Keuntungan Akhirat, Prioritas Kehidupan

banner 120x600

Hidup bukan sekadar tentang apa yang tampak berhasil di mata manusia, melainkan tentang ke mana hati diarahkan dan untuk siapa setiap usaha dilakukan. Dunia memang perlu diusahakan, tetapi akhirat harus menjadi tujuan utama, sebab kenikmatan dunia terbatas, sedangkan balasan Allah kekal. Ketika orientasi akhirat tertanam dalam hati, seseorang lebih tenang menghadapi penilaian manusia, kehilangan, keberhasilan, dan berbagai ujian kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ﴾

Artinya:
“Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20).

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia boleh mencari dunia, bekerja, membangun usaha, menuntut ilmu, memperoleh kedudukan, memperbaiki kehidupan keluarga, dan menikmati rezeki yang halal. Namun, semua itu jangan sampai menjadi tujuan tertinggi yang menggeser akhirat dari pusat kehidupan. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat menuai. Orang yang cerdas bukanlah orang yang meninggalkan dunia, melainkan orang yang menjadikan dunia sebagai jalan menuju keridaan Allah.

Salah satu penyakit kehidupan modern adalah terlalu kuatnya keinginan untuk mendapatkan pengakuan manusia. Seseorang dapat menghabiskan banyak waktu untuk membangun citra, memikirkan penilaian orang, mengejar pujian, membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain, bahkan mengorbankan prinsip demi terlihat berhasil. Padahal, penilaian manusia berubah-ubah. Hari ini seseorang dipuji, besok dapat dicela. Hari ini dianggap hebat, esok mungkin dilupakan. Jika kebahagiaan digantungkan pada penilaian manusia, hati akan mudah lelah karena tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas apa yang dikatakan orang.

Islam mengajarkan agar seorang mukmin membangun kehidupan berdasarkan pandangan Allah, bukan semata-mata pandangan manusia. Yang paling penting bukanlah seberapa banyak orang mengetahui kebaikan kita, tetapi apakah Allah menerimanya. Yang paling berharga bukanlah seberapa tinggi seseorang dipuji, melainkan seberapa ikhlas amalnya di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

Artinya:
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi fondasi penting dalam kehidupan seorang muslim. Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi nilainya di sisi Allah dapat berbeda karena niat yang berbeda. Seseorang mungkin bekerja keras untuk mendapatkan pujian, sementara orang lain bekerja keras untuk menunaikan amanah dan mencari rezeki halal demi keluarganya. Dari luar keduanya tampak sama, tetapi Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada.

Karena itu, sebelum bertanya, “Apa yang akan orang katakan tentang saya?”, lebih baik kita bertanya, “Apa yang Allah kehendaki dari saya?” Sebelum sibuk memastikan orang lain mengetahui kebaikan kita, hendaknya kita memastikan bahwa Allah mengetahui keikhlasan kita. Sebab manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui yang tersembunyi.

BERITA TERKAIT  Sukarno Menembus Barat Tanpa Kehilangan Arah

Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ۝١٦٣﴾

Artinya:
“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162–163).

Ayat tersebut mengajarkan sebuah orientasi hidup yang sangat mendalam. Kehidupan seorang mukmin tidak terpecah antara urusan agama dan urusan dunia secara mutlak. Aktivitas duniawi pun dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal, niat yang benar, dan tujuan yang diridai Allah. Bekerja dapat menjadi ibadah. Mengurus keluarga dapat menjadi ibadah. Menuntut ilmu dapat menjadi ibadah. Menolong orang lain dapat menjadi ibadah. Bahkan istirahat dapat bernilai ibadah apabila diniatkan agar tubuh kembali kuat untuk menjalankan ketaatan.

Dengan demikian, menjadikan akhirat sebagai prioritas bukan berarti meninggalkan dunia. Islam tidak mengajarkan seseorang menjadi malas, miskin karena tidak mau berusaha, atau meninggalkan tanggung jawab dengan alasan zuhud. Islam justru mengajarkan keseimbangan: dunia berada di tangan, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾

Artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

Inilah keseimbangan yang perlu dijaga. Kita tidak diperintahkan membenci dunia, tetapi diperintahkan agar tidak diperbudak olehnya. Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki hati kita. Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuat kita lupa bahwa suatu hari semua kedudukan akan ditinggalkan. Kita boleh mendapatkan penghargaan, tetapi jangan sampai penghargaan membuat kita lupa bahwa kemuliaan yang hakiki berasal dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

Artinya:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini menggeser ukuran kemuliaan dari penampilan duniawi menuju ketakwaan. Manusia mungkin mengukur seseorang dari kekayaan, popularitas, jabatan, pendidikan, jumlah pengikut, rumah yang dimiliki, kendaraan yang digunakan, atau penghargaan yang diterima. Namun Allah mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan yang sebenarnya adalah takwa.

Karena itu, jangan terlalu sedih ketika kebaikan kita tidak dihargai manusia. Jangan terlalu kecewa ketika usaha kita tidak mendapatkan tepuk tangan. Jangan berhenti berbuat baik hanya karena tidak ada yang memuji. Jika kebaikan itu dilakukan karena Allah, maka tidak ada satu pun amal yang sia-sia.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝٧ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ۝٨﴾

BERITA TERKAIT  Gunung, Tanda Kekuasaan Allah

Artinya:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).

Tidak ada kebaikan yang hilang di sisi Allah. Bisa jadi manusia tidak melihat pengorbanan kita, tetapi Allah melihatnya. Bisa jadi manusia tidak mengetahui air mata yang jatuh ketika kita berjuang, tetapi Allah mengetahuinya. Bisa jadi tidak ada seorang pun yang mengingat pertolongan yang pernah kita berikan, tetapi Allah tidak pernah lupa.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan tidak boleh hanya diletakkan pada banyaknya kenikmatan dunia. Beliau bersabda:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ»

Artinya:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya.” (HR. Muslim).

Hadis ini mengajarkan makna kekayaan yang sering terlupakan. Kaya bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang cukupnya hati. Seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi terus merasa kurang. Sebaliknya, seseorang mungkin hidup sederhana tetapi hatinya tenang karena merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan.

Mengejar pengakuan sosial secara berlebihan sering membuat manusia terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah selesai. Ketika melihat orang lain memiliki sesuatu, muncul keinginan untuk memiliki yang lebih. Ketika mendapatkan pujian, ingin dipuji lagi. Ketika mendapatkan perhatian, takut kehilangan perhatian. Akhirnya, kehidupan menjadi pertunjukan yang melelahkan. Seseorang tidak lagi hidup sebagaimana dirinya, tetapi hidup berdasarkan bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain.

Di sinilah pentingnya membangun keikhlasan. Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Tidak semua pencapaian harus dipamerkan. Tidak semua perjalanan harus diketahui orang lain. Ada amal yang justru menjadi indah karena hanya Allah dan pelakunya yang mengetahuinya.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Di antaranya:

«وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ»

Artinya:
“Dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini bukan berarti seluruh amal harus disembunyikan. Ada amal yang boleh ditampakkan untuk memberi teladan. Namun hati harus selalu diperiksa: apakah kita sedang mengajak kepada kebaikan atau sedang mencari pengakuan? Apakah kita sedang menyebarkan manfaat atau sedang membangun citra diri?

Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Ketika mendapatkan keberhasilan, ia bersyukur. Ketika gagal, ia bersabar. Ketika dipuji, ia takut jika pujian itu menumbuhkan kesombongan. Ketika dicela tanpa alasan, ia tidak mudah hancur. Ketika kehilangan sesuatu, ia mengingat bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾

BERITA TERKAIT  Hatta Rajasa, Teknokrat di Pusat Kekuasaan

Artinya:
“Dan kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32).

Ayat ini bukan ajakan untuk meninggalkan seluruh kenikmatan dunia, tetapi peringatan agar kita tidak tertipu olehnya. Dunia memiliki daya tarik yang kuat, tetapi sifatnya sementara. Masa muda akan berlalu. Kekuatan akan melemah. Kekayaan dapat berkurang. Popularitas dapat hilang. Jabatan akan berakhir. Bahkan kehidupan sendiri akan sampai pada batasnya.

Maka pertanyaan penting yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah: jika hari ini kehidupan kita berakhir, apa yang benar-benar akan kita bawa menghadap Allah? Bukan jumlah pengikut. Bukan pujian manusia. Bukan banyaknya foto dan pencapaian yang tersimpan. Yang dibawa adalah iman, amal saleh, keikhlasan, ketakwaan, dan rahmat Allah.

Karena itu, mari menata kembali orientasi hidup. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan bekerja hanya agar dikagumi. Carilah rezeki yang halal, tetapi jangan menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Rawat keluarga dengan penuh tanggung jawab, tetapi jangan lupa mendidik mereka menuju akhirat. Gunakan media sosial dengan bijaksana, tetapi jangan biarkan jumlah tanda suka menentukan harga diri. Berbuat baiklah meskipun tidak disaksikan manusia, karena Allah selalu menyaksikan.

Jika dunia datang, terimalah dengan syukur. Jika dunia pergi, lepaskan dengan sabar. Jika manusia memuji, jangan terlena. Jika manusia mencela, jangan langsung runtuh. Peganglah prinsip bahwa tujuan terbesar seorang mukmin bukanlah menjadi terkenal di bumi, melainkan dikenal sebagai hamba yang diridai Allah.

Pada akhirnya, kehidupan yang paling indah bukanlah kehidupan yang paling banyak mendapatkan perhatian, melainkan kehidupan yang paling banyak menghadirkan ketaatan. Bukan kehidupan yang selalu terlihat sempurna, tetapi kehidupan yang selalu berusaha kembali kepada Allah setiap kali terjatuh.

Jadikan akhirat sebagai kompas. Jadikan dunia sebagai kendaraan. Jadikan harta sebagai sarana. Jadikan ilmu sebagai penerang. Jadikan pekerjaan sebagai amanah. Jadikan keluarga sebagai ladang pahala. Jadikan pujian sebagai ujian dan celaan sebagai pengingat untuk memperbaiki diri.

Sebab ketika hati telah menemukan Allah sebagai tujuan, penilaian manusia tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Kita tetap menghargai manusia, tetap berbuat baik kepada mereka, tetap menjaga hubungan dan tanggung jawab sosial, tetapi hati tidak lagi menggantungkan kebahagiaan kepada mereka. Kita belajar mencukupkan diri dengan penilaian Allah.

Inilah kebebasan yang sejati: tetap berjalan di tengah dunia tanpa diperbudak olehnya, tetap berusaha meraih keberhasilan tanpa kehilangan akhirat, tetap menerima pujian tanpa mabuk olehnya, dan tetap menghadapi celaan tanpa kehilangan arah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menggunakan dunia untuk memperoleh bekal akhirat, diberi hati yang qanaah, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, kehidupan yang penuh keberkahan, serta husnul khatimah ketika kembali kepada-Nya. Aamiin.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *