Bepergian bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kesempatan untuk menyaksikan luasnya ciptaan Allah, mengenal manusia dengan beragam kehidupan, serta belajar merendahkan hati. Perjalanan dapat membuka pikiran yang sempit, menumbuhkan rasa syukur, memperkuat kesadaran akan kebesaran Allah, dan mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya berlangsung dalam batas ruang yang selama ini kita kenal dan pahami setiap hari.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al Ankabut ayat 20:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan. Kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Ankabut: 20)
Ayat ini memberikan tuntunan yang sangat indah bahwa perjalanan dapat menjadi sarana untuk berpikir dan memperhatikan tanda tanda kekuasaan Allah. Islam tidak mengajarkan manusia untuk hidup dalam ruang pengetahuan yang sempit. Dunia ini luas, ciptaan Allah beragam, dan setiap tempat menyimpan pelajaran bagi orang yang mau melihat dengan hati yang terbuka.
Pergi ke tempat lain membuat seseorang berhadapan dengan kenyataan yang mungkin berbeda dari kebiasaan hidupnya. Ada masyarakat yang memiliki tradisi berbeda, kondisi ekonomi yang berbeda, lingkungan yang berbeda, bahkan cara menghadapi persoalan kehidupan yang berbeda. Dari sana seseorang dapat belajar bahwa kebiasaan pribadi bukanlah ukuran mutlak untuk menilai seluruh kehidupan manusia.
Perjalanan juga dapat menjadi jalan untuk melatih kerendahan hati. Ketika melihat luasnya bumi, besarnya lautan, tingginya gunung, banyaknya manusia, serta beragamnya kehidupan, manusia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran Allah. Kesadaran seperti ini semestinya melahirkan syukur, bukan kesombongan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al Mulk ayat 15:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki Nya. Dan hanya kepada Nya kamu dibangkitkan. (QS. Al Mulk: 15)
Namun, perjalanan dalam perspektif Islam tidak berhenti pada kesenangan melihat tempat baru. Seorang Muslim hendaknya membawa kesadaran kepada Allah dalam setiap langkahnya. Ketika melihat keindahan alam, ia mengingat Penciptanya. Ketika melihat kehidupan orang lain, ia belajar bersyukur. Ketika menyaksikan kesulitan manusia, ia terdorong untuk peduli. Ketika menemukan perbedaan, ia belajar menghargai selama tidak bertentangan dengan prinsip agama.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa perjalanan dapat menjadi bagian dari pengalaman kehidupan yang penuh pelajaran. Dalam sebuah hadis disebutkan:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Artinya: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir. (HR. Bukhari)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia sendiri pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan. Manusia bukan penghuni yang kekal di dunia. Ia datang, menjalani kehidupan, kemudian meninggalkannya menuju kehidupan akhirat. Karena itu, setiap perjalanan di dunia seharusnya semakin menguatkan kesadaran tentang tujuan perjalanan yang paling panjang.
Berwisata, mengunjungi keluarga, menuntut ilmu, melakukan perjalanan pekerjaan, melihat sejarah, atau sekadar mengenal kehidupan masyarakat lain dapat menjadi pengalaman yang bernilai apabila dilakukan dengan niat yang baik. Perjalanan yang demikian tidak hanya menambah koleksi tempat yang pernah dikunjungi, tetapi juga memperkaya cara berpikir dan memperhalus jiwa.
Ungkapan bahwa dunia adalah sebuah buku dan orang yang tidak bepergian hanya membaca satu halaman dapat dipahami sebagai gambaran tentang pentingnya pengalaman. Namun bagi seorang Muslim, buku kehidupan itu tidak hanya dibaca dengan mata. Ia dibaca dengan akal, direnungkan dengan hati, lalu dihubungkan dengan tanda tanda kebesaran Allah.
Karena itu, jangan biarkan perjalanan hanya menghasilkan foto, cerita, dan kenangan. Biarkan perjalanan menghasilkan perubahan. Pulanglah dengan rasa syukur yang lebih besar, wawasan yang lebih luas, hati yang lebih lembut, dan keinginan yang lebih kuat untuk berbuat baik.
Sebab perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang membuat seseorang semakin bangga karena telah melihat banyak tempat, melainkan perjalanan yang membuatnya semakin mengenal dirinya, semakin mengenal kebesaran Tuhannya, semakin menghargai manusia, dan semakin sadar bahwa seluruh kehidupan ini pada akhirnya akan kembali kepada Allah.













