Aku menemukan foto itu di laci kayu ruang tamu rumah kami di pesisir Demak, saat angin laut membawa bau asin yang samar ke dalam rumah. Dalam foto itu, Ali berdiri di samping sedan tuanya dengan latar jalan menanjak di lereng Lawu. Senyumnya tipis, tidak pamer, seperti biasa. Di balik foto itu, ada tulisan tangan yang membuatku berhenti bernapas beberapa detik lebih lama.
Lima tahun lalu, aku adalah orang pertama yang menertawakan pilihan Ali ketika ia membawa pulang mobil itu dari arah Semarang. Toyota Great Corolla keluaran 90an, catnya kusam, velgnya biasa saja, dan suaranya sedikit kasar saat mesin dinyalakan. Di saat orang-orang berlomba membeli mobil baru dengan cicilan ringan, Ali justru datang dengan sesuatu yang terasa seperti mundur puluhan tahun. Aku bahkan sempat bertanya, setengah mengejek, apakah ia tidak malu.
Ali hanya menjawab singkat sambil mematikan mesin yang masih bergetar halus, “Malu itu kalau hidup numpang gengsi.” Ia lalu turun, menutup pintu dengan hati-hati, seperti memperlakukan sesuatu yang lebih dari sekadar kendaraan. Ibu tidak berkata apa-apa, hanya melihat dari balik pintu dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan. Sementara aku, waktu itu, merasa menang dalam logika yang salah.
Belakangan aku tahu, mobil itu bukan sekadar mobil tua biasa. Toyota Great Corolla adalah sedan yang pernah berjaya di Indonesia sejak awal 1990an, dikenal karena ketangguhan mesin dan desainnya yang bertahan lama. Mobil itu bukan barang rongsok seperti yang kubayangkan, tapi bagian dari sejarah panjang jalanan negeri ini. Namun tetap saja, bagiku saat itu, tua tetap berarti kalah.
Aku pernah ikut Ali menyusuri jalur Wonosobo menuju Dieng, pagi-pagi sekali ketika kabut turun seperti tirai yang menutup dunia. Mesin mobil itu meraung pelan saat menanjak, tidak bertenaga besar, tapi konsisten seperti napas orang yang sabar. Di tikungan tajam, aku sempat menggenggam pegangan pintu karena takut, tapi Ali justru tampak tenang. Ia seperti sudah mengenal betul batas dan kemampuan mobil itu.
“Kalau kamu tahu ritmenya, dia nggak akan ngerepotin,” katanya tanpa menoleh. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti bukan sedang bicara tentang mobil. Aku tidak menanggapi, hanya menatap jalan yang menghilang di balik kabut. Dalam diam, ada sesuatu yang mulai bergeser di dalam pikiranku, meski aku belum siap mengakuinya.
Hubunganku dengan Ali tidak selalu hangat seperti sekarang. Dulu aku sering membandingkan hidupku dengannya, merasa lebih cepat, lebih modern, lebih berhasil. Aku punya motor baru hasil kredit, punya gaya hidup yang terlihat rapi di mata orang lain. Sementara Ali tampak berjalan di tempat, dengan mobil tua dan cara hidup yang menurutku terlalu sederhana.
Sampai suatu malam, aku mendengar ia berdebat dengan ayah sebelum ayah meninggal. Bukan debat keras, tapi cukup untuk membuatku terbangun dari kamar. Ayah mengatakan sesuatu tentang “cukup”, sementara Ali menjawab dengan nada yang tertahan. Aku tidak benar-benar mengerti isi percakapan itu, tapi sejak malam itu, ada jarak yang tidak terlihat di antara mereka.
Setelah ayah tiada, Ali berubah lebih diam. Ia jarang bicara panjang, tapi semakin sering pergi jauh dengan mobilnya, seolah ada sesuatu yang ia kejar atau justru ia hindari. Kami tidak pernah benar-benar membahas ayah lagi, seakan topik itu menjadi ruang yang kami sepakati untuk tidak dimasuki. Aku pun memilih sibuk dengan hidupku sendiri.
Baru setelah menemukan foto itu, semuanya seperti dipaksa terbuka. Tulisan di belakang foto itu jelas bukan tulisan Ali. Aku mengenal betul bentuk huruf itu, meski sudah lama tidak melihatnya. Itu tulisan ayah.
Aku mendatangi Ali malam itu juga, membawa foto itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia sedang duduk di teras, memperbaiki sesuatu di bagian mesin yang terbuka. Lampu kuning menerangi wajahnya yang tampak lelah tapi tenang. Ketika aku menunjukkan foto itu, ia berhenti bekerja, lalu menghela napas panjang.
“Itu terakhir kali aku bawa ayah naik mobil itu,” katanya pelan. Aku terdiam, merasa ada sesuatu yang besar yang selama ini tidak pernah kuketahui. Angin malam berembus, membawa suara daun yang bergesekan seperti bisikan masa lalu. Aku duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa.
Ali lalu bercerita bahwa mobil itu sebenarnya pernah ingin dibeli ayah bertahun-tahun lalu, tapi urung karena biaya sekolah kami lebih penting. Pemilik lamanya adalah teman lama ayah di daerah Salatiga, yang menyimpan mobil itu tanpa banyak dipakai. Ketika Ali membelinya, ia sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada kami. Ia ingin menjadikannya kejutan untuk ayah.
Namun kejutan itu datang terlambat. Ayah sudah terlalu sakit saat pertama kali diajak naik mobil itu. Mereka hanya sempat berkeliling sebentar di jalan desa, tidak jauh, tidak lama. Dalam perjalanan singkat itu, ayah lebih banyak diam.
“Sebelum turun, ayah cuma bilang satu kalimat,” lanjut Ali, suaranya mulai serak. Aku menatapnya, menunggu, dengan perasaan yang tidak bisa lagi kutahan. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ali menatapku langsung, lalu berkata, “Ayah bilang, ‘Ternyata rasanya biasa saja. Yang penting itu bukan mobilnya.’”
Aku terpaku. Kalimat itu menghantam lebih keras daripada apa pun yang pernah kudengar tentang kesederhanaan. Semua bayanganku tentang ayah, tentang pengorbanan, tentang mimpi yang tertunda, tiba-tiba runtuh dan tersusun ulang dengan cara yang berbeda.
“Terus tulisan di foto itu?” tanyaku lirih.
Ali tersenyum tipis, lalu menjawab, “Aku yang minta ayah nulis itu, setelah kami pulang. Aku pikir dia bakal bilang sesuatu yang dalam.” Ia berhenti sejenak, lalu menunduk. “Ternyata justru itu yang paling dalam.”
Aku kembali melihat foto itu, kini dengan mata yang berbeda. Selama ini aku mengira Ali sedang meneruskan mimpi ayah. Padahal yang sebenarnya terjadi, Ali sedang belajar melepaskan mimpi itu, persis seperti yang ayah lakukan sepanjang hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa yang paling sulit bukanlah tidak memiliki sesuatu. Yang paling sulit adalah berhenti menganggapnya penting.














