Pasrah Yang Menguatkan Jiwa

banner 120x600

Dalam perjalanan hidup, manusia sering dipertemukan dengan keadaan yang tidak sesuai harapan. Ada cita-cita yang gagal diraih, doa yang terasa lama dikabulkan, dan usaha yang seakan tidak membuahkan hasil. Pada titik itulah seseorang belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang kemampuan dirinya, melainkan tentang keyakinan bahwa Allah lebih mengetahui segala yang terbaik. Kepasrahan kepada Allah bukan tanda kelemahan, tetapi bukti keimanan yang melahirkan ketenangan dan kekuatan batin.

Manusia hidup dengan banyak rencana, namun tidak semua rencana berjalan sebagaimana yang diinginkan. Ada kalanya seseorang sudah bekerja keras siang dan malam, tetapi hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Sebaliknya, ada pula yang mendapatkan kebaikan tanpa pernah menduganya. Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan berada dalam genggaman Allah semata. Karena itulah seorang mukmin diajarkan untuk berserah diri kepada-Nya setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Ada dua alasan besar mengapa manusia harus pasrah kepada Tuhannya. Pertama, karena manusia tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya. Kedua, karena manusia tidak memiliki kekuatan apa pun kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Banyak orang menangis karena kehilangan pekerjaan, padahal kehilangan itu menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Banyak orang kecewa karena gagal menikah dengan seseorang, padahal Allah sedang menyelamatkannya dari penderitaan panjang. Bahkan tidak sedikit yang sedih karena doa tertentu belum terkabul, sementara Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk mengabulkannya.

BERITA TERKAIT  Kepala Desa Bergas Kidul Berkurban Massal

Sering kali manusia menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di depan mata. Padahal Allah melihat masa depan, melihat rahasia yang tersembunyi, melihat akibat dari setiap pilihan, bahkan mengetahui apa yang tidak pernah diketahui manusia. Karena itu kepasrahan sejati lahir dari keyakinan bahwa keputusan Allah selalu lebih baik daripada keinginan diri sendiri.

Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam bertemu dengan Khidir, beliau belajar bahwa tidak semua takdir dapat dipahami secara langsung oleh akal manusia. Perahu yang dilubangi, anak kecil yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah tampak seperti sesuatu yang buruk. Namun di balik semua itu ternyata tersimpan hikmah besar yang hanya diketahui Allah. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa manusia sering terburu-buru menilai takdir sebelum mengetahui rahasia di baliknya.

Alasan kedua mengapa manusia harus pasrah adalah karena manusia tidak memiliki kekuatan apa pun kecuali atas kehendak Allah. Banyak orang merasa dirinya kuat karena harta, jabatan, kesehatan, atau kecerdasannya. Namun semua itu dapat hilang dalam sekejap apabila Allah menghendaki.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah. Bahkan untuk bernapas, berjalan, berpikir, dan berbicara pun manusia membutuhkan izin Allah. Tidak ada satu kekuatan pun yang benar-benar dimiliki manusia secara mutlak.

Karena itulah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan doa yang sangat agung:

BERITA TERKAIT  Sampah Menumpuk di Area Makam Syaichona Cholil Bangkalan, Siapa yang Lalai?

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ini bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi pengakuan tulus bahwa manusia tidak mampu melakukan apa pun tanpa bantuan Allah. Ketika seseorang memahami makna kalimat ini, hatinya menjadi lembut dan tidak mudah sombong. Ia sadar bahwa semua keberhasilan berasal dari pertolongan Allah, bukan semata-mata hasil usahanya sendiri.

Pasrah kepada Allah bukan berarti menyerah tanpa usaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang petani tetap menanam benih, menyiram tanaman, dan menjaga ladangnya. Namun setelah itu ia menyerahkan hasilnya kepada Allah. Begitu pula seorang mukmin harus bekerja, berdoa, dan berusaha maksimal, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah, bukan kepada usahanya sendiri.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi)

Perhatikanlah burung dalam hadis tersebut. Ia tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Ia tidak hanya diam menunggu rezeki turun dari langit. Namun hatinya tidak dipenuhi kecemasan berlebihan, karena Allah telah menjamin rezekinya. Inilah makna tawakal yang sebenarnya.

Kepasrahan kepada Allah juga membuat hati menjadi lebih tenang menghadapi ujian hidup. Orang yang yakin kepada Allah tidak akan mudah putus asa ketika kehilangan sesuatu. Ia memahami bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Jika Allah mengambilnya kembali, maka pasti ada hikmah yang besar di baliknya.

BERITA TERKAIT  Iduladha Bergas Teguhkan Semangat Mukhbitin dan Kepedulian Sosial

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Hati yang dipenuhi tawakal tidak akan mudah hancur oleh keadaan. Ia boleh menangis, tetapi tidak kehilangan harapan. Ia boleh sedih, tetapi tidak menyalahkan takdir. Sebab ia percaya bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

Kadang manusia baru memahami hikmah sebuah takdir setelah bertahun-tahun berlalu. Apa yang dulu dianggap musibah ternyata menjadi pintu keselamatan. Apa yang dulu dianggap kehilangan ternyata menjadi jalan menuju kedewasaan iman. Karena itu jangan pernah tergesa-gesa membenci takdir Allah.

Pasrah kepada Allah adalah cahaya yang menguatkan jiwa di tengah kerasnya kehidupan. Ketika manusia menyadari keterbatasannya dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, maka ia akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh dunia. Sebab hati yang dekat kepada Allah akan selalu memiliki tempat bersandar, bahkan ketika seluruh dunia terasa menjauh darinya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *