Yusuf al-Qaradawi adalah ulama terkemuka dunia yang wafat pada usia 96 tahun pada 26 September 2022 sebagaimana diberitakan oleh berbagai media massa termasuk detikEdu dan Republika senin 26 september 2022 Yusuf al-Qaradawi dikenal sebagai seorang cendekiawan muslim yang produktif dan berpengaruh dalam pemikiran fiqih kontemporer sedangkan Muhammad Metwalli as-Sya’rawi yang wafat pada 17 Juni 1998 menjadi simbol dakwah yang hangat dan komunikatif dalam masyarakat Mesir demikian profile keduanya menurut laporan dan catatan sejarah yang dapat dilacak dan divalidasi.
Ulama dunia Islam itu Yusuf al-Qaradawi meninggal dunia pada senin 26 september 2022 di qatar usia 96 tahun berdasarkan laporan detikEdu dalam artikel Innalillahi Syeikh Yusuf Al-Qaradawi Meninggal Dunia yang memuat profil singkat, masa pendidikan dan kontribusinya terhadap keilmuan Islam serta peranannya dalam mempertemukan tradisi dan tantangan modern umat islam di berbagai negaraberdasarkan catatan Wikipedia Yusuf al-Qaradawi lahir di Mesir dan menamatkan pendidikan di Universitas Al-Azhar serta aktif dalam berbagai organisasi keilmuan dunia yang membawanya dikenal luas di berbagai belahan dunia sehingga keberadaannya menjadi inspirasi bagi banyak Muslim di era kontemporer.
Sebaliknya Muhammad Metwalli as-Sya’rawi yang dikenal luas sebagai salah satu ulama dan penceramah paling populer di Mesir dan dunia Arab wafat pada 17 juni 1998 sebagaimana ditulis oleh rekam jejak resmi Wikipedia ia dikenal sebagai figur ulama yang mampu menjelaskan Al-Quran kepada masyarakat umum dengan bahasa yang sederhana dan menggugah yang membuat banyak orang tertarik mendengarkan ceramahnya di televisi Mesir peranannya sebagai penceramah menjadikan ia terpilih menjadi salah satu simbol keagamaan yang dicintai oleh jutaan orang sehingga popularitasnya tetap dikenang bahkan setelah wafatnya.
Kedua tokoh ini sama-sama dibentuk oleh tradisi keilmuan Al-Azhar namun menempuh pendekatan berbeda dalam dakwah dan metode keilmuan hal ini dapat dilihat dari cara Qaradawi menyusun karya karya fiqihnya yang sering dikaitkan dengan dinamika masyarakat global serta hubungan antara tradisi dan realitas kontemporer sedangkan as-Sya’rawi lebih menekankan pada penafsiran Qurani dan pendekatan moral yang komunikatif kepada masyarakat sehingga gaya dakwahnya lebih terasa personal dan emosional yang mampu menjembatani pesan agama dengan kehidupan sehari hari menurut penelitian tentang manhaj tafsir As-Sya’rawi yang menunjukkan gaya tafsirnya bersifat tahlili tematik integratif.
Dalam konteks umat Islam saat ini tantangan keilmuan tidak lagi semata mempertahankan tradisi namun juga bagaimana umat memahami dan menerapkan ajaran Islam dalam menghadapi problem masalah modern seperti ekonomi digital bioetika dan hukum baru yang muncul dalam kehidupan sehingga pendekatan yang fleksibel seperti yang dipraktikkan oleh al-Qaradawi memberi ruang bagi umat untuk menjawab persoalan kontemporer dengan tetap merujuk kepada prinsip prinsip dasar syariah hal ini menjadi alasan mengapa banyak karya Qaradawi, termasuk pendekatan pembahasan fiqihnya, dibaca dan menjadi rujukan di perguruan tinggi Islam di beberapa negara.
Namun demikian kekuatan as-Sya’rawi juga patut diakui yaitu bagaimana ia mampu membawa pesan moral dan spiritual dari Al-Quran kepada masyarakat melalui bahasa yang sederhana dan penuh keteladanan sehingga rakyat biasa sekalipun merasa dekat dengan ajaran agama hal ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah yang komunikatif dapat memperkuat hubungan emosional umat dengan sumber sumber agamanya yang kemudian berkontribusi pada persatuan umat yang bersifat sosial.
Pendekatan dakwah Qaradawi yang responsif terhadap isu kontemporer memang memberikan kontribusi besar namun jika hal itu tidak disertai disiplin ilmu yang kuat dan adab pendidikan yang mendalam ada risiko pemahaman Islam menjadi terlalu pragmatis sehingga tantangan tersebut perlu diperhatikan oleh pembelajar agama di berbagai belahan dunia karena perkembangan zaman tidak sebatas pada tuntutan kontemporer juga pada kebutuhan akan keutuhan sanad ilmu yang menjamin keautentikan ajaran agama.
Karena itu teladan as-Sya’rawi dalam menjaga sanad keilmuan dan konteks moralitas komunikatifnya tetap menjadi rujukan penting dalam tradisi dakwah Islam sehingga perpaduan antara kedalaman metodologi tradisional dan kemampuan menjawab tuntutan zaman dapat menjadi model dakwah yang ideal untuk umat pada abad ke dua puluh satu demikian refleksi atas warisan kedua tokoh ini mengajak umat Islam untuk terus menguatkan fondasi ilmiah sambil tetap memperhatikan cara cara penyampaian yang mampu menjangkau hati dan pikiran umat.
Dalam konteks media massa artikel artikel profil dan obituari tentang Yusuf al-Qaradawi yang dimuat di berbagai media nasional termasuk detikEdu 26 september 2022 serta laporan tentang kehidupan dan karya Muhammad Metwalli as-Sya’rawi di Wikipedia dan sumber sumber akademik menunjukkan betapa pentingnya menelusuri rekam jejak keilmuan kedua tokoh ini agar tulisan feature seperti ini tetap berdasar pada fakta faktual dan valid untuk pembacaan publik luas terutama ketika membandingkan pendekatan dakwah dan warisan keilmuan mereka untuk dikaji oleh pembaca yang ingin memahami dinamika tradisi dan kontemporer dalam sejarah Islam kontemporer.














