BuserNasional.my.id Dalam perjalanan hidup, manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagaimana akhir kehidupannya kelak. Karena itu, janganlah tergesa menghakimi orang lain hanya karena kita melihat kekurangannya hari ini. Bisa jadi, ia yang hari ini bergelimang dosa menjadi penghuni surga karena taubatnya, sedangkan kita yang merasa paling baik justru tergelincir karena kesombongan yang tersembunyi di dalam hati. Allah SWT senantiasa membuka pintu rahmat-Nya bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada-Nya.
Ada satu penyakit hati yang sering tidak disadari oleh manusia, yaitu merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Perasaan seperti ini menjadi awal dari lahirnya kesombongan, mudah merendahkan orang lain, dan merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang pantas mendapatkan ampunan Allah SWT. Padahal, hanya Allah SWT yang mengetahui isi hati dan akhir kehidupan setiap hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al Hujurat: 12)
Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk menjaga lisan, pikiran, dan hati dari sikap yang gemar menghakimi. Tidak sedikit keretakan persaudaraan lahir dari prasangka dan penilaian yang tergesa-gesa. Padahal, Allah SWT memerintahkan kita untuk saling menjaga kehormatan sesama muslim.
Betapa banyak orang yang dahulu hidup dalam kemaksiatan, tetapi Allah SWT memberinya hidayah sehingga menjadi hamba yang saleh. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang semula dikenal baik, tetapi kemudian tergelincir karena tidak mampu menjaga keikhlasan dan ketakwaannya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk merasa paling suci.
Allah SWT berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32)
Ayat yang singkat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ketakwaan bukanlah pakaian yang tampak oleh mata manusia, melainkan rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya. Kita boleh melihat amal seseorang, tetapi tidak pernah mampu mengetahui keadaan hatinya. Oleh karena itu, tugas kita bukan menjadi hakim atas kehidupan orang lain, melainkan menjadi pengingat dalam kebaikan dengan penuh kasih sayang dan hikmah.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak diukur dari penampilan lahiriahnya. Bisa jadi seseorang yang dipandang rendah oleh manusia justru memiliki hati yang sangat dekat dengan Allah SWT. Sebaliknya, seseorang yang dipuji dan dimuliakan manusia belum tentu memiliki kedudukan yang mulia di sisi-Nya.
Karena itu, janganlah pernah menutup pintu harapan bagi siapa pun untuk berubah menjadi lebih baik. Selama hayat masih dikandung badan, selama matahari belum terbit dari sebelah barat, dan selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka lebar.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling menenteramkan hati orang-orang yang ingin kembali kepada Allah SWT. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama seseorang sungguh-sungguh bertaubat. Yang berbahaya bukanlah besarnya dosa, melainkan ketika seseorang berhenti berharap kepada rahmat Allah SWT dan enggan memperbaiki dirinya.
Sebaliknya, sikap yang harus kita miliki adalah senantiasa berdoa agar Allah SWT menjaga keistiqamahan kita hingga akhir hayat. Sebab, yang menjadi ukuran bukanlah bagaimana kita memulai kehidupan, melainkan bagaimana kita mengakhirinya.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Al Bukhari)
Hadis ini mengajarkan kerendahan hati kepada setiap mukmin. Tidak seorang pun mengetahui bagaimana akhir kehidupannya kelak. Oleh sebab itu, tidak ada ruang bagi kesombongan dan sikap merasa paling benar. Yang ada hanyalah terus belajar, memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan memohon husnul khatimah kepada Allah SWT.
Menjadi manusia yang baik bukan berarti tidak pernah salah, melainkan senantiasa berusaha kembali ketika terjatuh. Menjadi hamba yang mulia bukan berarti terbebas dari dosa, melainkan selalu menyesali dosa dan berusaha memperbaikinya. Surga bukan milik mereka yang merasa paling suci, tetapi milik mereka yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu ampunan Allah SWT.
Marilah kita mengganti kebiasaan menghakimi dengan mendoakan, mengganti prasangka dengan kasih sayang, dan mengganti kesombongan dengan kerendahan hati. Ketika melihat saudara kita melakukan kesalahan, doakanlah agar Allah SWT membimbingnya menuju kebaikan. Sebab, doa yang tulus untuk orang lain pada hakikatnya adalah cermin ketulusan hati kita sendiri.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki diri, menjaga lisan dari menyakiti sesama, melapangkan hati untuk memaafkan, serta mengakhiri kehidupan dalam keadaan husnul khatimah. Semoga setiap langkah yang kita tempuh bernilai ibadah, setiap ujian yang kita hadapi menjadi jalan menuju kedewasaan iman, dan setiap taubat yang kita lakukan menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT.
Selamat beraktivitas. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, rasa syukur yang tidak pernah putus, serta perlindungan-Nya kepada kita semua di mana pun berada.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.













