Pagi itu, Bukittinggi masih menyimpan udara pegunungan yang sejuk. Di Masjid Jamik Birugo, sejumlah ulama dari berbagai latar belakang mulai berdatangan. Mereka datang bukan untuk mempertahankan pengaruh kelompok masing masing, melainkan untuk mencari jalan keluar atas persoalan umat yang sedang menghadapi berbagai tantangan. Di tempat inilah sebuah babak penting sejarah Islam Indonesia perlahan ditulis. Tidak banyak yang menyadari bahwa musyawarah sederhana yang berlangsung pada Mei 1968 itu kelak dikenang sebagai salah satu jejak penting yang menginspirasi gagasan persatuan ulama dalam skala nasional.
Untuk memahami arti penting peristiwa tersebut, kita perlu menengok jauh ke belakang. Sejarah persatuan ulama di Sumatera Barat tidak lahir secara tiba tiba. Ia tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat Minangkabau dalam merawat tradisi ilmu, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan. Di wilayah ini, surau bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan pengkaderan ulama. Dari surau surau itulah lahir banyak tokoh yang kemudian mewarnai perjalanan Islam Indonesia.
Pada paruh pertama abad kedua puluh, kehidupan keagamaan di Minangkabau diwarnai oleh dinamika pemikiran yang cukup kuat. Kelompok pembaru yang kemudian dikenal sebagai Kaum Muda membawa semangat tajdid dan pembaruan pemikiran Islam. Di sisi lain, Kaum Tua mempertahankan tradisi keilmuan yang telah lama berkembang di surau surau. Perbedaan pandangan dalam beberapa masalah keagamaan sering kali memunculkan perdebatan yang tajam. Namun menariknya, perbedaan tersebut tidak sepenuhnya memutus hubungan intelektual maupun sosial di antara mereka.
Salah satu pelajaran penting dari sejarah Minangkabau adalah kemampuan para ulama untuk membedakan antara perbedaan pandangan dan perpecahan. Mereka boleh berbeda dalam pendekatan, tetapi tetap memiliki kesadaran bahwa umat membutuhkan kebersamaan. Kesadaran inilah yang kemudian diuji ketika Indonesia memasuki masa pendudukan Jepang.
Pada masa itu, berbagai lembaga pendidikan Islam menghadapi tekanan yang tidak ringan. Madrasah, surau, dan aset umat berada dalam situasi yang tidak menentu. Dalam kondisi demikian, muncul kesadaran kolektif bahwa mempertahankan eksistensi umat jauh lebih penting daripada memperdebatkan perbedaan yang selama ini ada. Dari sinilah lahir kerja sama bersejarah antara Buya M.D. Datuk Palimo Kayo dan Syekh Sulaiman Ar Rasuli yang lebih dikenal sebagai Inyiak Canduang.
Kedua tokoh tersebut berasal dari latar belakang pemikiran yang berbeda. Buya Palimo Kayo dikenal sebagai representasi kalangan pembaru, sedangkan Inyiak Canduang merupakan ulama besar yang memiliki pengaruh luas di lingkungan PERTI. Namun keduanya memperlihatkan keteladanan yang jarang ditemukan dalam kehidupan publik masa kini. Mereka tidak memandang perbedaan sebagai ancaman, melainkan sebagai kenyataan yang harus dikelola dengan kebijaksanaan.
Kolaborasi keduanya melahirkan Majelis Islam Tinggi Minangkabau atau MITM. Kehadiran MITM menjadi titik penting dalam sejarah Islam Sumatera Barat karena mempertemukan berbagai unsur kekuatan umat dalam satu wadah bersama. Lebih dari sekadar organisasi, MITM menjadi sekolah persatuan yang melatih para ulama untuk bermusyawarah, berdialog, dan mencari titik temu demi kemaslahatan yang lebih besar.
Pengalaman tersebut meninggalkan warisan yang sangat berharga. Generasi ulama yang tumbuh dalam lingkungan MITM terbiasa melihat perbedaan sebagai bagian dari kekayaan intelektual umat. Mereka memahami bahwa kepentingan umat tidak boleh dikorbankan hanya demi mempertahankan ego kelompok. Nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan sejarah berikutnya.
Memasuki dekade 1960 an, Indonesia menghadapi berbagai gejolak politik yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Pembubaran Masyumi, menguatnya pertarungan ideologi, serta berbagai ketegangan politik nasional menciptakan suasana yang penuh ketidakpastian. Di Sumatera Barat sendiri, dampak pergolakan PRRI masih menyisakan luka sosial yang belum sepenuhnya pulih. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan akan kepemimpinan moral dan persatuan umat semakin terasa mendesak.
Para ulama menyadari bahwa masyarakat membutuhkan panduan yang mampu melampaui batas batas organisasi. Mereka memerlukan wadah yang dapat menjadi tempat bertemunya berbagai pandangan demi menjaga akidah, memperkuat ukhuwah, dan memberikan arah bagi kehidupan umat. Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan gagasan untuk menyelenggarakan musyawarah besar para ulama Sumatera Barat.
Ketika Musyawarah Ulama Sumatera Barat berlangsung di Masjid Jamik Birugo pada Mei 1968, yang hadir bukan hanya para tokoh agama. Yang hadir sesungguhnya adalah semangat untuk membangun masa depan bersama. Berbagai kelompok yang selama ini sering dipersepsikan berbeda akhirnya duduk dalam satu majelis. Mereka berbicara dengan bahasa persaudaraan, bukan bahasa persaingan.
Di tengah berbagai diskusi dan pertukaran pandangan, muncul kesadaran yang semakin kuat bahwa umat membutuhkan rumah bersama. Rumah yang tidak dimiliki oleh satu golongan tertentu. Rumah yang mampu menaungi seluruh ulama tanpa memandang latar belakang organisasi maupun kecenderungan pemikiran. Dari proses musyawarah itulah lahir kesepakatan mendirikan Majelis Ulama Sumatera Barat pada tanggal 27 Mei 1968.
Buya M.D. Datuk Palimo Kayo dipercaya memimpin lembaga yang baru berdiri tersebut. Pilihan itu bukan semata karena kapasitas keilmuannya, tetapi juga karena kemampuannya menjembatani berbagai perbedaan. Dalam berbagai catatan sejarah, salah satu pernyataan beliau yang paling dikenang adalah keinginannya untuk menghadirkan ulama Islam, bukan ulama golongan. Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung visi yang sangat besar.
Di balik kalimat tersebut tersimpan gagasan bahwa identitas organisasi tidak boleh lebih besar daripada identitas keumatan. Bahwa perbedaan manhaj, tradisi, maupun pendekatan dakwah tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan. Pesan inilah yang membuat sejarah MUI Sumatera Barat tetap relevan hingga sekarang.
Keberhasilan membangun wadah persatuan ulama di Sumatera Barat kemudian menarik perhatian banyak tokoh nasional. Salah satu nama yang tidak dapat dilepaskan dari proses tersebut adalah Buya Hamka. Sebagai ulama dan pemikir besar bangsa, Hamka memahami betul pentingnya persatuan umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Pengalaman yang berkembang di Sumatera Barat menunjukkan bahwa persatuan bukan sekadar cita cita ideal, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui musyawarah yang tulus dan kepemimpinan yang bijaksana.
Ketika Majelis Ulama Indonesia berdiri pada 26 Juli 1975 dengan Buya Hamka sebagai Ketua Umum pertama, banyak pengamat melihat adanya kesamaan semangat dengan apa yang telah lebih dahulu tumbuh di Sumatera Barat. Meski sejarah nasional lahir melalui proses yang lebih luas dan melibatkan banyak tokoh dari berbagai daerah, pengalaman Sumatera Barat menunjukkan bahwa gagasan persatuan ulama telah menemukan bentuk konkret sebelum hadir dalam skala nasional.
Karena itu, nilai terpenting dari sejarah ini bukanlah soal siapa yang pertama atau siapa yang paling berjasa. Yang lebih penting adalah pelajaran yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang. Para pendiri MUI Sumatera Barat mengajarkan bahwa kebesaran seorang ulama tidak hanya diukur dari keluasan ilmunya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga persaudaraan. Mereka menunjukkan bahwa adab sering kali lebih menentukan keberhasilan musyawarah daripada kecanggihan argumentasi.
Dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin kompleks, pesan tersebut terasa semakin relevan. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi konflik berkepanjangan karena hilangnya tradisi saling menghormati. Padahal para ulama terdahulu telah memberikan contoh bahwa perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan apabila dibingkai oleh akhlak dan tujuan yang sama.
Warisan terbesar MUI Sumatera Barat sesungguhnya bukanlah gedung, jabatan, atau struktur organisasi. Warisan terbesarnya adalah budaya musyawarah yang menghargai perbedaan dan menempatkan kemaslahatan umat sebagai tujuan utama. Budaya itulah yang membuat sebuah pertemuan di Masjid Jamik Birugo tidak sekadar menjadi peristiwa sejarah daerah, melainkan bagian dari perjalanan panjang persatuan umat Islam Indonesia.
Hari ini, ketika masyarakat kembali menghadapi berbagai tantangan sosial, budaya, dan ideologi, jejak sejarah tersebut layak dibaca ulang. Bukan untuk membangkitkan romantisme masa lalu, melainkan untuk menemukan kembali nilai nilai yang pernah membuat para ulama mampu berjalan bersama. Dari Birugo, kita belajar bahwa persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pandangan yang sama. Persatuan lahir ketika perbedaan dikelola dengan ilmu, dihiasi adab, dan diarahkan untuk kemaslahatan yang lebih besar. Itulah warisan paling berharga yang ditinggalkan para pendiri MUI Sumatera Barat bagi Indonesia.














