siapa menemukan Yang Abadi, maka ia tidak akan kehilangan apa pun meskipun seluruh dunia meninggalkannya.














