Setiap hari Allah memberi kita waktu yang sama: 1440 menit. Dari seluruh waktu itu, shalat wajib hanya membutuhkan sebagian kecil, namun justru sering terasa paling berat untuk dijaga. Pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar berapa lama kita shalat, melainkan mengapa memenuhi panggilan Allah yang sebentar itu kadang kalah oleh kesibukan, hiburan, pekerjaan, dan urusan dunia yang panjang setiap hari.
Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 103:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu dengan sempurna. Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)
Ayat ini mengingatkan bahwa shalat bukan ibadah yang dikerjakan setelah urusan dunia selesai. Ketika azan memanggil, hentikan kesibukan untuk memenuhi panggilan Rabb. Dunia dapat dikejar, tetapi waktu shalat yang berlalu tidak kembali.
Ungkapan 1440 menit dan 25 menit adalah ajakan bermuhasabah. Lama shalat berbeda, sehingga angka itu bukan ukuran mutlak. Jangan sampai kita menyediakan waktu berjam-jam untuk dunia, tetapi merasa berat memberikan menit untuk menghadap Allah. Masalahnya kadang bukan kekurangan waktu, tetapi prioritas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ.
Artinya: “Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, ia telah beruntung dan berhasil. Jika shalatnya rusak, ia telah rugi dan gagal. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah? Dengan shalat sunnah itu disempurnakan kekurangan shalat wajibnya. Kemudian seluruh amalnya diperlakukan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 413)
Hadis ini menunjukkan agungnya kedudukan shalat. Shalat wajib harus dijaga waktunya, kesempurnaannya, dan kekhusyukannya. Ketika berdiri, sadari bahwa kita menghadap Allah; ketika rukuk, tundukkan kesombongan; ketika sujud, akui kelemahan dan mohon pertolongan-Nya.
Karena itu, mari memperbaiki shalat: jaga waktunya, segera ketika azan terdengar, siapkan wudu, tinggalkan kesibukan, dan hadirkan hati. Jika pernah lalai, jangan berputus asa. Bertaubatlah dan mulai lagi. Umur berkurang setiap menit, sedangkan kematian tidak menunggu jadwal kita. Jadikan shalat sebagai kebutuhan jiwa untuk kembali kepada Allah. Semoga Allah menolong kita istiqamah. Aamiin.













