Jangan Takut Pada Yang Mempersulit

banner 120x600

Busernasional.my.id – Ada masa ketika langkah kita terasa berat karena urusan dipersulit manusia, jalan seakan ditutup, dan harapan seperti dijauhkan. Namun seorang beriman tidak boleh kehilangan keyakinan hanya karena menghadapi kesulitan. Allah mengetahui setiap usaha, mendengar setiap doa, dan mampu membuka jalan dari arah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.

Dalam kehidupan, tidak semua kesulitan berarti pertanda bahwa kita sedang berada di jalan yang salah. Ada rintangan yang justru menjadi sarana Allah untuk mendewasakan jiwa, membersihkan niat, menguatkan kesabaran, dan mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Karena itu, ketika ada orang yang mempersulit urusan kita, jangan segera membalas dengan kemarahan. Jangan pula membiarkan hati dipenuhi dendam. Hadapilah dengan kesabaran, ikhtiar, doa, dan keyakinan bahwa tidak ada satu pun kekuasaan manusia yang berada di luar kekuasaan Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍۢ قَدْرًۭا

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini mengajarkan sebuah prinsip yang sangat penting: tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Ketika manusia mempersulit, kita tetap mencari jalan yang halal. Ketika pintu tertentu tertutup, kita tidak berhenti mengetuk pintu-pintu kebaikan yang lain. Ketika seseorang menolak membantu, kita tidak menganggap seluruh kehidupan telah berakhir. Sebab rezeki, pertolongan, kemudahan, dan jalan keluar tidak pernah hanya bergantung kepada satu manusia.

Allah memiliki banyak cara untuk menolong hamba-Nya. Bisa melalui seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal. Bisa melalui kesempatan yang tidak pernah kita rencanakan. Bisa melalui perubahan keadaan yang datang secara perlahan. Bahkan terkadang pertolongan Allah hadir dalam bentuk sesuatu yang awalnya kita anggap sebagai kegagalan.

Karena itu, jangan terlalu takut kepada manusia yang memiliki kekuasaan sementara. Jabatan dapat berakhir, kedudukan dapat berubah, kekuatan dapat melemah, dan keadaan dapat berbalik. Jangan sampai rasa takut kepada manusia membuat kita berani melanggar ketentuan Allah. Jangan sampai keinginan mendapatkan kemudahan membuat kita menempuh jalan yang haram. Kemudahan yang diperoleh dengan cara yang salah bukanlah keberkahan, sedangkan kesulitan yang dihadapi dengan ketaatan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan.

Allah mengingatkan:

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Perhatikan bagaimana Allah menyebutkan bahwa kemudahan itu bersama kesulitan. Bukan semata-mata setelah kesulitan berlalu. Ini memberikan harapan yang sangat dalam. Di dalam kesulitan yang sedang kita jalani, boleh jadi sudah terdapat benih kemudahan yang belum mampu kita lihat. Di dalam penolakan seseorang, mungkin ada perlindungan Allah dari sesuatu yang tidak kita ketahui. Di dalam tertundanya suatu urusan, mungkin ada waktu yang sedang Allah siapkan agar kita menjadi lebih matang.

Maka jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa semua yang sulit adalah buruk. Manusia hanya melihat bagian kecil dari sebuah peristiwa, sedangkan Allah mengetahui keseluruhannya. Kita sering menginginkan sesuatu karena melihat manfaatnya hari ini, sementara Allah mengetahui akibatnya bertahun-tahun kemudian.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

BERITA TERKAIT  KETIKA CCTV MENGUJI ETIKA SEKOLAH KITA

Ayat ini seharusnya menjadi penenang bagi hati yang sedang menghadapi jalan kehidupan yang berliku. Kita tidak mengetahui seluruh rahasia di balik sebuah kejadian. Karena itu, jangan menilai takdir hanya dari apa yang terlihat pada hari ini.

Ada orang yang pernah ditolak dalam sebuah pekerjaan, lalu beberapa waktu kemudian mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Ada seseorang yang gagal memperoleh sesuatu yang sangat diinginkannya, tetapi kegagalan itu justru menyelamatkannya dari persoalan yang lebih besar. Ada pula orang yang pernah merasa sangat kecewa karena sebuah hubungan berakhir, kemudian menyadari bahwa perpisahan tersebut menyelamatkan dirinya dari kehidupan yang tidak sehat.

Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan hamba-Nya.

Yang perlu kita jaga adalah sikap ketika menghadapi manusia yang mempersulit. Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman. Jangan mencaci karena dicaci. Jangan menghina karena dihina. Jangan menyebarkan keburukan seseorang hanya karena kita pernah diperlakukan buruk olehnya. Seorang Muslim dituntun untuk tetap menjaga akhlak sekalipun sedang menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan ukuran kekuatan yang berbeda dari ukuran manusia pada umumnya. Kekuatan bukan hanya kemampuan memenangkan pertengkaran. Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki alasan untuk marah. Kita mungkin mampu membalas, tetapi memilih tidak membalas karena takut kepada Allah. Kita mungkin mampu mempermalukan seseorang, tetapi memilih menutup aibnya. Kita mungkin mampu mengungkapkan semua kesalahan orang lain, tetapi memilih diam karena ingin menjaga hati dan kehormatan.

Namun sabar bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dizalimi. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi lemah atau pasrah terhadap kezaliman. Jika hak kita dirampas, kita boleh memperjuangkannya melalui cara yang benar. Jika urusan dipersulit secara tidak adil, kita boleh mencari jalan hukum dan meminta bantuan pihak yang berwenang. Jika seseorang berbuat zalim, kita boleh menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun dan proporsional.

Yang harus dihindari adalah membiarkan perjuangan mencari keadilan berubah menjadi kebencian yang merusak diri sendiri.

Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Betapa indah tuntunan ini. Bahkan ketika hati kita tidak menyukai seseorang, keadilan tetap harus ditegakkan. Artinya, seorang Muslim tidak boleh menjadikan perlakuan buruk orang lain sebagai alasan untuk meninggalkan akhlak Islam.

Ketika ada orang mempersulit jalan kita, tugas kita bukan mengendalikan orang tersebut. Kita tidak mampu mengatur hati, pikiran, dan tindakan semua manusia. Yang mampu kita kendalikan adalah respons kita sendiri. Kita dapat memilih untuk tetap tenang. Kita dapat memilih berbicara dengan baik. Kita dapat memilih menyelesaikan masalah melalui jalan yang benar. Kita dapat memilih terus bekerja meskipun tidak mendapat tepuk tangan. Dan kita dapat memilih berdoa ketika tidak ada lagi manusia yang mampu menolong.

Di sinilah makna tawakal menjadi sangat penting.

Tawakal membuat hati tidak mudah hancur karena penolakan manusia. Jika seseorang berkata tidak, kita tidak langsung merasa bahwa Allah juga mengatakan tidak. Jika sebuah pintu tertutup, kita tidak menyimpulkan bahwa seluruh pintu kehidupan telah tertutup. Jika seseorang tidak membantu, kita tidak menganggap bahwa pertolongan telah berakhir.

BERITA TERKAIT  Hatta Rajasa, Teknokrat di Pusat Kekuasaan

Pertolongan Allah tidak terbatas pada apa yang mampu kita bayangkan.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada Ibnu Abbas sebuah nasihat yang sangat agung:

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini bukan ajakan untuk takut kepada manusia. Justru sebaliknya, ia membebaskan hati seorang mukmin dari ketergantungan kepada manusia. Kita tetap menghormati manusia, menghargai atasan, menghormati pejabat, menjaga hubungan dengan keluarga, dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Tetapi hati kita tidak boleh menggantungkan nasib kepada mereka.

Manusia hanyalah sebab. Allah adalah Pengatur segala sebab.

Karena itu, ketika urusan kita dipersulit, perbanyaklah doa, tetapi jangan tinggalkan ikhtiar. Perbaiki dokumen jika diperlukan. Lengkapi persyaratan. Cari informasi. Mintalah bantuan kepada orang yang tepat. Sampaikan keberatan dengan bahasa yang santun. Gunakan jalur yang halal dan legal. Jika satu jalan tertutup, cari jalan lain yang tetap berada dalam batas-batas yang Allah ridai.

Jangan menjadikan kalimat “saya bertawakal kepada Allah” sebagai alasan untuk tidak berusaha. Tawakal yang benar berjalan bersama ikhtiar. Kita bekerja sekuat kemampuan, lalu menyerahkan hasil kepada Allah. Kita merencanakan sebaik mungkin, kemudian menerima keputusan Allah dengan lapang dada.

Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: jangan biarkan orang yang mempersulit hidup kita mengambil terlalu banyak ruang di dalam pikiran. Jangan sampai satu orang membuat kita kehilangan rasa syukur kepada Allah atas puluhan nikmat yang masih kita miliki. Jangan sampai satu masalah membuat kita lupa bahwa kita masih memiliki keluarga, kesehatan, kesempatan beribadah, waktu untuk memperbaiki diri, dan kesempatan untuk berdoa.

Sering kali masalah menjadi terasa lebih besar karena kita terus-menerus memikirkannya. Kita mengulang percakapan dalam kepala, membayangkan apa yang seharusnya kita katakan, memikirkan bagaimana membalas, dan menyusun berbagai kemungkinan buruk. Akhirnya, persoalan yang sebenarnya hanya terjadi di satu tempat ikut menguasai seluruh kehidupan kita.

Belajarlah meletakkan masalah pada tempatnya.

Selesaikan apa yang dapat diselesaikan. Terima apa yang memang harus diterima. Perbaiki apa yang masih dapat diperbaiki. Tinggalkan apa yang memang harus ditinggalkan. Setelah itu, serahkan perkara yang berada di luar kemampuan kita kepada Allah.

Jangan takut kepada manusia yang mempersulit jalanmu. Takutlah jika kesulitan itu membuatmu jauh dari Allah. Jangan takut kehilangan dukungan manusia, tetapi takutlah kehilangan keberkahan. Jangan terlalu takut pintu dunia tertutup, tetapi takutlah jika hati sendiri tertutup dari petunjuk Allah.

BERITA TERKAIT  Sukarno Menembus Barat Tanpa Kehilangan Arah

Sebab bisa jadi pintu yang ditutup manusia justru menjadi jalan bagi Allah untuk mengarahkan kita kepada pintu yang lebih baik.

Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang seberapa sedikit rintangan yang kita hadapi. Kehidupan adalah tentang bagaimana kita tetap menjadi hamba Allah ketika rintangan datang. Ada orang yang ketika dipersulit menjadi kasar. Ada yang ketika ditolak menjadi sombong. Ada yang ketika dizalimi menjadi pendendam. Tetapi ada pula orang yang justru semakin dekat kepada Allah karena kesulitan.

Jadilah yang terakhir.

Jika hari ini ada seseorang yang membuat urusanmu terasa berat, tenangkan hati. Jangan terburu-buru membalas. Jangan mengambil keputusan ketika emosi sedang tinggi. Berdoalah: “Ya Allah, jika urusan ini baik bagiku, mudahkanlah. Jika ada jalan yang lebih baik, tunjukkanlah kepadaku. Jika aku sedang dizalimi, berikanlah aku kekuatan untuk menempuh jalan keadilan tanpa kehilangan akhlak.”

Percayalah, Allah tidak pernah lalai terhadap keadaan hamba-Nya.

Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍۢ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ

“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini mengingatkan bahwa kezaliman manusia tidak pernah tersembunyi dari pengetahuan Allah. Jika hari ini seseorang berhasil mempersulit urusan kita, jangan mengira Allah tidak mengetahui. Jika seseorang menyalahgunakan kekuasaan, Allah mengetahui. Jika seseorang mengambil hak orang lain, Allah mengetahui. Jika seseorang berbuat tidak adil secara diam-diam, Allah mengetahui.

Tugas kita adalah menjaga diri agar tidak ikut menjadi zalim.

Maka berjalanlah dengan tenang. Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Pertahankan kejujuran. Jangan tinggalkan doa. Jangan putus asa. Jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik.

Karena manusia mungkin dapat memperlambat langkah kita, tetapi manusia tidak dapat menggagalkan ketetapan Allah. Manusia mungkin dapat menutup satu pintu, tetapi tidak mampu menutup semua jalan yang telah Allah sediakan. Manusia mungkin dapat membuat urusan menjadi rumit, tetapi Allah mampu menjadikannya sederhana dalam sekejap.

Apa yang bagi kita tampak buntu, bagi Allah tidak pernah buntu.

Apa yang bagi kita tampak mustahil, bagi Allah tidak sulit.

Apa yang belum kita pahami hari ini, mungkin kelak menjadi alasan kita bersyukur.

Karena itu, tetaplah percaya. Selama kita berjalan dalam kebenaran, jangan takut pada manusia yang mempersulit jalan. Serahkan urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Jika harus menunggu, tunggulah dengan sabar. Jika harus berjuang, berjuanglah dengan cara yang benar. Jika harus melepaskan, lepaskan dengan lapang dada.

Sebab seorang mukmin tidak hidup hanya berdasarkan apa yang tampak di hadapan mata. Ia hidup dengan keyakinan bahwa di balik setiap takdir ada ilmu Allah, di balik setiap ujian ada hikmah, di balik setiap kesulitan ada peluang untuk bertumbuh, dan di balik setiap jalan yang terasa sempit selalu ada Allah Yang Mahaluas rahmat-Nya.

Maka jangan takut.

Tetaplah melangkah.

Tetaplah berdoa.

Tetaplah berbuat baik.

Dan percayalah, ketika manusia membuat jalan terasa rumit, Allah memiliki cara yang tidak pernah terbatas untuk menghadirkan kemudahan.

Penulis: DwEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *