JOMBANG, BUSERNASIONAL— Niat hati ingin khusyuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di Tanah Suci, sekitar 200 jemaah umrah asal Kabupaten Jombang justru harus menelan pil pahit. Alih-alih mendapatkan pelayanan prima, para jemaah yang mayoritas merupakan rombongan ibu-ibu dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Muslimat ini malah menjadi korban dugaan penipuan dan ketidakprofesionalan biro perjalanan PT Annisa Ahmada Travelindo.
Kasus memilukan ini sukses membuat siapa saja yang mendengarnya mengelus dada dan beristigfar berkali-kali. Bagaimana tidak, derita para jemaah sudah dirasakan sejak sebelum keberangkatan hingga kepulangan mereka ke Tanah Air.
Kronologi Petaka Jilid I dan II: Tertahan di Tanah Air, Terlantar Tanpa Tiket Pulang
Tragedi bermula pada akhir Agustus lalu. Para jemaah sempat mengalami kegagalan dan tertahan di Tanah Air akibat jadwal keberangkatan yang berantakan. Setelah melalui proses mediasi yang melelahkan, rombongan akhirnya diizinkan terbang ke Arab Saudi.
Namun, petaka jilid dua yang jauh lebih mengerikan justru menyambut mereka di Tanah Suci. Setibanya di sana, kedok buruk pihak travel mulai terbongkar. Betapa terkejutnya para jemaah ketika mengetahui bahwa pihak biro perjalanan ternyata tidak membelikan tiket kepulangan ke Indonesia!
Akibat kelalaian fatal ini, puluhan jemaah terpaksa harus merogoh kocek pribadi hingga jutaan rupiah demi bisa membeli tiket pesawat sendiri agar bisa pulang kembali ke pelukan keluarga di Jombang pada Rabu (16/9) lalu.
Menteri Haji dan Umrah “Turun Gunung”, Kantor Travel Digembok
Kasus pelik ini tak luput dari perhatian serius pemerintah pusat. Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan—yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng—langsung “turun gunung” untuk menangani masalah ini. Gus Irfan melayangkan teguran keras kepada pihak pengelola KBIHU Muslimat yang dinilai sangat teledor dalam menyeleksi dan menggandeng agen travel tersebut.
“Ini adalah bentuk kelalaian luar biasa yang mencederai kepercayaan jemaah. Hak-hak mereka dirampas di Tanah Suci,” tegas pihak berwenang.
Berdasarkan data mengejutkan dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), PT Annisa Ahmada Travelindo tercatat menampung hampir 4.000 jemaah dari seluruh penjuru Indonesia. Dengan estimasi jumlah tersebut, aliran dana masyarakat yang masuk ke biro perjalanan ini ditaksir mencapai angka fantastis, yakni Rp 120 MILIAR!
Menyusul mencuatnya skandal besar ini dan amukan dari para keluarga korban, situasi di lokasi langsung memanas. Berdasarkan pantauan di lapangan, kantor PT Annisa Ahmada Travelindo di Jombang kini telah digembok rapat dan ditinggalkan tanpa kejelasan oleh pihak pengelola.
Kasus ini kini menjadi sorotan tajam publik dan tengah berada dalam penanganan serius pihak berwajib untuk mengusut tuntas aliran dana serta pertanggungjawaban hukum dari pihak travel.














