OPINI  

Warung yang Hilang di Bawah Langit

banner 120x600

Rendi Santosa selalu muncul seperti iklan berjalan yang tersesat ke tempat orang lain. Kadang orang tertawa, kadang orang jengkel, kadang langsung memblok. Namanya sering jadi bahan olok olok, seolah ia sengaja menjatuhkan martabatnya sendiri demi sepotong perhatian.

Orang mengenal Rendi sebagai manusia tanpa rem. Ia bisa muncul di kolom komentar berita duka sambil menulis promosi burger, lalu menghilang seperti angin. Ada yang menyebutnya gila, ada yang bilang dia jenius pemasaran, ada pula yang menertawakannya sambil menghela napas. Di dunia yang penuh pencitraan, Rendi adalah anomali yang sulit dipahami.

Aku pun pernah berada di barisan itu. Menganggap Rendi tak lebih dari badut internet yang kebetulan punya akun dengan banyak pengikut. Setiap kali namanya muncul, selalu ada cerita yang terdengar memalukan. Komentar acak yang tidak nyambung, video pendek yang terasa dibuat sambil merem, hingga kebiasaan menempelkan iklan di mana pun ia bisa menyelip.

Sampai suatu hari, aku mendengar kisah dari Nayla Arimbi, istrinya. Bukan dari konten, bukan dari podcast, bukan dari potongan video. Nayla bercerita dalam nada yang tenang, seperti seseorang yang tidak sedang menjual cerita, melainkan sedang mengingat sesuatu yang terlalu penting untuk dibohongi.

Nayla mengatakan ada satu momen yang membuatnya yakin Rendi pantas dijadikan suami. Bukan ketika Rendi membawakan bunga. Bukan saat ia bicara manis. Bukan pula ketika ia punya uang atau pamor. Justru ketika Nayla datang ke rumah, lalu melihat pemandangan yang jarang ditemui di zaman yang serba sibuk.

Rendi sedang memandikan ibunya sendiri. Ia mengganti pampers dengan tangan yang tenang. Tidak ada wajah jijik. Tidak ada keluhan. Tidak ada pameran. Hanya gerakan sabar seorang anak yang mengurus tubuh renta yang sudah tak berdaya.

Saat itu, kata Nayla, ia terdiam lama. Ada kalimat yang mengendap pelan di kepalanya, kalimat yang tidak lahir dari romantisme murahan, tetapi dari kesadaran yang tajam.

Oh, laki laki seperti ini masih ada.

Aku mendengar cerita itu dan seperti ditampar halus. Selama ini aku menilai seseorang dari keributan yang tampak di layar. Dari komentar yang terasa tidak sopan. Dari gaya bicara yang seperti tidak punya tata krama. Tetapi di balik layar, ada tangan yang setiap hari merawat ibu yang tak bisa lagi mengurus dirinya sendiri.

Aku mulai mengulang ulang kisah itu dalam pikiranku. Semakin kupikir, semakin aku yakin, ini bukan dongeng untuk menaikkan citra. Tidak ada musik sendu. Tidak ada kamera. Tidak ada lampu sorot. Tidak ada tepuk tangan.

Hanya ada sunyi, dan pekerjaan yang tidak semua orang sanggup melakukannya.

Nayla melanjutkan ceritanya. Di rumah, Rendi bukan sekadar suami yang sibuk mencari panggung. Ia yang mencuci. Ia yang mengurus anak. Ia yang mengingatkan Nayla agar tidak membentak anak dengan kata kata kasar.

Ia pernah berkata pada istrinya, kalimat yang terdengar sederhana, tetapi menampar siapa pun yang sering merasa paling benar.

Salah tidak salah, minta maaf saja. Dapat pahala juga.

BERITA TERKAIT  Anak Saleh Bisa Runtuh Karena Teman

Kalimat itu seperti menancap di kepalaku. Ada orang yang hidupnya penuh kegaduhan, tetapi di dalam rumah ia justru mengajarkan ketenangan.

Ketika pandemi datang, kehidupan mereka juga ikut jatuh seperti kebanyakan orang. Tidak ada syuting. Tidak ada panggilan kerja. Uang menipis sampai harus dihitung seperti butiran beras. Dalam masa yang membuat banyak orang kehilangan arah, mereka tidak punya pilihan selain bertahan.

Mereka membuka barbershop kecil dan warung mie ayam seadanya. Rendi sendiri yang memegang gunting, menyukur rambut teman temannya dengan tangan yang tidak terlihat seperti tangan artis. Ia tertawa di depan orang lain, tetapi bertahan hidup dengan cara yang tidak semua orang mau lakukan.

Beberapa tahun kemudian, Rendi Burger Cempaka Putih mendadak viral. Orang menyebut itu strategi pemasaran paling aneh yang pernah ada. Promonya muncul di mana mana tanpa konteks. Ia muncul di kolom komentar artis lain. Ia muncul di postingan motivasi orang. Ia bahkan muncul di berita serius sambil menulis kalimat yang membuat orang ingin menampar sekaligus tertawa.

Rotinya lembut, dagingnya juicy, bisa pesan online.

Banyak yang mencibir. Banyak yang memaki. Tetapi anehnya, burger itu makin dicari. Seolah kekonyolannya adalah magnet yang membuat orang penasaran.

Ketika seorang pewawancara bertanya apa konsep bisnisnya, Rendi menjawab enteng, tanpa gaya sok bijak, tanpa gaya pengusaha.

Konsepnya langit.

Sebagian orang menganggap itu kebijaksanaan. Sebagian lagi menganggap itu alasan karena ia memang tidak punya konsep. Aku pun sempat tertawa saat membaca kalimat itu. Kedengarannya seperti jawaban orang yang tidak siap diwawancara.

Namun setelah aku ingat cerita tentang ibunya, jawaban itu terasa berbeda. Seolah Rendi sedang mengatakan bahwa hidupnya tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika manusia. Bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari perhitungan, lebih luas dari rencana, dan lebih dalam dari pencitraan.

Sejak hari itu, aku menaruh rasa hormat kecil pada sosok yang selama ini kutertawakan. Dalam kepalaku, aku menyusun ulang potongan potongan cerita. Laki laki yang diributkan netizen, tetapi diam diam mengganti pampers ibunya. Laki laki yang dianggap mencari perhatian, tetapi bekerja keras menyukur rambut orang demi bertahan hidup. Laki laki yang terlihat seperti bercanda terus, tetapi di rumah mengajarkan istrinya cara marah yang lebih manusiawi.

Semua itu terasa seperti dua wajah yang tidak seharusnya bisa menyatu, tetapi entah bagaimana menyatu di diri Rendi.

Suatu malam, aku memutuskan datang langsung ke Cempaka Putih. Bukan untuk membuat konten. Bukan untuk membuktikan siapa yang benar. Aku hanya ingin memastikan satu hal sederhana, apakah burger itu memang seenak yang orang orang katakan.

Warungnya tidak megah. Tidak ada papan neon besar. Tidak ada desain mewah. Tetapi antreannya ramai, seperti antrean obat murah di puskesmas. Ada ibu ibu membawa anak kecil. Ada pengemudi ojek daring yang berdiri sambil memegang helm. Ada anak muda yang datang sambil tertawa tawa menyebut nama Rendi seperti menyebut maskot sebuah zaman.

BERITA TERKAIT  Anak Saleh Bisa Runtuh Karena Teman

Aku berdiri di barisan, mencium aroma daging panggang yang membuat perutku bereaksi tanpa izin. Di atas meja, spatula bergerak cepat. Bunyi daging menyentuh besi panas terdengar seperti desis yang terus menerus. Ada kipas kecil yang berputar lemah, seolah kelelahan ikut bekerja.

Di balik meja, aku melihat seorang pria yang mirip Rendi, tetapi lebih kurus daripada yang kulihat di layar. Ia memakai celemek sederhana. Keringat membasahi pelipisnya. Tangannya cekatan menyusun roti, daging, saus, lalu membungkus pesanan. Ia melayani orang dengan gaya santai, sesekali melempar candaan yang membuat antrean tertawa.

Namun ada sesuatu yang membuatku terdiam.

Matanya sesekali melirik ke arah kursi pojok. Bukan lirikan gelisah, melainkan lirikan memastikan. Seolah ada sesuatu yang lebih penting daripada antrean yang panjang.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Di sana duduk seorang perempuan tua di kursi roda. Tubuhnya rapuh, dibalut selimut tipis. Tetapi matanya hidup. Ia memandangi kesibukan itu dengan sorot hangat, seperti seseorang yang tidak perlu banyak bicara untuk mengatakan bahwa ia bangga.

Di samping kursinya ada botol air minum, tisu, dan tas kecil yang tampak seperti perlengkapan sehari hari. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang dibuat dramatis. Semuanya tampak seperti rutinitas yang sudah lama dijalani.

Sesekali pria itu meninggalkan meja, menghampiri perempuan tua itu, mengusap bahunya, lalu bertanya pelan. Suaranya tidak terdengar jelas dari tempatku berdiri, tetapi aku bisa menebak nadanya. Nada seorang anak yang sedang menenangkan ibunya.

Lalu ia kembali bekerja, seolah semua itu tidak perlu dijadikan cerita.

Aku menelan ludah. Dadaku terasa penuh. Seketika aku paham apa yang dimaksud Nayla Arimbi.

Ketika giliranku tiba, pria itu menatapku sambil tersenyum.

Mau yang mana, Bang. Yang juicy atau yang lebih juicy.

Aku tertawa tanpa sadar. Candaan itu terdengar receh, tetapi entah kenapa membuat suasana hangat. Aku memesan satu burger dan satu minum, lalu berdiri menunggu pesanan selesai.

Aku sempat ingin bertanya apakah dia benar Rendi Santosa, tetapi pertanyaan itu terasa bodoh. Ia jelas Rendi. Tetapi ia juga jelas bukan Rendi yang selama ini ditertawakan orang.

Beberapa menit kemudian pesananku selesai. Aku menerima bungkusan hangat itu. Saat aku membayar, pria itu berkata santai, seolah kalimat itu bagian dari napasnya.

Makasih ya, Bang. Doain ibu saya sehat terus.

Aku mengangguk dan menjawab pelan.

InsyaAllah.

Aku melangkah keluar, duduk di bangku dekat trotoar, lalu membuka bungkus burger itu perlahan. Aroma dagingnya benar benar menggoda. Rotinya lembut. Sausnya terasa pekat.

Aku menggigit sekali. Lalu dua kali. Gurihnya memenuhi mulut. Hangatnya seperti menyebar sampai ke dada.

Di saat yang sama, aku melihat pria itu kembali menghampiri perempuan tua di pojok. Ia berjongkok. Ia memegang tangan ibunya. Lalu mencium punggung tangan itu dengan hormat yang tidak dibuat buat.

Tidak ada kamera.

Tidak ada penonton.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya seorang anak yang sedang membayar utang hidupnya pada perempuan yang melahirkannya.

BERITA TERKAIT  Anak Saleh Bisa Runtuh Karena Teman

Aku menunduk. Ada rasa kecil yang menekan dadaku. Dalam pikiranku, semua komentar netizen yang dulu ikut kutertawakan terasa seperti dosa yang tak sengaja. Betapa mudahnya manusia menertawakan sesuatu yang tidak ia pahami.

Aku menghela napas panjang, lalu menatap langit malam. Gelap, luas, dan sunyi. Di dalam diriku muncul rasa malu yang hangat, rasa yang sulit dijelaskan, seolah aku baru saja diajari sesuatu tanpa perlu dinasihati.

Saat aku hendak berdiri untuk pulang, ponselku bergetar. Notifikasi Instagram masuk dari akun yang tak asing.

Rendi Santosa.

Aku terpaku. Aku tidak merasa pernah mengikuti akunnya. Aku juga tidak merasa pernah berinteraksi langsung dengannya. Tetapi pesan itu jelas ada di layar, pendek, dan membuat tengkukku dingin.

Bang, burgernya enak kan. Jangan lupa bayar tadi belum masuk.

Aku menatap kalimat itu lama. Jantungku memukul dada seperti dipukul palu. Aku yakin tadi aku sudah membayar. Aku bahkan melihat uang itu masuk ke laci.

Tanganku gemetar. Aku buru buru berdiri dan menoleh ke arah warung.

Namun warung itu sudah gelap.

Pintunya tertutup rapat.

Tidak ada antrean.

Tidak ada aroma daging.

Tidak ada tawa.

Tidak ada kursi roda di pojok.

Yang ada hanya lampu jalan yang berkedip, dan jalanan yang tiba tiba kosong seperti tidak pernah ada kehidupan di sana.

Aku melangkah mendekat. Di depan ruko itu tergantung spanduk usang yang tertiup angin. Tulisan di atasnya pudar, tetapi masih bisa terbaca jelas.

DISEWAKAN. BEKAS WARUNG BURGER.

Aku berdiri terpaku. Tenggorokanku kering. Lalu perlahan aku menatap bungkusan di tanganku. Tanganku membuka kertas pembungkus itu lagi, dengan gerakan seperti orang yang takut pada kenyataan.

Burger itu sudah berubah.

Tidak ada daging.

Tidak ada saus.

Tidak ada aroma.

Yang tersisa hanya roti tawar dingin, seperti roti yang sudah lama dibiarkan di meja.

Aku menatapnya dengan mata kosong, lalu tiba tiba teringat berita lama yang pernah melintas di linimasa, berita yang dulu kubaca sambil lalu, bahkan mungkin sambil tertawa.

Rendi Santosa tutup usaha burger, fokus merawat ibunya yang sakit.

Aku memejamkan mata. Di kepala, suara spatula, suara tawa, aroma daging, dan tatapan hangat perempuan tua itu seperti pecah menjadi serpihan yang tidak bisa kusatukan lagi.

Aku berdiri di trotoar, di bawah langit yang gelap, dan untuk pertama kalinya aku mengerti satu hal.

Mungkin benar, konsepnya memang langit.

Karena malam ini, yang kulihat bukan strategi viral. Bukan promosi random. Bukan sensasi murahan. Melainkan pelajaran yang datang lewat cara yang tidak masuk akal, tetapi terasa nyata.

Dan aku baru sadar, mungkin aku baru saja makan dari tangan seorang anak yang tidak lagi ada di sini, selain dalam doa dan ingatan ibunya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *