Menjelang musim mudik Lebaran, sebuah keluarga kecil di pinggiran kota bersiap meninggalkan rumah mereka untuk pulang ke kampung halaman. Seperti banyak keluarga lain, mereka menyiapkan perjalanan dengan hati hati. Namun kewaspadaan seorang ayah terhadap rumah yang akan ditinggalkan ternyata menyimpan kegelisahan lama yang perlahan membuka rahasia mengejutkan saat mereka kembali.
Langit sore menurun perlahan di atas perumahan kecil yang berderet rapi di pinggir kota. Jalan lingkungan mulai sibuk oleh kendaraan yang berlalu lalang. Beberapa mobil terlihat dipenuhi koper, kardus, dan tas besar yang ditumpuk sampai ke kursi belakang. Bau musim mudik sudah terasa bahkan sebelum azan magrib berkumandang.
Di rumah nomor dua puluh tiga, Pak Darma duduk di kursi kayu dekat jendela ruang tamu. Tangannya memegang selembar kertas yang sudah beberapa kali ia baca. Huruf huruf di dalamnya ditulis rapi dengan pulpen biru. Ia menelusuri setiap kalimat seperti sedang memeriksa sesuatu yang sangat penting.
Di dapur, Bu Ratna sedang melipat pakaian yang akan dibawa ke kampung halaman. Rafi, anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar, berlarian kecil di ruang tengah sambil menarik koper merahnya.
“Pak, koper sudah penuh,” seru Rafi riang.
Pak Darma mengangguk sambil tetap memandangi kertas itu.
Bu Ratna keluar dari dapur sambil mengusap tangan pada celemeknya.
“Apa yang Bapak baca dari tadi?”
Pak Darma tersenyum tipis lalu meletakkan kertas itu di meja.
“Catatan sebelum mudik. Supaya tidak ada yang lupa.”
Bu Ratna mengambil kertas itu dan mulai membaca.
Jangan memberitahu di media sosial kalau kita mudik.
Titip rumah kepada tetangga yang bisa dipercaya.
Pastikan semua colokan listrik dimatikan.
Periksa kompor, air, dan tabung gas.
Kunci semua pintu dan pagar dengan rapat.
Nyalakan lampu luar rumah.
Periksa kendaraan ke bengkel sebelum perjalanan.
Bu Ratna tersenyum kecil.
“Lengkap sekali. Seperti daftar pengamanan.”
Pak Darma tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap halaman rumah melalui jendela.
“Aku hanya tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan.”
Sebenarnya ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Dua tahun lalu, ketika mereka pulang dari mudik, Pak Darma merasa ada sesuatu yang berbeda di rumah itu. Tidak ada barang hilang. Tidak ada pintu rusak. Tetapi kursi ruang tamu sedikit bergeser dan gelas di dapur tidak berada di tempat biasa.
Ia sempat berpikir mungkin hanya perasaannya.
Namun sejak hari itu, setiap mudik tiba, kegelisahan kecil selalu kembali.
Menjelang malam, Pak Darma mulai memeriksa seluruh rumah.
Ia masuk ke dapur, memastikan kompor sudah benar benar mati. Tabung gas diputar rapat. Keran air ditutup sampai tetes terakhir berhenti jatuh.
Ia kemudian berjalan ke ruang tengah dan mencabut semua colokan listrik.
Satu per satu.
Seperti seseorang yang sedang mengunci ingatan.
Di halaman depan, lampu teras dinyalakan. Cahaya kuningnya menyiram pagar besi dan pot bunga yang berjajar di tepi halaman.
Pak Darma berdiri sejenak di sana.
Ia merasa seperti sedang diperhatikan.
Namun ketika ia menoleh ke jalan, yang terlihat hanya bayangan pohon mangga yang bergerak pelan tertiup angin.
Ia kemudian berjalan menuju rumah sebelah.
Pak Rudi membuka pintu dengan wajah ramah.
“Sudah siap mudik, Pak Darma?”
“Iya. Besok subuh berangkat.”
Pak Darma menyerahkan kunci cadangan.
“Tolong sesekali lihat rumah kami.”
Pak Rudi mengangguk mantap.
“Tenang saja. Saya perhatikan.”
Subuh keesokan harinya mereka berangkat.
Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.
Lampu teras tetap menyala.
Pagar terkunci rapat.
Rumah itu tampak diam seperti benda yang tertidur.
Namun bagi Pak Darma, rumah selalu memiliki cara sendiri untuk menyimpan rahasia.
Perjalanan menuju kampung halaman berlangsung lancar.
Jalan tol dipenuhi kendaraan dengan tujuan yang sama. Rafi tertidur di kursi belakang, sementara Bu Ratna sesekali bercerita tentang rencana berkumpul dengan keluarga besar.
Pak Darma menyetir dengan tenang.
Tetapi setiap kali berhenti di rest area, ia selalu membuka ponselnya dan melihat kamera pengawas kecil yang terpasang di ruang tamu.
Semua terlihat normal.
Terlalu normal.
Hari hari Lebaran berlalu cepat.
Tawa keluarga, hidangan khas kampung, dan cerita masa kecil membuat waktu terasa pendek.
Pak Darma mencoba menikmati semuanya, tetapi kadang ia masih memikirkan rumahnya.
Rumah yang sedang kosong.
Seminggu kemudian mereka pulang.
Mobil memasuki kompleks perumahan yang sama.
Rafi menunjuk dari kursi belakang.
“Itu rumah kita!”
Pak Darma memperlambat mobil.
Namun ketika mereka berhenti di depan pagar, jantungnya berdetak lebih cepat.
Lampu teras masih menyala.
Padahal siang hari.
Pak Darma turun dari mobil.
Ia membuka pagar perlahan.
Pintu depan masih terkunci.
Tidak ada bekas kerusakan.
Tidak ada tanda orang memaksa masuk.
Namun udara di dalam rumah terasa berbeda ketika pintu dibuka.
Seperti ada seseorang yang baru saja pergi.
Ruang tamu tampak rapi.
Tidak ada barang yang hilang.
Tetapi kursi kayu dekat jendela sedikit bergeser.
Persis seperti yang pernah ia lihat dua tahun lalu.
Pak Darma berjalan pelan menuju meja.
Di sana ada secarik kertas.
Kertas yang bukan miliknya.
Ia mengambilnya.
Tulisan tangan di atasnya pendek.
Namun membuat darahnya terasa dingin.
Terima kasih sudah mengikuti semua saran keamanan itu.
Pak Darma membaca kalimat berikutnya dengan napas tertahan.
Rumah ini tidak pernah benar benar kosong.
Bu Ratna berdiri di belakangnya.
“Siapa yang menulis itu?”
Pak Darma tidak menjawab.
Matanya perlahan bergerak ke arah sudut ruang tamu.
Di sana ada cangkir kopi kecil.
Masih menyisakan noda cokelat di dasar gelas.
Pak Darma memandangi cangkir itu dengan wajah pucat.
Ia akhirnya mengerti sesuatu yang sejak lama ia rasakan.
Kertas di tangannya bergetar.
Tulisan tangan itu sangat ia kenal.
Tulisan itu adalah tulisannya sendiri.
Namun ia sama sekali tidak pernah ingat pernah menulisnya.














