Renungkan Kematian Sebelum Terlambat

banner 120x600

BuserNasional.my.id // Setiap hari manusia menyaksikan kabar duka silih berganti. Ada yang wafat dalam usia muda, ada yang meninggal ketika telah lanjut usia, ada pula yang dipanggil Allah secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda yang diduga sebelumnya. Namun anehnya, banyak orang tetap menjalani hidup seolah-olah kematian tidak akan pernah menghampirinya. Padahal setiap jiwa sedang berjalan menuju saat yang telah Allah tetapkan. Kesadaran akan kematian bukanlah ajakan untuk berputus asa, melainkan dorongan agar hidup dipenuhi iman, amal saleh, dan persiapan menuju kehidupan yang kekal di akhirat.

Ungkapan ulama, “Sungguh mengherankan bagi orang yang setiap hari melihat kematian merenggut orang lain, namun ia sendiri tetap larut dalam kelalaian sebagaimana orang yang merasa akan hidup selamanya,” merupakan nasihat yang sangat dalam. Kalimat ini menggugah hati agar manusia tidak terjebak dalam angan-angan panjang yang membuatnya lupa kepada Allah. Betapa banyak pelajaran yang terpampang di hadapan mata, tetapi sedikit sekali yang benar-benar mengambil hikmah darinya. Setiap pemakaman yang dihadiri, setiap kabar duka yang terdengar, dan setiap liang lahat yang disaksikan seharusnya menjadi cermin bahwa suatu saat nama kitalah yang akan disebut dan jasad kitalah yang akan diantarkan menuju peristirahatan terakhir di dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan manusia bahwa kematian adalah ketetapan yang tidak mungkin dihindari oleh siapa pun.

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

BERITA TERKAIT  Rezeki Allah Selalu Tepat

Ayat ini mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Ia hanyalah pintu menuju kehidupan yang sebenarnya. Dunia hanyalah tempat singgah yang penuh ujian, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang abadi. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan harta, melainkan yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk bertemu Allah.

Allah juga berfirman:

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾

“Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, sekalipun kalian berada di dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kokoh.”
(QS. An-Nisa’: 78)

Tidak ada tempat persembunyian dari kematian. Jabatan tidak mampu menolaknya. Kekayaan tidak dapat membelinya. Kekuasaan tidak sanggup menghalanginya. Ilmu pengetahuan yang begitu maju pun tidak pernah berhasil menghentikan datangnya ajal. Semua manusia akan berdiri sama di hadapan ketentuan Allah. Yang membedakan hanyalah iman, ketakwaan, dan amal yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan agar kaum muslimin memperbanyak mengingat kematian, karena hal itu mampu melunakkan hati dan mematahkan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.'”
(HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

BERITA TERKAIT  Meniti Takwa Dengan Ikhlas

Hadis ini bukan mengajarkan pesimisme, melainkan menghidupkan kesadaran. Orang yang sering mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam bekerja, lebih ringan memaafkan, lebih semangat beribadah, dan lebih ikhlas dalam beramal. Ia memahami bahwa seluruh kenikmatan dunia akan berakhir, sedangkan pahala amal saleh akan terus mengalir hingga kehidupan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”
(HR. Al-Bukhari)

Seorang musafir tidak akan terlalu sibuk menghias tempat persinggahannya, karena ia sadar bahwa tujuan akhirnya bukan di sana. Demikian pula seorang mukmin hendaknya memandang dunia sebagai tempat menanam, bukan tempat menuai hasil akhir. Setiap detik kehidupan merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan sebelum kesempatan itu tertutup oleh datangnya kematian.

Sayangnya, banyak manusia tertipu oleh panjang angan-angan. Mereka menunda taubat dengan alasan masih muda. Mereka menunda ibadah karena mengejar kesibukan dunia. Mereka menunda sedekah karena merasa hartanya belum cukup. Padahal tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan itu berakhir. Berapa banyak orang yang pagi harinya masih bercanda bersama keluarga, namun sore harinya telah menjadi jenazah yang dishalatkan.

Kesadaran terhadap kematian semestinya melahirkan semangat memperbaiki diri. Hati yang dahulu keras menjadi lembut. Lisan yang dahulu gemar menyakiti berubah menjadi penuh zikir dan nasihat. Tangan yang dahulu enggan berbagi menjadi ringan membantu sesama. Kaki yang dahulu melangkah menuju kemaksiatan berbalik menuju masjid dan majelis ilmu. Inilah buah dari hati yang selalu mengingat perjumpaan dengan Allah.

BERITA TERKAIT  Doa Hati Yang Tak Terucap

Muhasabah merupakan amalan yang sangat penting bagi setiap muslim. Sebelum tidur hendaknya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri, apakah hari ini ia telah menambah amal yang mendekatkannya kepada surga atau justru memperbanyak dosa yang menyeretnya menuju neraka. Dengan muhasabah, seseorang tidak mudah tertipu oleh pujian manusia, karena ia lebih sibuk memperbaiki hubungan dengan Rabbnya.

Kematian juga mengajarkan bahwa seluruh manusia pada akhirnya akan meninggalkan segala sesuatu yang mereka banggakan. Rumah yang megah, kendaraan yang mewah, rekening yang penuh, serta kedudukan yang tinggi tidak akan ikut menemani ke dalam kubur. Yang menemani hanyalah amal saleh atau amal buruk yang telah dikerjakan selama hidup. Oleh sebab itu, janganlah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, tetapi jadikanlah ia sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah.

Marilah menjadikan setiap hari sebagai kesempatan terakhir untuk memperbanyak taubat, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, menunaikan amanah, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, serta menjaga salat dengan penuh kekhusyukan. Jika esok masih diberi kehidupan, itu adalah tambahan kesempatan beramal. Namun apabila malam ini menjadi akhir perjalanan, semoga kita menghadap Allah dalam keadaan membawa iman, taubat yang tulus, dan amal yang diterima. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengingat kematian, memperbaiki kehidupan dunia untuk kebahagiaan akhirat, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *