Menjaga Persaudaraan Di Atas Perbedaan

banner 120x600

Busernasional.my.id. Masalah terbesar yang dihadapi manusia sering kali bukan terletak pada agama yang diturunkan Allah, melainkan pada cara manusia memahami, mengamalkan, dan memperlakukan ajaran agama. Ketika identitas dijadikan alat untuk meninggikan diri, merendahkan orang lain, bahkan membenarkan permusuhan, maka nilai luhur agama kehilangan cahayanya. Islam justru mengajarkan kasih sayang, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi satu kelompok, suku, bangsa, atau golongan tertentu. Karena itu, setiap Muslim hendaknya selalu berhati-hati agar tidak terjebak dalam sikap fanatisme buta yang melahirkan kebencian. Fanatisme terhadap kebenaran yang didasarkan pada ilmu adalah sesuatu yang terpuji, tetapi fanatisme terhadap kelompok hingga menutup mata terhadap kebenaran adalah penyakit hati yang harus dihindari.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kasih sayang bagi seluruh manusia. Dakwah beliau tidak dibangun di atas kebencian, melainkan di atas kelembutan, hikmah, dan kasih sayang. Bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya, beliau tetap menunjukkan akhlak yang mulia.

Sering kali manusia merasa kelompoknya paling benar, lalu memandang rendah kelompok lain. Padahal Allah mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari identitas, suku, organisasi, ataupun golongannya, melainkan dari ketakwaannya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

(QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman adalah kehendak Allah. Perbedaan bukanlah alasan untuk saling membenci, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, belajar, bekerja sama dalam kebaikan, dan berlomba dalam ketakwaan. Ketika manusia mengubah perbedaan menjadi permusuhan, sesungguhnya ia telah menyimpang dari tujuan yang Allah tetapkan.

Islam juga melarang kaum beriman saling bermusuhan dan memecah belah persaudaraan. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Persatuan yang diajarkan Islam bukanlah persatuan yang dibangun atas kesamaan kepentingan duniawi, melainkan persatuan yang dibangun di atas keimanan, akhlak mulia, dan ketaatan kepada Allah. Karena itu, setiap Muslim wajib menjaga lisannya agar tidak mudah menghasut, memfitnah, atau menanamkan kebencian terhadap sesama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menaikkan harga untuk menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya, dan tidak merendahkannya.”

(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pedoman penting dalam membangun kehidupan yang damai. Permusuhan biasanya berawal dari penyakit hati, seperti iri, sombong, merasa paling benar, atau haus akan pengakuan. Jika hati tidak dibersihkan, maka identitas apa pun dapat dijadikan alasan untuk menyerang orang lain.

Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa menjaga persaudaraan tidak berarti mencampuradukkan akidah atau mengorbankan prinsip-prinsip agama. Seorang Muslim tetap wajib berpegang teguh pada kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah, tetapi dalam menyampaikan kebenaran harus dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan akhlak yang mulia.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”

(QS. An-Nahl [16]: 125)

Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah bukanlah arena untuk saling mengalahkan atau mempermalukan orang lain. Dakwah adalah ikhtiar mengajak manusia menuju kebaikan dengan kelembutan, kesabaran, dan keteladanan.

Pada akhirnya, dunia tidak akan menjadi lebih damai apabila manusia terus sibuk membangun tembok pemisah antara “kami” dan “mereka”. Kedamaian justru lahir ketika setiap orang mampu menempatkan dirinya sebagai hamba Allah yang rendah hati, menghormati sesama, menegakkan keadilan, serta menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai pedoman hidup. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, fanatisme yang tercela, dan kebencian yang tidak beralasan, lalu menggantinya dengan iman, hikmah, kasih sayang, dan persaudaraan yang diridhai-Nya. Aamiin.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *