Pasar adalah tempat manusia mengejar kebutuhan dunia. Namun di tengah hiruk-pikuk jual beli, seorang mukmin tetap dapat menemukan jalan menuju Allah. Ketika banyak hati sibuk menghitung keuntungan dan mengejar kesenangan, ada hati yang memilih mengingat Zat Yang Memberi segala rezeki.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam mengisahkan dua orang saleh yang bertemu di pasar. Salah seorang berkata, “Mari kita berdzikir mengingat Allah di saat manusia sedang lalai.” Mereka kemudian menyendiri, berdzikir, lalu berpisah. Setelah salah seorang meninggal, sahabatnya melihatnya dalam mimpi. Ia berkata, “Tahukah engkau bahwa Allah telah mengampuni kita pada sore hari ketika kita bertemu di pasar?”
Kisah ini mengajarkan betapa berharganya mengingat Allah ketika lingkungan sekitar tenggelam dalam kelalaian. Pada zaman sekarang, “pasar” dapat berupa kantor, kendaraan, pusat perbelanjaan, tempat kerja, media sosial, bahkan ruang digital yang begitu mudah membuat manusia lupa kepada Tuhannya.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Dzikir bukan hanya dilakukan di masjid atau ketika suasana sunyi. Seorang mukmin membawa kesadaran kepada Allah dalam seluruh kehidupannya. Ia bekerja sambil mengingat Allah, berdagang dengan jujur karena mengingat Allah, dan menghadapi kesibukan dunia dengan hati yang tetap terhubung kepada-Nya.
Allah juga berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Manusia dapat memiliki harta, jabatan dan popularitas, tetapi hatinya tetap kosong. Ketenteraman terdalam bukan berasal dari banyaknya sesuatu yang dimiliki, melainkan dari kepada siapa hati bergantung.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari)
Karena itu, salah satu kebutuhan terbesar manusia adalah menjaga agar hatinya tetap hidup. Dunia membuat kita sibuk memperbaiki rumah, kendaraan, pekerjaan, penghasilan dan penampilan, tetapi terkadang lupa memperbaiki hati.
Allah mengingatkan, “Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Yang membuat manusia lalai bukan hanya kemaksiatan. Pekerjaan, keluarga dan berbagai kesibukan yang halal pun dapat menjadi sebab kelalaian apabila membuat kita meninggalkan kewajiban dan kehilangan kesadaran kepada Allah.
Pelajaran dari kisah dua orang di pasar itu adalah: jangan hanya berdzikir ketika suasana mendukung. Belajarlah mengingat Allah ketika suasana justru mengajak kepada kelalaian. Ketika orang sibuk mengejar keuntungan, jagalah kejujuran. Ketika orang mudah mencela, tahanlah lisan. Ketika manusia berlomba memamerkan sesuatu, belajarlah bersyukur. Ketika manusia lupa kepada Allah, ingatlah kepada-Nya.
Namun dzikir bukan sekadar gerakan lidah. Dzikir yang benar harus menghidupkan hati, menumbuhkan rasa takut berbuat zalim, rasa malu kepada Allah, kecintaan kepada kebaikan dan keinginan memperbaiki diri.
Jangan meremehkan satu menit untuk mengingat Allah. Kita tidak pernah tahu amal mana yang menjadi sebab datangnya rahmat-Nya. Mungkin sebuah istighfar ketika sendirian, tasbih di tengah kesibukan, dua rakaat ketika orang lain tertidur, sedekah yang dirahasiakan, menahan amarah, atau memaafkan seseorang.
Jangan menunggu tua untuk memperbanyak dzikir. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur. Waktu yang kita miliki hari ini adalah kesempatan yang tidak akan kembali.
Semoga kita mampu menjaga hati dalam keramaian, mengingat Allah ketika dunia membuat manusia lupa, serta menjadikan setiap kesibukan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Sebab mungkin satu dzikir sederhana yang kita ucapkan dengan ikhlas hari ini menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita dan melimpahkan rahmat-Nya.













