Lamongan– Busernasional.my.id – Di tengah citra polisi yang lebih sering hadir dalam berita melalui penegakan hukum, sosok Ipda Purnomo menawarkan wajah berbeda. Selama hampir satu dekade, anggota Polres Lamongan itu memilih merawat orang-orang yang tersisih, terutama orang dengan gangguan jiwa. Dari rumahnya, kepedulian pribadi tumbuh menjadi gerakan sosial yang menjangkau ribuan manusia dan akhirnya membawanya menerima penghargaan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Jakarta, 1 Juli 2026. Di tengah upacara puncak Hari Bhayangkara ke-80, Ipda Purnomo berdiri menerima penghargaan Polisi Inspiratif dari Presiden Prabowo Subianto. Momen itu menjadi puncak dari perjalanan panjang seorang anggota Polri yang selama bertahun-tahun mengabdikan sebagian hidupnya untuk merawat orang dengan gangguan jiwa, membantu warga miskin, mendampingi keluarga, dan mengerjakan berbagai kegiatan sosial di luar tugas rutinnya sebagai polisi.
Pemberitaan Memorandum Disway dan Ketik.com pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Purnomo dinilai memiliki dedikasi kemanusiaan yang melampaui tugas kepolisian sehari-hari. Namun, penghargaan itu sesungguhnya bukanlah awal dari kisahnya. Ia hanyalah sebuah titik ketika kerja panjang yang berlangsung di tingkat akar rumput memperoleh pengakuan di tingkat nasional.
Kisah Purnomo bermula dari perjumpaan dengan manusia yang berada dalam kondisi paling rentan. Dalam wawancara dengan Suara Surabaya pada 1 Juli 2025, Purnomo dan istrinya, Lilik Ika Wahyuni, menceritakan bagaimana suatu ketika ia pulang dari dinas dengan membawa dua orang dengan gangguan jiwa yang ditemukan dalam keadaan terlantar dan tanpa busana. Bagi keluarga Purnomo, keputusan itu semula bukanlah bagian dari rencana besar. Mereka bahkan tidak memiliki pengalaman menangani ODGJ.
Yang tersedia ketika itu hanyalah rasa tidak tega.
Lilik harus belajar memberi makan dan memandikan orang-orang yang dibawa suaminya. Purnomo sendiri tetap menjalankan tugas kepolisian. Rumah yang sebelumnya menjadi ruang keluarga perlahan berubah menjadi tempat singgah bagi mereka yang tidak mempunyai tempat untuk pulang. Dari pengalaman yang serba terbatas itu, tumbuh sebuah kesadaran: persoalan ODGJ tidak cukup diselesaikan hanya dengan membawa seseorang dari jalanan ke sebuah tempat yang lebih aman. Mereka membutuhkan perawatan, pendampingan, penerimaan, dan jika memungkinkan, jalan kembali kepada keluarga.
Inilah yang kemudian menjadi ciri penting kerja Purnomo. Ia tidak hanya berbicara tentang menampung. Ia berusaha mempertemukan kembali pasien dengan keluarga setelah kondisi mereka membaik. Dalam berbagai pemberitaan, ia berkali-kali menekankan pentingnya keluarga dalam proses pemulihan. Suara Surabaya bahkan mencatat bahwa harapan untuk dapat mempertemukan orang-orang yang dirawat dengan keluarganya menjadi salah satu alasan yang membuat Purnomo dan istrinya terus bertahan.
Dari sebuah rumah, aktivitas itu kemudian berkembang menjadi Yayasan Berkas Bersinar Abadi. Pemerintah Kabupaten Lamongan sendiri telah mencatat keberadaan yayasan tersebut. Dalam kunjungan pada 2023, Dinas Kesehatan Lamongan melaporkan bahwa ketika itu terdapat 137 ODGJ yang dibina Purnomo, dengan sebagian besar mendapatkan layanan secara gratis. Pemerintah daerah juga melihat inisiatif tersebut sebagai mitra dalam menghadapi persoalan kesehatan jiwa di masyarakat.
Angka itu memberikan gambaran bahwa gerakan Purnomo sejak awal bukan sekadar aktivitas personal. Ada organisasi, ada masyarakat yang membantu, ada keluarga yang menitipkan anggota keluarganya, dan ada persoalan sosial yang terus datang. Dalam perjalanan berikutnya, skala penanganan semakin besar.
Pada 2026, sejumlah media melaporkan bahwa Purnomo bersama tim telah menangani atau merehabilitasi sekitar 7.000 ODGJ selama kurang lebih satu dekade. Angka tersebut perlu dibaca secara tepat. Ia bukan berarti 7.000 orang tinggal secara bersamaan di satu tempat, melainkan jumlah orang yang telah ditangani dalam rentang perjalanan pelayanan yang panjang, termasuk mereka yang dirawat sementara, menjalani rehabilitasi, dan kemudian kembali kepada keluarganya.
Justru di balik angka 7.000 itu terdapat pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada sekadar menghitung jumlah pasien. Setiap orang datang dengan cerita berbeda. Ada yang ditemukan terlantar. Ada yang tidak mempunyai keluarga yang mampu merawat. Ada yang mengalami stigma. Ada pula yang sebelumnya hidup dalam pemasungan.
Pada titik inilah kisah Purnomo bersinggungan dengan persoalan sosial yang lebih besar. ODGJ bukan semata-mata persoalan medis. Di dalamnya terdapat persoalan kemiskinan, pendidikan keluarga, stigma masyarakat, keterbatasan akses layanan, ketidaktahuan tentang kesehatan jiwa, bahkan persoalan keselamatan. Ketika sebuah keluarga tidak tahu harus membawa anggota keluarganya ke mana, ruang kosong itulah yang sering kali harus diisi oleh inisiatif masyarakat.
Kasus pemasungan menjadi salah satu gambaran paling keras. Sejumlah pasien yang pernah ditangani Purnomo datang setelah mengalami perlakuan yang sangat panjang dan menyakitkan. Ketika seseorang dapat dipasung bertahun-tahun, persoalannya tidak lagi hanya tentang gangguan jiwa. Itu juga menunjukkan bahwa lingkungan sosial di sekitarnya belum menemukan cara yang lebih manusiawi untuk melindungi dan merawatnya.
Pemerintah Kabupaten Lamongan sebenarnya memiliki program kesehatan jiwa, termasuk Lesung Sipanji yang diarahkan untuk menghapus praktik pasung dan memanusiakan pasien jiwa. Karena itu, keberadaan Purnomo sebaiknya tidak dibaca sebagai pengganti negara. Sebaliknya, ia memperlihatkan bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat bertemu di sebuah persoalan yang terlalu besar jika hanya dibebankan kepada satu pihak.
Di sinilah kisahnya menjadi lebih menarik secara jurnalistik.
Purnomo bukan tenaga kesehatan jiwa yang tiba-tiba mendirikan layanan medis. Ia adalah polisi yang menemukan persoalan kemanusiaan di lapangan dan kemudian masuk ke ruang sosial yang selama ini tidak selalu tersentuh oleh tugas kepolisian secara langsung. Ia membantu karena berhadapan dengan manusia yang membutuhkan pertolongan. Setelah itu, sistem pendukung dibangun sedikit demi sedikit.
Perjalanan tersebut juga memperlihatkan bahwa kerja sosial tidak mungkin bertahan hanya dengan niat baik. Ada kebutuhan makanan, tempat tinggal, obat-obatan, tenaga pendamping, transportasi, kebersihan, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Pada 2024, Radar Lamongan melaporkan bahwa sekitar 250 ODGJ berada dalam perawatan Purnomo. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar aktivitas sukarela dalam skala kecil.
Lalu dari mana biaya itu datang?
Dalam pemberitaan Ketik.com pada 1 Juli 2026 disebutkan bahwa kegiatan sosial Purnomo ditopang oleh gajinya sebagai anggota Polri, penghasilan dari konten media sosial, serta bantuan para donatur. Sumber lain yang lebih lama, seperti Green Network pada 2022, juga mencatat bahwa penghasilan dari kanal YouTube Purnomo Belajar Baik ikut menopang aktivitas sosialnya.
Di sinilah era digital menemukan fungsi sosialnya. Media sosial tidak hanya menjadi tempat seseorang membangun popularitas. Bagi Purnomo, kanal digital juga menjadi jembatan antara persoalan yang terjadi di lapangan dan masyarakat yang ingin membantu. Orang-orang mengetahui pasien yang dirawat, melihat kebutuhan mereka, kemudian sebagian memilih ikut menyumbang.
Namun model semacam ini sekaligus membutuhkan tata kelola yang semakin kuat.
Semakin banyak orang yang dilayani, semakin besar kebutuhan terhadap transparansi. Donasi perlu dikelola secara akuntabel. Identitas dan martabat pasien harus dilindungi. Pendampingan perlu memenuhi standar keselamatan. Kebutuhan medis harus ditangani oleh tenaga yang kompeten. Keluarga harus dilibatkan. Dan keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari apakah seseorang keluar dari tempat perawatan, tetapi apakah ia mampu kembali hidup secara aman dan bermartabat di tengah keluarganya.
Di sinilah Purnomo dan gerakannya memasuki fase yang lebih penting. Ketika sebuah inisiatif personal berkembang menjadi layanan sosial dengan ribuan penerima manfaat, ukuran keberhasilan tidak lagi cukup berupa ketulusan. Ketulusan adalah fondasi, tetapi keberlanjutan membutuhkan sistem.
Hal itu tidak mengurangi nilai pengabdiannya. Justru sebaliknya. Jika kerja yang bermula dari kepedulian pribadi dapat berkembang menjadi gerakan sosial, maka tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi model kolaborasi yang lebih luas.
Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Keluarga juga tidak selalu mempunyai kemampuan untuk menangani ODGJ tanpa bantuan. Masyarakat membutuhkan edukasi. Tenaga kesehatan membutuhkan dukungan. Aparat di lapangan membutuhkan jejaring rujukan. Lembaga sosial membutuhkan tata kelola. Semuanya harus bertemu.
Dalam konteks itu, posisi Purnomo menjadi menarik. Ia menunjukkan bahwa polisi dapat memainkan peran sebagai penghubung antara persoalan keamanan, pelayanan publik, dan persoalan kemanusiaan. Polisi sering menjadi pihak pertama yang berhadapan dengan orang terlantar, orang yang mengalami gangguan jiwa di jalan, atau situasi keluarga yang tidak mampu menangani anggota keluarganya.
Tetapi justru karena itu, kisah Purnomo juga semestinya tidak berhenti sebagai cerita tentang seorang polisi luar biasa.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: mengapa masyarakat masih membutuhkan figur individual untuk mengisi begitu banyak celah pelayanan sosial?
Pertanyaan itu bukan kritik terhadap Purnomo. Sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan bentuk penghormatan yang lebih serius terhadap kerja yang telah dilakukannya. Jika seorang anggota polisi dapat membangun gerakan sosial dengan menjangkau ribuan orang, pengalaman tersebut seharusnya menjadi sumber pembelajaran bagi lembaga lain.
Penghargaan Presiden kemudian memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan hanya penghargaan kepada seorang individu, melainkan pengakuan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat mengambil banyak bentuk. Ada polisi yang menegakkan hukum. Ada polisi yang menjaga keamanan. Ada pula polisi yang menemukan manusia terlantar dan memilih berhenti untuk menolongnya.
Semboyan yang digunakan Purnomo, “Dedikasi untuk Kemanusiaan, Inspirasi untuk Negeri”, menjadi relevan justru karena perjalanan itu tidak dibangun dalam satu malam. Ia tumbuh dari pekerjaan yang berulang, melelahkan, dan sering kali tidak terlihat. Sebelum dikenal di panggung nasional, Purnomo terlebih dahulu dikenal oleh orang-orang yang datang kepadanya dalam keadaan tidak berdaya.
Program sosialnya kemudian berkembang melampaui isu ODGJ. Pemberitaan Harian Disway mencatat berbagai kegiatan seperti Amplop Senyum bagi anak yatim dan dhuafa, bantuan pendidikan, beasiswa, ojek gratis bagi pelajar, pemberdayaan masyarakat, dan bedah rumah. Semua itu memperlihatkan satu pola: Purnomo melihat kemiskinan dan kerentanan bukan sebagai masalah yang berdiri sendiri, tetapi sebagai persoalan kehidupan yang saling berhubungan.
Anak yang tidak mempunyai biaya sekolah membutuhkan orang yang bersedia membantu. Warga yang rumahnya tidak layak huni membutuhkan dukungan. Orang yang terlantar membutuhkan tempat aman. Keluarga dengan anggota ODGJ membutuhkan pendampingan. Di antara semua persoalan tersebut terdapat satu benang merah: kebutuhan akan manusia lain yang bersedia hadir.
Karena itu, daya tarik terbesar kisah Purnomo sebenarnya bukan pada jumlah 7.000.
Angka itu memang mengesankan. Tetapi angka mudah kehilangan makna jika manusia di belakangnya tidak terlihat. Yang lebih penting adalah ribuan cerita individual yang pernah melewati pintu tempat perawatan tersebut. Ada orang yang ditemukan di jalan. Ada yang dibawa keluarganya. Ada yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih. Ada yang akhirnya kembali ke rumah.
Setiap kepulangan itu adalah ukuran keberhasilan yang lebih manusiawi daripada sekadar jumlah pasien.
Dalam masyarakat yang masih menghadapi stigma terhadap gangguan jiwa, pemulangan seorang pasien kepada keluarganya juga berarti pemulihan hubungan sosial. Seseorang yang sebelumnya dianggap sebagai beban dapat kembali dilihat sebagai anggota keluarga. Seseorang yang sebelumnya disembunyikan dapat kembali hadir di tengah masyarakat.
Di situlah makna kemanusiaan menjadi konkret.
Purnomo tidak menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan jiwa di Indonesia. Ia juga tidak mungkin menggantikan peran rumah sakit, dinas kesehatan, dinas sosial, psikolog, psikiater, keluarga, dan masyarakat. Tetapi ia telah menunjukkan bahwa seseorang dapat memulai sesuatu dari ruang yang sangat kecil: keputusan untuk tidak berpaling ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.
Dari keputusan sederhana itu, lahirlah sebuah gerakan.
Dan dari gerakan itu, muncul pertanyaan yang lebih besar bagi kita semua. Berapa banyak manusia yang masih terlantar karena kita tidak tahu harus berbuat apa? Berapa banyak keluarga yang masih mencari tempat pertolongan? Berapa banyak orang dengan gangguan jiwa yang masih hidup dalam stigma atau bahkan pemasungan?
Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab oleh Purnomo seorang diri.
Justru penghargaan yang diterimanya seharusnya menjadi momentum untuk membangun jawaban bersama. Pemerintah, kepolisian, tenaga kesehatan, lembaga sosial, komunitas keagamaan, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat sipil memiliki ruang masing-masing untuk mengambil bagian.
Jika kisah Purnomo berhenti pada tepuk tangan di podium Hari Bhayangkara, maka maknanya akan cepat berlalu. Tetapi jika pengalaman itu mendorong lahirnya sistem pelayanan yang lebih kuat, keluarga yang lebih berdaya, masyarakat yang lebih terbuka, serta kebijakan yang lebih manusiawi terhadap ODGJ, maka penghargaan tersebut benar-benar memiliki arti.
Sebab pada akhirnya, seorang polisi tidak menjadi inspiratif hanya karena menerima penghargaan dari Presiden.
Ia menjadi inspiratif ketika pekerjaannya membuat orang lain percaya bahwa mereka tidak sendirian.
Purnomo memulai perjalanan itu bukan dari podium, bukan dari penghargaan, dan bukan dari sorotan kamera. Ia memulainya dari perjumpaan dengan manusia yang terlantar.
Ia memilih berhenti.
Pilihan sederhana itu kemudian tumbuh menjadi pengabdian selama bertahun-tahun, menjangkau ribuan orang, menggerakkan masyarakat, dan akhirnya sampai ke panggung nasional.
Dari sanalah pelajaran terbesarnya muncul: kemanusiaan sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dimulai dari keberanian untuk melihat penderitaan orang lain, lalu memilih untuk tidak berpaling.













