BuserNasional.my.id – Ada perjalanan yang tidak segera menjelaskan mengapa kita harus melaluinya. Ada ikhtiar yang hasilnya tertunda, doa yang belum tampak jawabannya, dan langkah yang terasa berulang tanpa kepastian. Kisah Hajar mengajarkan bahwa iman bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang hamba diperintahkan berusaha, berdoa, bersabar, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 158)
Safa dan Marwah bukan sekadar dua tempat dalam perjalanan sa’i. Keduanya mengabadikan perjuangan seorang ibu yang berada dalam keadaan sangat sulit. Ketika persediaan air habis dan Ismail kehausan, Hajar tidak hanya duduk menunggu pertolongan. Ia naik ke Safa, melihat ke lembah, turun, berlari menuju Marwah, lalu kembali lagi. Tujuh kali ia melakukannya.
Ia tidak mengetahui kapan pertolongan datang dan dari mana air akan muncul. Namun ketidaktahuan terhadap hasil tidak menghentikan ikhtiarnya.
Inilah hakikat tawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha karena merasa semuanya telah ditentukan Allah. Tawakal adalah mengerahkan kemampuan dengan benar, sementara hati tetap bergantung kepada Allah.
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Kita bekerja, tetapi rezeki milik Allah. Kita berobat, tetapi kesembuhan berada dalam ketetapan Allah. Kita mendidik anak, tetapi hidayah milik Allah. Kita berdoa dan berusaha, tetapi hasil akhirnya berada dalam kekuasaan-Nya.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyebut sebuah ikhtiar gagal hanya karena hasilnya belum terlihat. Hajar berjalan berkali-kali. Langkah pertama belum menemukan air. Langkah berikutnya pun demikian. Tetapi ia terus bergerak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersungguh-sungguhlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”
(HR. Muslim)
Ada saatnya kita perlu berhenti bertanya, “Mengapa Allah melakukan ini kepadaku?” dan mulai bertanya, “Apa yang dapat kulakukan dalam keadaan ini?”
Pertanyaan itu melahirkan ikhtiar.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh: 5-6)
Kita sering hanya melihat satu bagian perjalanan, sedangkan Allah mengetahui keseluruhannya. Kita menganggap keterlambatan sebagai kegagalan, padahal mungkin Allah sedang melindungi. Kita menganggap kehilangan sebagai akhir, padahal mungkin Allah sedang membuka jalan yang baru.
Pertolongan Allah pun tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita inginkan. Bisa berupa kekuatan untuk bertahan, hati yang menjadi tenang, seseorang yang datang menolong, kegagalan yang menyelamatkan, atau penundaan yang membuat kita lebih matang.
Karena itu, jika sedang mencari rezeki, carilah yang halal. Jika sedang memperbaiki keluarga, mulailah dari diri sendiri. Jika sedang meninggalkan dosa, jangan menyerah karena pernah jatuh. Jika sedang menunggu jawaban doa, teruslah berdoa dan berikhtiar.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu… Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Tugas seorang hamba bukan mengetahui seluruh rahasia takdir. Tugasnya adalah tetap taat dalam setiap keadaan: bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika diuji, bertobat ketika salah, berikhtiar ketika memiliki kesempatan, dan bertawakal setelah melakukan yang terbaik.
Mungkin hari ini kita sedang berada di tengah perjalanan yang belum dipahami.
Jangan berhenti hanya karena belum melihat Zamzam.
Teruslah berjalan. Teruslah berdoa. Jaga kehalalan jalan dan jangan berputus asa.
Sebagaimana langkah Hajar diabadikan menjadi ibadah sa’i, kita pun tidak pernah tahu apakah perjuangan kecil hari ini kelak menjadi sebab datangnya pertolongan dan keberkahan.
Tidak ada langkah ketaatan yang sia-sia. Allah mengetahui doa yang terus diulang, kesabaran yang tidak terlihat, rezeki halal yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dosa yang berhasil ditinggalkan, dan kebaikan yang dilakukan dalam kesunyian.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tekun dalam ikhtiar, sabar dalam penantian, kuat ketika diuji, dan tawakal ketika menyerahkan hasil. Semoga setiap perjalanan hidup membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.













