Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia tentang ibadah, tetapi juga memperkenalkan berbagai karakter manusia yang dapat menjadi teladan. Ada orang kuat yang tetap saleh, orang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk kebaikan, orang yang memegang amanah, orang yang diuji panjang lalu dimuliakan, dan orang tua yang mewariskan kebijaksanaan. Semua itu mengajarkan bahwa kekuatan terbaik adalah kekuatan yang tunduk kepada Allah.
Di tengah kehidupan yang sering membuat manusia kehilangan arah, Al-Qur’an menghadirkan tokoh-tokoh yang bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk diteladani. Kisah mereka menunjukkan bahwa kesalehan tidak berarti lemah, ilmu tidak boleh menjadi alat kesombongan, kekuasaan harus disertai keadilan, dan ujian tidak selalu menjadi tanda bahwa Allah meninggalkan hamba-Nya.
Dzulqarnain adalah gambaran manusia yang memiliki kekuasaan sekaligus kesalehan. Ketika memperoleh kemampuan besar, ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri atau menindas manusia. Ia menggunakan kekuatan untuk melindungi masyarakat dan menyelesaikan persoalan mereka.
Allah berfirman:
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
Dia berkata, “Apa yang telah dianugerahkan kepadaku oleh Tuhanku lebih baik daripada apa yang kamu tawarkan. Maka bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahf: 95)
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kekuatan adalah amanah. Kekuasaan menjadi mulia apabila digunakan untuk melindungi, memperbaiki dan menghadirkan kemaslahatan.
Nabi Zakaria mengajarkan keteguhan dalam berdoa. Ia telah lanjut usia dan istrinya dalam keadaan tidak memungkinkan memiliki keturunan, tetapi ia tidak berhenti berharap kepada Allah.
Allah berfirman:
وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
“Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedangkan istriku seorang yang mandul. Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, wahai Tuhanku, orang yang diridai.” (QS. Maryam: 5–6)
Zakaria tidak memaksa Allah menentukan waktu sesuai keinginannya. Ia meminta dengan penuh kerendahan hati. Inilah adab doa: berharap dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menyerahkan hasil kepada Allah.
Nabi Yahya memberikan teladan tentang ilmu dan ketakwaan sejak usia muda. Allah berfirman:
يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
“Wahai Yahya, peganglah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam: 12)
Ilmu yang benar bukan sekadar membuat seseorang pintar berbicara. Ilmu harus melahirkan hikmah, keberanian menjalankan kebenaran dan manfaat bagi sesama.
Nabi Musa memberikan pelajaran tentang kekuatan dan amanah. Dalam kisahnya, salah seorang putri Nabi Syuaib menyampaikan penilaian yang sangat penting:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, ‘Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja. Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’” (QS. Al-Qashash: 26)
Kekuatan tanpa amanah dapat menjadi ancaman. Amanah tanpa kemampuan juga dapat membuat tugas tidak tertunaikan secara optimal. Karena itu, Al-Qur’an memperkenalkan dua sifat yang harus berjalan bersama: kuat dan dapat dipercaya.
Kisah Nabi Yusuf bahkan memperlihatkan perjalanan yang luar biasa. Ia pernah berada dalam sumur, menjadi budak, menghadapi fitnah, mendekam di penjara, kemudian memperoleh kedudukan penting. Allah berfirman:
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Dan raja berkata, ‘Bawalah dia kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku.’ Ketika dia telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.’” (QS. Yusuf: 54)
Perjalanan Yusuf mengajarkan bahwa keadaan hari ini bukan penentu akhir kehidupan. Kesulitan dapat menjadi jalan menuju kematangan, selama manusia tetap menjaga iman, kehormatan dan kesabaran.
Sementara itu, Luqman mengajarkan bahwa kebijaksanaan paling penting diwariskan melalui nasihat yang menyentuh akidah, ibadah dan akhlak. Allah mengabadikan nasihatnya:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Kemudian Luqman mengajarkan salat, amar makruf, kesabaran dan kerendahan hati. Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga bukan hanya tentang kecerdasan dan keberhasilan dunia, tetapi tentang bagaimana anak mengenal Allah dan memiliki akhlak.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)
Kekuatan yang dimaksud tidak semata-mata kekuatan fisik. Ia mencakup kekuatan iman, ilmu, mental, kemauan, kemampuan bekerja, kemampuan mengendalikan diri dan kemampuan memberi manfaat.
Karena itu, mari kembali bersahabat dengan Al-Qur’an. Ketika kita membutuhkan contoh tentang kekuasaan, lihatlah Dzulqarnain. Ketika doa terasa panjang menunggu jawaban, ingatlah Zakaria. Ketika ilmu membutuhkan arah, belajarlah dari Yahya. Ketika kekuatan harus dipertemukan dengan amanah, renungkan kisah Musa. Ketika hidup terasa jatuh berkali-kali, bacalah kembali perjalanan Yusuf. Dan ketika menjadi orang tua, jangan lupa bahwa Luqman mengajarkan bahwa nasihat terbaik dimulai dari tauhid.
Al-Qur’an sesungguhnya tidak pernah kehabisan teladan. Yang sering berkurang adalah kesediaan kita untuk membacanya dengan hati yang ingin berubah. Sebab membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk mengetahui siapa mereka, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: sifat baik mana yang sudah tumbuh dalam diri kita, dan sifat mana yang masih harus kita perjuangkan?













