Gunung, Tanda Kekuasaan Allah

banner 120x600

Bayangkan gunung yang selama ini dipandang manusia sebagai lambang kekokohan. Ia tampak diam, tegak, dan kokoh, tetapi Al-Qur’an mengajarkan bahwa seluruh alam tidak pernah benar-benar bebas dari ketundukan kepada Allah. Gunung, bumi, langit, dan segala makhluk berjalan menurut ketetapan-Nya. Karena itu, setiap gejala alam semestinya mengajak manusia merenung, bukan sekadar takut, tetapi semakin mengenal kebesaran Allah dan memperbaiki diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa bahwa dirinya adalah penguasa bumi. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mampu membangun gedung tinggi, membuat jalan menembus gunung, mengebor bumi, mengarungi lautan, bahkan menjelajah ruang angkasa. Namun, di hadapan kekuasaan Allah, semua pencapaian itu tetaplah kecil. Alam semesta yang demikian luas bukan milik manusia. Manusia hanya diberi amanah untuk tinggal, memanfaatkan, menjaga, dan mengambil pelajaran darinya.

Gunung yang menjulang tinggi merupakan salah satu tanda kebesaran Allah. Dari kejauhan ia tampak tidak bergerak, seolah-olah menjadi simbol ketenangan dan keteguhan. Akan tetapi, Al-Qur’an menggambarkan bahwa gunung pun memiliki hubungan dengan ketundukan kepada Sang Pencipta. Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 21:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”

Ayat ini menggugah hati manusia. Gunung yang dalam pandangan kita sangat kokoh digambarkan dapat tunduk dan terpecah karena rasa takut kepada Allah apabila menerima beban wahyu tersebut. Lalu bagaimana dengan manusia yang telah diberi akal, hati, pendengaran, penglihatan, dan kesempatan hidup? Seharusnya manusia jauh lebih mudah tunduk kepada Allah.

Masalahnya, manusia sering memiliki hati yang lebih keras daripada batu. Gunung yang tampak keras dapat tunduk kepada kebesaran Allah, sedangkan sebagian manusia yang tubuhnya lemah justru berani membangkang terhadap perintah-Nya. Gunung tidak memiliki kesombongan seperti manusia. Manusia justru dapat mengetahui kebenaran, tetapi memilih mengabaikannya. Manusia dapat mendengar nasihat, tetapi menolaknya. Manusia dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi tetap merasa bahwa kehidupan ini sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Allah kembali menjelaskan bahwa gunung-gunung pun memiliki cara tersendiri dalam bertasbih kepada-Nya. Dalam Surah Al-Isra ayat 44 Allah berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”

Ayat ini mengajarkan sebuah kesadaran besar: alam bukan benda mati yang tidak memiliki makna. Semua yang diciptakan Allah berada dalam tatanan yang Dia kehendaki. Manusia mungkin tidak memahami bagaimana gunung bertasbih, bagaimana bumi tunduk, atau bagaimana makhluk-makhluk lain memuji Allah. Keterbatasan manusia dalam memahami sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.

Karena itu, ketika manusia menyaksikan gunung bergetar, mengeluarkan asap, memuntahkan material vulkanik, atau mengalami perubahan aktivitas, seorang mukmin hendaknya tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa semua itu terjadi tanpa makna. Namun, kita juga harus berhati-hati agar tidak mengklaim secara pasti bahwa suatu letusan tertentu merupakan hukuman Allah kepada kelompok tertentu. Perkara yang sangat khusus mengenai maksud Allah dalam sebuah peristiwa tidak boleh ditebak tanpa dalil.

BERITA TERKAIT  Sukarno Menembus Barat Tanpa Kehilangan Arah

Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa letusan gunung api memiliki proses geologis, berkaitan dengan magma, tekanan, gas, dan dinamika bumi. Penjelasan ilmiah tersebut tidak bertentangan dengan keimanan. Justru seorang muslim dapat memahami bahwa hukum-hukum alam itu sendiri merupakan bagian dari sunnatullah. Allah menciptakan alam dengan keteraturan dan sebab-akibat. Ketika sebab-sebab alamiah bekerja, semuanya tetap berlangsung dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas dalam Surah At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Perhatikan bagian akhir ayat tersebut. Ketika musibah datang, Allah tidak hanya mengajarkan manusia untuk memikirkan peristiwa di luar dirinya, tetapi juga mengarahkan hati. Musibah dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk kembali kepada Allah. Peristiwa yang mengguncangkan kehidupan dapat membuat manusia menyadari betapa lemahnya dirinya.

Namun, jangan pula menjadikan setiap bencana sebagai bahan untuk menghakimi korban. Kita tidak mengetahui rahasia takdir Allah. Orang yang tertimpa musibah belum tentu sedang dihukum. Bisa jadi ia sedang diuji, ditinggikan derajatnya, dihapus dosa-dosanya, atau menjadi sebab orang lain mendapatkan pelajaran dan pertolongan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.

Inilah cara pandang seorang mukmin. Ketika mendapatkan nikmat, ia tidak sombong. Ketika menghadapi kesulitan, ia tidak berputus asa. Ketika alam menunjukkan kedahsyatannya, ia tidak hanya melihat ancaman, tetapi juga melihat kebesaran Allah. Ia menggunakan akalnya untuk memahami sebab-sebab ilmiah sekaligus menggunakan hatinya untuk mengambil pelajaran spiritual.

Allah bahkan menjelaskan bahwa gunung-gunung akan berubah ketika datangnya hari kiamat. Dalam Surah An-Naba ayat 18-20 Allah berfirman:

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا ۝ وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا ۝ وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

Artinya: “Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong. Dan langit dibukakan, maka terdapatlah beberapa pintu. Dan gunung-gunung dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.”

Gunung yang selama ini dianggap kokoh ternyata bukan sesuatu yang kekal. Ini merupakan pelajaran penting bagi manusia. Jika gunung yang begitu besar saja tidak kekal, bagaimana mungkin manusia menyangka bahwa kekuasaan, kekayaan, jabatan, rumah, kendaraan, dan seluruh kesenangan dunia akan bertahan selamanya?

BERITA TERKAIT  KETIKA CCTV MENGUJI ETIKA SEKOLAH KITA

Kesalahan manusia sering bermula dari cara pandang yang keliru terhadap dunia. Kita mengejar sesuatu seolah-olah akan memilikinya selamanya. Kita marah ketika kehilangan sesuatu yang memang sejak awal hanya titipan. Kita merasa tinggi ketika mendapatkan jabatan, lalu merendahkan orang lain. Kita merasa aman karena harta, padahal kesehatan, usia, dan kesempatan hidup semuanya berada di tangan Allah.

Gunung mengajarkan keteguhan, tetapi juga mengajarkan kefanaan. Ia tegak selama Allah menghendaki. Ia mengalami perubahan sesuai hukum yang Allah tetapkan. Demikian pula kehidupan manusia. Kita lahir, tumbuh, menjadi tua, lalu kembali kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak ketetapan tersebut.

Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 88:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: “Segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah. Milik-Nya segala keputusan, dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”

Ayat ini bukan sekadar informasi tentang akhir kehidupan. Ia adalah peringatan agar manusia tidak salah menempatkan cinta. Harta boleh dicintai, keluarga boleh disayangi, pekerjaan boleh ditekuni, tetapi semuanya tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah. Apa yang kita miliki akan pergi atau kita yang akan pergi meninggalkannya.

Ketika gunung meletus, manusia diingatkan tentang pentingnya keselamatan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk hanya berdoa tanpa usaha. Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Jika pemerintah atau petugas kebencanaan menetapkan wilayah tertentu harus dikosongkan, seorang muslim hendaknya mematuhi arahan keselamatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Menyelamatkan jiwa merupakan bagian dari tujuan penting syariat.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 195:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Maka ketika terjadi bencana, jangan hanya sibuk menyebarkan gambar yang menakutkan. Jangan mempermainkan penderitaan korban untuk mendapatkan perhatian. Jangan pula menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Sebaliknya, bantulah mereka yang membutuhkan, doakan keselamatan, berikan informasi yang benar, dan jangan mengganggu proses evakuasi.

Peristiwa alam juga mengajarkan manusia tentang pentingnya menjaga lingkungan. Bumi bukan tempat yang boleh diperlakukan sesuka hati. Allah telah memberikan amanah kepada manusia untuk memakmurkannya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’”

Menjadi khalifah berarti menjalankan amanah, bukan bertindak sewenang-wenang. Manusia harus menggunakan ilmu untuk memahami alam, bukan untuk mengeksploitasinya tanpa batas. Hutan, sungai, tanah, laut, dan gunung harus diperlakukan dengan tanggung jawab. Kerusakan yang muncul akibat keserakahan manusia semestinya menjadi bahan introspeksi.

Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Ayat tersebut mengandung peringatan sekaligus kesempatan untuk kembali. Alam dapat menjadi cermin bagi manusia. Ketika sesuatu terjadi, kita perlu bertanya: sudahkah kita menjadi manusia yang amanah? Sudahkah kita menjaga bumi? Sudahkah kita membantu sesama? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan Allah? Sudahkah kita meminta ampun atas dosa-dosa yang kita lakukan?

BERITA TERKAIT  Hatta Rajasa, Teknokrat di Pusat Kekuasaan

Jangan menunggu gunung berguncang untuk mengingat Allah. Jangan menunggu bencana untuk mulai bersedekah. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai keluarga. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kematian mendekat untuk bertobat.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Inilah kabar yang paling menenteramkan. Sebesar apa pun dosa seseorang, pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Allah tidak meminta manusia menjadi makhluk tanpa kesalahan. Allah meminta manusia yang mau kembali setiap kali menyadari kesalahannya.

Gunung yang tunduk kepada ketetapan Allah seharusnya membuat hati manusia belajar tunduk. Jika gunung tidak pernah keluar dari hukum yang Allah tetapkan, manusia pun semestinya tidak menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk melawan perintah-Nya. Kebebasan yang diberikan kepada manusia adalah ujian. Kita diberi pilihan agar pilihan itu dipertanggungjawabkan.

Setiap letusan, gempa, hujan, angin, matahari, laut, dan gunung mengajarkan satu kesimpulan: manusia tidak hidup di alam yang tanpa pengatur. Ada Allah Yang Mahakuasa, Yang mengetahui segala sesuatu, Yang menetapkan segala sesuatu dengan ilmu dan hikmah-Nya. Kita boleh mempelajari sebab ilmiahnya dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai ilmu membuat kita lupa kepada Pencipta.

Karena itu, ketika melihat gunung berdiri kokoh, ucapkan syukur. Ketika melihat aktivitas gunung meningkat, tingkatkan kewaspadaan dan ikuti petunjuk keselamatan. Ketika menyaksikan bencana menimpa saudara kita, hadirkan empati dan pertolongan. Ketika hati merasa takut, dekatkan diri kepada Allah. Ketika menyadari dosa, segeralah bertobat.

Jangan menjadikan gunung hanya sebagai pemandangan. Jadikan ia sebagai ayat kauniyah yang menghidupkan kesadaran. Jangan menjadikan bencana hanya sebagai berita. Jadikan ia sebagai kesempatan untuk mengoreksi diri. Dan jangan menganggap hidup sebagai rangkaian kebetulan. Setiap detik adalah amanah, setiap nikmat adalah titipan, setiap ujian adalah kesempatan untuk bersabar, dan setiap kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan hati kita lembut ketika mendengar ayat-ayat-Nya, tunduk ketika menerima perintah-Nya, sabar ketika menghadapi ujian-Nya, bersyukur ketika memperoleh nikmat-Nya, dan tidak sombong ketika diberi kekuatan. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari alam tanpa menghakimi takdir, menggunakan ilmu tanpa kehilangan iman, serta menjaga bumi sebagai amanah dari Allah. Sebab sebesar apa pun gunung di hadapan mata manusia, kebesaran Allah jauh melampaui seluruh ciptaan-Nya.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *