Jangan Menuntut Kebaikan Dunia

banner 120x600

Sering kali kita berharap dunia memperlakukan kita dengan lembut, jujur, dan penuh kasih, tetapi lupa bertanya apakah kita telah memberikan hal yang sama kepada orang lain. Islam mengajarkan bahwa kebaikan bukan sekadar sesuatu yang ingin kita terima, tetapi amanah yang harus kita tanam melalui ucapan, sikap, dan cara memperlakukan sesama.

Jangan menuntut kebaikan dari dunia jika tangan dan lisan kita masih melukai manusia. Kita ingin dihormati, tetapi belum tentu menghormati. Kita ingin dimengerti, tetapi enggan memahami. Kita ingin dimaafkan, tetapi berat memaafkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesalehan tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari seberapa aman orang lain berada di dekat kita. Apakah lisan kita menenteramkan atau melukai? Apakah keputusan kita menghadirkan keadilan atau justru penderitaan?

BERITA TERKAIT  Peringati Maulid Nabi 1448 H, MI Al Aziez Berkomitmen Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak Mulia

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Artinya: “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Inilah ujian yang berat: jangan sampai kita berubah menjadi seperti orang yang pernah melukai kita. Islam tidak melarang membela diri dan menuntut hak melalui jalan yang benar, tetapi melarang kezaliman orang lain menjadi alasan bagi kita untuk kehilangan akhlak.

Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Artinya: “Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan, seolah-olah dia menjadi teman yang sangat setia.”

Ada perbedaan antara membela diri dan melampiaskan dendam, antara menegakkan keadilan dan memuaskan kebencian. Seorang mukmin harus mampu membedakannya dengan hati yang jernih.

Jangan pula mudah merendahkan manusia. Allah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:

BERITA TERKAIT  Berhenti Selalu Mengalah Bukan Berarti Egois

لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

Artinya: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka.”

Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan seseorang. Bisa jadi orang yang kita pandang rendah memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena itu, nasihat agama semestinya membuat hati semakin lembut dan rendah hati, bukan semakin gemar menghakimi.

Kebaikan sejati bukan transaksi. Kita berbuat baik bukan karena semua manusia akan membalasnya. Kita berbuat baik karena Allah melihatnya. Kita menjaga lisan karena Allah, berlaku adil karena Allah, dan memaafkan karena mengharapkan ampunan-Nya.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)

Memaafkan bukan berarti membiarkan diri terus dizalimi. Kita boleh memaafkan sambil menjaga batas, melepaskan dendam sambil belajar dari pengalaman. Islam mengajarkan keseimbangan: lembut tetapi tidak lemah, tegas tetapi tidak kasar, pemaaf tetapi tidak ceroboh.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Jejak Kebaikan Yang Tak Pernah Hilang

Sebelum tidur, tanyakanlah: adakah hati yang menjadi lebih tenang karena kehadiranku? Adakah orang yang terbantu oleh tanganku? Ataukah justru ada hati yang terluka karena sikapku?

Jangan menunggu dunia menjadi lembut untuk mulai menjadi lembut. Jangan menunggu semua orang jujur untuk menjadi jujur. Jadilah baik karena Allah.

Kita tidak selalu dapat menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita, tetapi kita dapat menentukan bagaimana memperlakukan mereka. Kebaikan kita mungkin tidak kembali melalui manusia, tetapi tidak satu pun kebaikan luput dari pengetahuan Allah.

Sebelum menuntut dunia memberikan kebaikan, pastikan kita bukan sumber luka bagi sesama. Dan sebelum bertanya mengapa ketulusan semakin sulit ditemukan, tanyakan kepada diri sendiri: sudahkah aku menjadi salah satu alasan mengapa ketulusan itu masih hidup?

Penulis: Dwi Taufan Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *