Dua Tahun Prabowo: Politik Bukan Sinetron!

banner 120x600

Oleh: FC-Goest/Inisiator Forum Wartawan Investigasi Nusantara (For-WIN)

BERHENTILAH menilai negara, dari foto 3 detik. Diapit Jokowi-Gibran saat 17 Agustus? Itu protokoler. Senyum bareng di Istana? Itu tentu saja etika kenegaraan.

Bisa jadi, yang sebenarnya terjadi justeru; ‘dibalik pintu tertutup ada negosiasi APBN. Ada lobi revisi UU.
Ada rebutan pengaruh 2029. Ada “10 kekuasaan” yang harus dihadapi setiap hari.

Sebagaimana dikutip dari pidato Pak Selamat Ginting, dalam ulasan politik nya di acara diskusi; ‘Dua Tahun Pemerintahan Prabowo’ yang diprakarsai Bung Eddy Mulyadi sang Jurnalis Idealis.

Menurut Dr. Selamat Ginting, duduk bersebelahan bukan otomatis bermakna setuju. Bisa jadi di otak mereka sedang berkecamuk hal-hal yang tidak kita duga.

BERITA TERKAIT  32 Tahun AJI: Ditengah Tekanan dan Kriminalisasi Pers Tolak Tunduk Pada Kekuasaan

Jadi, stop main dukun politik dari gestur. Pemerintahan itu, soal strategi bukan selfie. 2 Tahun berjalan. 3 Tahun lagi pertaruhan.

Foto bisa direkayasa. Namun APBN tidak. Politik itu, bukan soal siapa diapit siapa. Tapi siapa yang pegang kendali dibawah meja.

Melihat Prabowo diapit Jokowi-Gibran di acara kenegaraan HUT RI ke 81, langsung bilang; ‘wah kompak’.

Duduk bersebelahan belum tentu berarti setuju. Boleh jadi di otak mereka justru tengah terjadi perang strategi: APBN, IKN, 2029. Politik itu negosiasi jam 1 malam. Bukan senyum jam 10 pagi. Jadi nilai dari kerja, bukan dari gestur! (®)

Penulis: Goest Tanjung IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *