Amplop Kosong di Pintu Resepsi

banner 120x600

Musim kondangan selalu membawa saya pulang ke akhir 1980 an, ketika mahasiswa kampus sebelah menyelinap ke pesta pernikahan dengan batik pinjaman dan amplop kosong. Mereka menyebutnya program perbaikan gizi, sebuah siasat halus menunda lapar tanpa mengaku miskin. Namun puluhan tahun kemudian, di sebuah resepsi mewah, masa lalu itu tiba tiba menagih salamnya.

Musim kondangan selalu datang seperti gelombang, membuat kalender tiba tiba penuh dan dompet tiba tiba menipis. Setiap undangan membuat saya teringat aroma nasi hangat di gedung resepsi, suara piring bertabrakan, dan senyum orang orang yang sebenarnya tidak saling kenal. Saya berdiri di depan lemari, memilih batik terbaik, lalu menatap amplop putih yang masih kosong di meja. Entah mengapa, tangan saya mendadak berat, seolah amplop itu bukan sekadar kertas, melainkan pintu yang bisa membuka masa lalu.

Di pintu gedung, panitia berseragam rapi memeriksa undangan satu per satu, jauh berbeda dengan zaman saya kuliah dulu. Ada daftar nama, ada scanner, ada meja penerima tamu yang wajahnya serius. Saya menghela napas dan berusaha tersenyum, tetapi mata saya menangkap sesuatu yang membuat dada saya sedikit sesak. Di sudut pintu masuk, seorang pria tua berdiri diam, memperhatikan tamu yang lewat dengan tatapan yang terlalu teliti untuk sekadar sopan santun.

Tatapan itu seperti memutar tuas ingatan yang lama berkarat. Seketika saya terlempar ke akhir 1980 an, masa ketika saya masih mahasiswa yang terbiasa menghitung uang sampai recehan terakhir. Kiriman orang tua sering terlambat, kadang tidak cukup untuk seminggu, dan kami belajar bertahan hidup dengan segala cara yang tidak selalu bisa diceritakan. Namun yang paling lihai bukan teman teman kampus saya. Yang paling kreatif justru mahasiswa dari kampus sebelah, mereka yang punya nyali lebih besar daripada rasa malu.

Mereka menyebut musim hajatan sebagai musim panen, bukan panen uang, melainkan panen makanan. Di sekitar kampus, setiap akhir pekan selalu ada pesta perkawinan di gedung gedung serbaguna, dan orang orang keluar masuk seperti arus sungai. Saat itu tidak ada barcode undangan, tidak ada pemeriksaan ketat, dan keluarga pengantin sering tidak saling mengenal. Dalam keramaian seperti itu, wajah asing tidak pernah menjadi masalah besar, karena semua orang terlalu sibuk menjaga keramahan.

Pemimpin mereka bernama Arif, tubuhnya kurus, rambutnya selalu rapi, dan caranya bicara tenang seperti orang yang tidak pernah kekurangan. Ia punya kemampuan membaca situasi hanya dari spanduk dan deretan papan bunga di depan gedung. Ia tahu pesta mana yang besar, mana yang sederhana, dan jam berapa orang mulai berbondong bondong datang. Ia selalu berkata bahwa yang paling penting bukan perut, melainkan ekspresi, sebab orang lapar mudah terlihat dari cara matanya bergerak.

Arif mengajarkan satu prinsip yang waktu itu terdengar lucu, tetapi sekarang terasa pahit. Ia bilang, yang paling mencurigakan bukan tamu yang tidak dikenal, melainkan tamu yang tampak takut. Maka mereka selalu tampil tenang, memakai batik pinjaman, sepatu yang masih layak, dan menggenggam amplop putih kosong seolah berisi doa dan uang. Amplop itu seperti jimat, ringan di tangan tetapi berat di hati, sebab semua orang mengira itu tanda ikut berbagi. Mereka menyebut aksi itu sebagai program perbaikan gizi, lalu tertawa, seolah kelaparan adalah lelucon yang bisa dipeluk.

Saya awalnya hanya melihat mereka dari jauh, dengan rasa geli yang bercampur iri. Ada sesuatu yang memalukan sekaligus mengagumkan dari keberanian mereka. Mereka masuk beriringan seperti rombongan keluarga jauh, menyalami beberapa orang, lalu duduk sebentar menunggu situasi ramai. Setelah itu mereka bergerak ke prasmanan dengan langkah pelan, mengambil makanan secukupnya, lalu kembali lagi setelah beberapa menit. Tidak ada gerakan kasar, tidak ada kesan rakus, tetapi jelas mereka sedang mengubah pesta orang menjadi dapur penyelamat.

Sampai suatu sore, Arif menepuk bahu saya di depan kos dan bertanya apakah saya mau ikut. Saya masih ingat bagaimana suara perut saya menjawab lebih cepat daripada mulut saya. Ia menyodorkan sebuah amplop kosong yang masih bersih, lalu mengajari cara memegangnya dengan santai. Katanya, amplop itu bukan sekadar alat penyamaran, tetapi tiket agar orang tidak melihat kita sebagai pengemis. Kalimat itu membuat saya tertawa kecil, padahal sebenarnya saya sedang menahan malu.

Saya meminjam batik dari teman kamar dan ikut berjalan bersama mereka menuju gedung resepsi dekat kampus. Di depan gedung, papan bunga berdiri seperti gerbang kehormatan, sementara musik dangdut terdengar dari dalam. Seorang ibu muda menyambut kami dengan senyum lelah, lalu menunjuk meja buku tamu. Arif menulis nama dengan cepat, saya tidak sempat melihat apa yang ia tulis, tetapi saya yakin bukan nama aslinya. Saya menulis nama saya sendiri, tetapi tangan saya bergetar kecil, seolah pena itu sedang menandatangani dosa.

Di dalam gedung, suasana ramai seperti pasar malam. Orang orang berdesakan untuk bersalaman, tertawa, memotret, dan saling menyapa tanpa benar benar mengenal. Kami bergerak pelan, menundukkan kepala, menyalami beberapa tamu yang berdiri di dekat pintu. Saya mengucapkan selamat dengan suara sopan, dan mereka membalas dengan hangat, seolah saya memang bagian dari lingkaran keluarga. Pada saat itu saya sadar betapa mudahnya manusia mempercayai orang asing selama orang asing itu tampak pantas dipercaya.

Arif tidak langsung menuju prasmanan, ia duduk dulu sambil menatap panggung. Ia mengangguk pelan seolah memahami prosesi, lalu menyeka keringat di dahi seperti orang yang baru menempuh perjalanan jauh. Kami mengikuti gaya itu, menunggu beberapa menit sampai arus tamu makin padat. Barulah Arif berdiri, merapikan batiknya, lalu berjalan ke meja makanan dengan keyakinan yang membuat saya iri. Saya ikut di belakangnya dan berusaha mengatur napas agar tidak tampak seperti orang yang baru keluar dari kelaparan panjang.

Saat sendok pertama menyentuh nasi, saya merasa seperti diselamatkan dari jurang. Saya mengambil ayam goreng, sayur, sambal, dan kerupuk, lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan. Arif menatap saya dan berbisik agar jangan mengambil terlalu banyak sekaligus. Katanya, orang yang terlalu bersemangat di depan makanan akan terlihat seperti orang yang tidak punya rumah. Saya menahan tawa, tetapi di dalam dada saya ada rasa pedih, sebab kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan.

Kami makan pelan, mencoba menjaga kesopanan, dan untuk beberapa menit saya lupa bahwa saya sedang menyusup. Aroma nasi hangat dan ayam goreng membuat kepala saya ringan, seolah hidup kembali normal. Saya bahkan sempat membalas sapaan seorang bapak tua yang duduk di meja sebelah. Bapak itu tersenyum ramah dan menanyakan dari pihak mana saya datang, dan saya menjawab dengan jawaban kabur yang saya sendiri tidak mengerti. Aneh, ia mengangguk saja, seolah jawaban kabur adalah hal yang biasa dalam pesta.

Namun ketenangan itu tidak lama. Di sudut ruangan, saya melihat seorang pria berdiri diam, memperhatikan tamu dengan mata tajam. Ia tidak tertawa, tidak makan, tidak ikut bersalaman, dan tubuhnya tegak seperti tiang. Arif langsung menarik lengan saya pelan, lalu menyuruh kami berpindah tempat tanpa tergesa. Ia berbisik bahwa pria itu panitia pengawas, orang yang hafal wajah keluarga besar. Saya menelan ludah, dan tiba tiba makanan di mulut saya terasa seperti pasir.

Kami bergerak ke dekat panggung, berbaur dengan antrean ibu ibu yang hendak bersalaman. Jantung saya berdetak keras, dan saya takut suara itu terdengar oleh orang lain. Arif tetap tenang, bahkan sempat tersenyum kepada pengantin laki laki dengan percaya diri. Pengantin itu membalas salamnya tanpa ragu, seolah Arif adalah teman lama yang baru datang dari kota jauh. Saya terpaku melihatnya, karena di saat itu saya sadar bahwa kebohongan paling kuat adalah kebohongan yang disampaikan dengan sopan.

Setelah bersalaman, Arif mengajak kami menuju pintu keluar dengan langkah santai. Ia tidak pernah lari, karena menurutnya orang yang lari adalah orang yang sudah mengaku bersalah sebelum ditangkap. Di luar gedung, angin sore menyentuh wajah saya dan membuat tubuh saya menggigil kecil. Saya merasa seperti baru lolos dari perang yang tidak tercatat dalam sejarah. Arif tertawa pelan, tetapi tawanya tidak benar benar gembira, melainkan tawa orang yang sedang menahan rasa getir.

Sejak hari itu, saya beberapa kali ikut lagi, karena kelaparan lebih sering datang daripada rasa malu. Kami menjelajahi pesta demi pesta, dari gedung dekat kampus sampai tenda pinggir jalan. Arif selalu punya perhitungan rapi, kapan masuk, kapan makan, kapan keluar, dan kapan harus menunduk agar tidak dikenali. Kadang saya tertawa bersama mereka, tetapi setiap kali melihat kotak sumbangan di dekat panggung, dada saya terasa sesak. Saya selalu membawa amplop kosong itu pulang, ringan seperti tidak ada dosa, tetapi berat seperti batu yang disimpan dalam saku.

Tahun demi tahun berlalu, dan kami akhirnya lulus. Dalam pertemuan alumni, kisah program perbaikan gizi selalu menjadi bahan tawa. Orang orang menirukan gaya Arif memegang amplop kosong, lalu tertawa seolah masa miskin adalah komedi. Arif sendiri ikut tertawa, tetapi matanya sering memandang jauh, seolah ada sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan. Saya menyadari bahwa beberapa luka memang bisa ditertawakan, tetapi tidak pernah benar benar sembuh.

Kini, puluhan tahun kemudian, saya berdiri di depan gedung resepsi yang jauh lebih mewah. Musiknya bukan lagi dangdut pelan, melainkan iringan modern yang terdengar seperti hotel. Meja prasmanannya panjang, menunya berlapis, dan para pelayan bergerak cekatan seperti mesin. Saya menggenggam amplop yang kali ini berisi uang sungguhan, namun perasaan saya tidak lebih ringan daripada dulu. Masa lalu seperti berdiri di belakang saya, menunggu kesempatan untuk menepuk bahu.

Ketika saya hendak masuk, pria tua di sudut pintu itu melangkah mendekat. Suaranya pelan tetapi tegas, seperti orang yang terbiasa memegang kendali. Ia meminta undangan saya, menatapnya sebentar, lalu mengangguk. Setelah itu ia menatap wajah saya lebih lama, seolah sedang membuka lemari ingatan yang sudah lama terkunci. Saya berusaha tersenyum, tetapi bibir saya terasa kaku.

Masih ingat saya, katanya, dengan nada yang membuat tengkuk saya merinding. Saya menggeleng pelan, karena saya benar benar tidak yakin siapa dia. Namun sebelum saya sempat bertanya, ia berbisik bahwa ia pernah melihat saya di gedung dekat kampus, bertahun tahun lalu. Ia menyebut batik pinjaman, amplop kosong, dan cara saya menunduk saat menulis di buku tamu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti paku kecil yang menancap di kepala saya.

Saya menelan ludah dan ingin meminta maaf, tetapi suara saya tertahan. Saya ingin mengatakan bahwa saya lapar, bahwa saya masih muda, bahwa saya bodoh, tetapi semua alasan itu terdengar seperti pengemis yang sedang mencari pembenaran. Pria itu menepuk bahu saya pelan dan menyuruh saya tenang. Ia berkata bahwa ia tidak pernah melaporkan kami, tidak pernah memanggil satpam, dan tidak pernah membuat keributan. Kalimat itu membuat saya hampir lega, sampai ia melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

Soalnya saya juga bukan panitia, katanya.

Saya menatapnya dengan mata membesar, dan pria itu tersenyum seperti seseorang yang baru membuka rahasia lama. Ia mengatakan bahwa dulu ia berdiri di sudut ruangan pura pura mengawasi, supaya tamu lain percaya bahwa acara aman, dan supaya rombongan Arif bisa keluar tanpa dicurigai. Ia menyebut nama Arif dengan jelas, seolah nama itu masih hidup di lidahnya. Lalu ia menghela napas pendek, seperti orang yang baru selesai menahan beban panjang.

Saya terpaku, karena saya ingat wajah pengawas itu, dan saya ingat ketakutan yang dulu membuat saya hampir muntah. Pria tua ini adalah wajah yang sama, hanya lebih tua, lebih tenang, dan lebih berwibawa. Ia menatap saya sekali lagi, lalu menunjuk ke dalam gedung. Di sana, pengantin laki laki sedang duduk di pelaminan, tersenyum kepada tamu dengan wajah yang mirip pria tua ini.

Sekarang saya ayah pengantin laki laki, katanya. Ia lalu menepuk amplop di tangan saya, seolah sedang memastikan sesuatu. Ia bertanya pelan, apakah amplop saya masih kosong seperti dulu. Saya ingin tertawa, tetapi tawa itu tidak keluar, karena yang muncul justru rasa malu yang menyesakkan. Saya hanya menggeleng, dan ia mengangguk pelan seperti orang yang mengerti.

Pria tua itu berjalan masuk dengan langkah mantap, meninggalkan saya di depan pintu. Saya berdiri beberapa detik, menatap amplop saya sendiri, dan untuk pertama kalinya saya merasa amplop itu jauh lebih berat daripada uang di dalamnya. Di tengah musik, tawa, dan aroma makanan yang menggoda, saya mendadak teringat wajah Arif yang dulu tertawa pelan di luar gedung. Saya sadar, selama ini kami menertawakan masa miskin dengan bangga, padahal ada orang lain yang diam diam menjaga kami agar tidak dipermalukan. Dan mungkin, sejak awal, yang paling lapar bukan perut kami, melainkan harga diri kami sendiri.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *