BuserNasional.my.id // Semakin dewasa seseorang dalam memaknai kehidupan, semakin ia memahami bahwa perjalanan paling berat bukanlah mengubah orang lain, melainkan memperbaiki dirinya sendiri. Waktu, tenaga, dan pikiran yang Allah anugerahkan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Karena itu, orang yang bijaksana akan lebih sibuk membenahi hati, akhlak, dan amal daripada mencari kekurangan serta kesalahan sesamanya di setiap kesempatan.
Setiap manusia memiliki kekurangan. Tidak ada seorang pun yang lahir dalam keadaan sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, kehidupan ini bukanlah panggung untuk saling menghakimi, melainkan ladang untuk saling mengingatkan dengan penuh kasih sayang dan berlomba dalam memperbaiki diri. Orang yang hatinya dipenuhi cahaya iman akan lebih mudah melihat kekurangan dirinya daripada sibuk menghitung kesalahan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan agar manusia senantiasa bertakwa dan memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk kehidupan akhirat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan bahwa perhatian utama seorang mukmin adalah mengevaluasi dirinya sendiri. Setiap hari menjadi kesempatan untuk bertanya kepada hati, apakah hari ini lebih baik daripada kemarin, apakah ibadah semakin khusyuk, apakah lisan semakin terjaga, apakah akhlak semakin mulia, dan apakah manfaat yang diberikan kepada sesama semakin besar. Inilah bentuk muhasabah yang menjadi ciri orang beriman.
Sebaliknya, terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain sering kali menjadi tanda bahwa seseorang belum serius membenahi dirinya. Padahal waktu yang Allah berikan sangat terbatas. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Alangkah ruginya apabila umur habis hanya untuk membicarakan kekurangan orang lain, sementara diri sendiri dipenuhi kekurangan yang belum diperbaiki.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At Tirmidzi)
Hadis ini menjadi pedoman yang sangat agung dalam kehidupan. Mengurusi aib, kesalahan, dan urusan pribadi orang lain yang tidak membawa manfaat hanyalah akan menghabiskan energi, mengeraskan hati, dan mengurangi kesempatan memperbanyak amal saleh. Sebaliknya, memusatkan perhatian kepada perbaikan diri akan melahirkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kedewasaan.
Islam juga melarang seorang mukmin gemar mencari cari kesalahan orang lain. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Wahai orang orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa mencari kesalahan orang lain bukanlah akhlak seorang mukmin. Islam menghendaki umatnya menjadi pribadi yang menjaga kehormatan saudaranya, menutup aibnya, dan memberikan nasihat dengan penuh kelembutan apabila memang diperlukan.
Muhasabah merupakan jalan menuju kemuliaan. Semakin sering seseorang mengoreksi dirinya, semakin kecil keinginannya untuk menghakimi orang lain. Ia sadar bahwa dirinya pun membutuhkan ampunan Allah setiap hari. Kesadaran inilah yang melahirkan sifat rendah hati, lapang dada, serta penuh kasih kepada sesama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertobat.” (HR. At Tirmidzi)
Hadis ini mengingatkan bahwa tidak seorang pun terbebas dari kesalahan. Oleh karena itu, daripada sibuk menyoroti kekurangan orang lain, lebih baik memperbanyak istigfar, memperbaiki amal, dan memohon agar Allah memperindah akhlak kita.
Orang yang menjadikan dirinya sebagai prioritas dalam perbaikan akan merasakan perubahan yang luar biasa. Hatinya menjadi lebih tenang karena tidak dipenuhi kebencian. Lisannya lebih terjaga karena enggan membicarakan keburukan orang lain. Waktunya lebih berkah karena digunakan untuk belajar, beribadah, bekerja dengan sungguh sungguh, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia memahami bahwa keberhasilan sejati bukanlah ketika mampu menemukan seribu kesalahan orang lain, melainkan ketika mampu memperbaiki satu demi satu kekurangan dirinya sendiri.
Marilah kita menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk memperbaiki iman, memperindah akhlak, memperbanyak amal saleh, serta membersihkan hati dari penyakit iri, dengki, dan gemar menghakimi. Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba yang selalu sibuk memperbaiki diri, menjaga lisan, menebarkan manfaat, dan menghadap kepada Nya dengan hati yang bersih. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.














