Dulu kita sering menganggap nasihat orang tua sebagai beban yang membatasi kebebasan. Kita merasa mereka terlalu banyak melarang, terlalu sering mengingatkan, bahkan seolah tidak memahami keinginan kita. Namun seiring bertambahnya usia, perlahan kita menyadari bahwa setiap larangan mereka lahir dari kasih sayang, setiap teguran berasal dari cinta, dan setiap doa yang mereka panjatkan menjadi benteng yang menjaga langkah kita dari berbagai keburukan yang tidak pernah kita lihat.
Hampir setiap orang pernah mengalami masa ketika nasihat ayah dan ibu terasa mengganggu. Saat masih muda, kita sering mengira bahwa kebahagiaan hanya dapat diraih dengan mengikuti keinginan sendiri. Ketika mereka melarang kita bergaul dengan orang tertentu, kita menganggap mereka terlalu curiga. Ketika mereka mengingatkan agar menjaga shalat, menjaga akhlak, menjaga lisan, dan menjaga kehormatan diri, kita merasa mereka terlalu mengatur kehidupan kita.
Padahal, orang tua telah lebih dahulu mengenal kerasnya kehidupan. Mereka pernah jatuh, pernah gagal, pernah menangis, pernah dikhianati, dan pernah merasakan pahitnya penyesalan. Pengalaman itulah yang menjadikan mereka ingin anak-anaknya tidak mengulangi luka yang sama. Karena itu, teguran mereka bukanlah tanda kebencian, melainkan bentuk cinta yang paling tulus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan setiap anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Firman-Nya:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika aku masih kecil.'” (QS. Al-Isra’ ayat 23–24).
Perintah ini menunjukkan bahwa memuliakan orang tua bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah. Menariknya, setelah perintah mentauhidkan Allah, perintah berikutnya adalah berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini menunjukkan betapa agung kedudukan mereka dalam Islam.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ridha Allah sangat erat kaitannya dengan ridha kedua orang tua. Beliau bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Keridaan Allah berada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi).
Betapa banyak orang yang baru menyadari makna hadis ini ketika kedua orang tuanya telah tiada. Saat itu, rumah yang dahulu dipenuhi suara nasihat mendadak terasa sunyi. Tidak ada lagi yang menunggu kepulangan kita dengan penuh kecemasan. Tidak ada lagi yang diam-diam bangun malam untuk mendoakan keselamatan anak-anaknya. Yang tersisa hanyalah kenangan dan penyesalan karena dahulu terlalu sering mengabaikan nasihat mereka.
Seorang ayah mungkin tidak pandai mengungkapkan rasa sayang dengan kata-kata. Namun ia rela bekerja keras di bawah panas matahari, menahan lelah, bahkan mengorbankan impiannya demi melihat anak-anaknya hidup lebih baik. Seorang ibu mungkin terlihat cerewet setiap hari, tetapi lisannya yang terus mengingatkan sesungguhnya lahir dari hati yang selalu cemas jika anaknya terjerumus ke jalan yang salah.
Kasih sayang orang tua sering kali tidak dibungkus dengan kata-kata indah, melainkan diwujudkan dalam pengorbanan. Mereka rela makan sederhana agar anaknya dapat menikmati makanan yang lebih baik. Mereka rela mengenakan pakaian lama agar anaknya dapat bersekolah dengan layak. Mereka rela menunda keinginan pribadi demi masa depan anak-anaknya.
Allah menggambarkan beratnya perjuangan seorang ibu dalam firman-Nya:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ ۖ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman ayat 14).
Ayat ini mengingatkan bahwa rasa lelah orang tua tidak pernah sebanding dengan balasan yang mampu diberikan seorang anak. Karena itu, bentuk bakti terbaik adalah menghormati mereka selama masih hidup, mendengarkan nasihat mereka selama tidak bertentangan dengan syariat, membantu kebutuhan mereka, menjaga tutur kata, serta mendoakan mereka setiap hari.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab bahwa shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, lalu berjihad di jalan Allah. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan amal yang sangat agung di sisi Allah.
Jika hari ini ayah dan ibu masih ada, jangan menunggu hari tua untuk membalas jasa mereka. Luangkan waktu menemani mereka. Dengarkan cerita-cerita yang mungkin telah berulang berkali-kali. Genggam tangan mereka. Peluk mereka. Mintalah maaf atas semua sikap yang pernah menyakiti hati mereka. Sebab tidak ada yang mengetahui sampai kapan kesempatan itu Allah berikan.
Jika mereka telah kembali kepada Allah, jangan putuskan bakti itu. Perbanyak doa, istigfar, sedekah atas nama mereka, menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat mereka, serta menjaga nama baik keluarga yang telah mereka bangun dengan penuh perjuangan.
Jangan pernah malu mengucapkan terima kasih kepada ayah dan ibu. Barangkali kalimat sederhana itu mampu mengobati lelah yang selama bertahun-tahun mereka sembunyikan. Lebih dari itu, jadikan rasa syukur kepada orang tua sebagai jalan untuk memperoleh ridha Allah. Sebab tidak sedikit pintu keberkahan hidup dibukakan melalui bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang lembut hatinya, ringan lisannya dalam berkata baik, ringan tangannya dalam membantu kedua orang tua, serta tidak pernah lalai mendoakan mereka, baik ketika masih hidup maupun setelah mereka wafat.
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mendidikku ketika aku masih kecil.” Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
“`














