Prabowo Berlakukan Skema PPh Badan 22 Persen, PT dan CV Hadapi Aturan Pajak Baru

banner 120x600

BuserNasional — Jakarta – Pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 yang mengubah sejumlah ketentuan perpajakan, khususnya terkait fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM sebesar 0,5 persen.

Melalui regulasi baru tersebut, tidak semua badan usaha berbentuk CV maupun PT dapat lagi menikmati fasilitas tarif PPh Final UMKM 0,5 persen sebagaimana sebelumnya. Kebijakan ini merupakan revisi atas PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan.

Dalam aturan terbaru, fasilitas PPh Final 0,5 persen hanya diberikan kepada wajib pajak orang pribadi, perseroan perorangan yang didirikan oleh satu orang, serta koperasi dengan batas peredaran bruto tertentu. Sementara badan usaha berbentuk CV, firma, PT, dan sejumlah badan usaha lainnya akan beralih ke mekanisme Pajak Penghasilan Badan sesuai ketentuan umum setelah masa fasilitas berakhir.

BERITA TERKAIT  Menkop Soroti Peran Koperasi, Desa Kini Bisa Jadi Pusat Ekonomi Baru

Kebijakan ini memunculkan perhatian luas di kalangan pelaku usaha karena tarif PPh Badan umum dapat mencapai 22 persen dari laba kena pajak. Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa tarif tersebut tidak dikenakan langsung terhadap omzet perusahaan, melainkan terhadap laba yang telah dihitung berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Pajak Merupakan Kewajiban Hukum

Dalam sistem hukum Indonesia, pajak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap wajib pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Apabila wajib pajak dengan sengaja tidak melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT), memberikan data yang tidak benar, menyembunyikan penghasilan, atau tidak membayar pajak yang seharusnya terutang, maka dapat dikenakan sanksi administratif hingga pidana perpajakan berdasarkan Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP).

Konsekuensi yang dapat timbul antara lain:

– Pemeriksaan pajak;
– Surat Tagihan Pajak (STP);
– Penagihan aktif dan penyitaan aset;
– Pembatasan atau pencegahan transaksi tertentu sesuai ketentuan;
– Sanksi pidana perpajakan dalam kondisi tertentu.

BERITA TERKAIT  Dinas PUPR Bangkalan Disorot, Kondisi Jembatan Gladak Lanjang Dinilai Membahayakan Pengguna

Dorong Kepatuhan dan Cegah Penyalahgunaan Fasilitas

Sejumlah pengamat menilai kebijakan ini bertujuan meningkatkan kepatuhan pajak sekaligus menutup celah praktik penghindaran pajak melalui pembentukan badan usaha baru untuk terus menikmati tarif final UMKM 0,5 persen. Pemerintah juga mengatur penggabungan omzet dalam kondisi tertentu guna memastikan fasilitas perpajakan diberikan tepat sasaran.

Di sisi lain, sebagian pelaku usaha mengkhawatirkan kebijakan tersebut dapat menambah beban administrasi dan perpajakan bagi UMKM yang sedang berkembang menuju skala usaha yang lebih besar. Diskusi mengenai dampak aturan ini juga ramai diperbincangkan di berbagai komunitas bisnis dan forum daring.

Menunggu Dampak di Lapangan

Penerapan PP Nomor 20 Tahun 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu kebijakan fiskal yang paling diperhatikan oleh kalangan dunia usaha sepanjang tahun ini. Pemerintah berharap perubahan aturan tersebut dapat memperluas basis pajak nasional sekaligus menciptakan sistem perpajakan yang lebih adil dan berkelanjutan.

BERITA TERKAIT  LSM LIRA Desak KPK Ambil Alih Kasus Raibnya Rp. 21 Milyar Dana Kompensasi Rumpon Nelayan Sampang Dari Petronas Malaysia

Kini publik menanti bagaimana dampak nyata kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan UMKM, investasi, serta tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.Sumber utama regulasi dan pemberitaan:

Penulis: Team redaksi Editor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *