Ucapan Di Internet Ada Konsekuensinya

banner 120x600

Di ruang digital, satu kalimat dapat melukai hati, merusak nama baik, memicu permusuhan, bahkan menjadi catatan panjang yang sulit dihapus. Karena itu, Islam tidak memisahkan adab lisan dari adab menulis. Jari yang mengetik akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana lidah yang berbicara. Setiap komentar seharusnya lahir dari kesadaran bahwa Allah mengetahui, mencatat, dan kelak menghisab semuanya di hadapan-Nya dengan adil.

Dahulu, seseorang mungkin dapat berkata kasar kepada orang lain, kemudian berlindung di balik kalimat, “Saya cuma berkomentar.” Seolah komentar hanyalah sesuatu yang ringan, sementara tanggung jawab berhenti setelah kalimat dikirim. Padahal dalam pandangan Islam, tidak ada ucapan yang benar benar bebas dari pertanggungjawaban. Apa yang keluar dari lisan, apa yang ditulis tangan, apa yang diketik melalui telepon genggam, bahkan apa yang sengaja disebarkan kepada banyak orang, semuanya memiliki nilai moral dan konsekuensi di hadapan Allah.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat tegas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝٧٠ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia akan memperbaiki amal amalmu dan mengampuni dosa dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 70 71)

Ayat tersebut menggunakan perintah “قولوا قولًا سديدًا”, yaitu berbicaralah dengan perkataan yang benar, lurus, tepat, dan tidak menyimpang. Prinsip ini tidak hanya berlaku ketika kita berbicara secara langsung. Ketika seseorang menulis komentar, membuat unggahan, membalas pesan, memberikan penilaian, atau menyebarkan sebuah informasi, ia tetap berada dalam wilayah tuntunan ayat tersebut.

Internet bukan wilayah bebas dosa. Media sosial bukan ruang tanpa aturan Allah. Perbedaan antara berbicara langsung dan mengetik komentar hanyalah medianya. Hakikat perbuatannya tetap sama. Bahkan dalam keadaan tertentu, tulisan dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada ucapan. Perkataan yang hanya didengar oleh beberapa orang dapat berubah menjadi tulisan yang dibaca ribuan orang, disalin, disimpan, dikirim ulang, dan terus beredar meskipun penulisnya telah menyesal.

Karena itu, seorang Muslim perlu memahami bahwa jejak digital dapat menjadi jejak amal. Satu komentar yang merendahkan seseorang mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis, tetapi akibatnya dapat berlangsung bertahun tahun. Seseorang mungkin sudah melupakannya, tetapi orang yang menjadi sasaran hinaan bisa terus mengingat luka tersebut.

Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini semestinya membuat kita berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim. Tidak semua yang kita pikirkan harus ditulis. Tidak semua yang kita ketahui harus diumumkan. Tidak semua kesalahan orang lain harus dibicarakan. Tidak semua perbedaan harus dibalas dengan sindiran. Dan tidak setiap provokasi harus dijawab.

Islam bahkan memberikan peringatan khusus terhadap kebiasaan merendahkan orang lain. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

BERITA TERKAIT  DEWAN JENDERAL DAN KABUT POLITIK MENJELANG 1965

“Wahai orang orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok olokkan lebih baik dari mereka. Dan jangan pula perempuan perempuan mengolok olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok olokkan lebih baik dari mereka. Janganlah kamu mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar gelar yang buruk. Seburuk buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

Perhatikan betapa lengkap tuntunan ayat tersebut. Islam bukan hanya melarang penghinaan secara langsung, tetapi juga melarang merendahkan, mencela, memberikan julukan buruk, dan mempermalukan manusia. Dalam kehidupan digital, semua itu dapat muncul dalam bentuk komentar sinis, meme yang merendahkan, tangkapan layar yang sengaja disebarkan untuk mempermalukan seseorang, atau kalimat yang dibuat seolah lucu tetapi sesungguhnya melukai martabat orang lain.

Setelah itu Allah memberikan peringatan yang lebih luas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Wahai orang orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan media sosial. Kadang seseorang membaca satu potongan informasi, kemudian langsung berprasangka. Melihat sebuah foto, lalu membuat kesimpulan. Mendengar kabar sepihak, kemudian ikut menyebarkan. Menemukan kesalahan seseorang, lalu merasa memiliki hak untuk membongkar semua aibnya.

Padahal bisa jadi informasi itu tidak lengkap. Bisa jadi konteksnya berbeda. Bisa jadi orang yang kita hakimi ternyata memiliki alasan yang tidak kita ketahui. Bahkan bisa jadi orang yang sedang kita rendahkan jauh lebih baik di hadapan Allah daripada diri kita sendiri.

Rasulullah ﷺ juga memberikan ukuran yang sangat jelas tentang keselamatan seorang Muslim. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa seseorang harus selalu berbicara. Beliau memberikan dua pilihan yang selamat: berkata baik atau diam.

Maka sebelum menulis komentar, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini bermanfaat? Apakah cara menyampaikannya baik? Apakah saya rela jika tulisan ini dibaca oleh keluarga saya? Apakah saya rela jika tulisan ini menjadi bukti yang dibacakan di hadapan Allah kelak?

BERITA TERKAIT  Ketika Bantuan Hukum Menggugat Akar Ketidakadilan

Pertanyaan pertanyaan tersebut dapat menjadi rem bagi jari yang terlalu cepat mengetik.

Lebih berbahaya lagi apabila komentar yang kita tulis bukan sekadar kasar, tetapi mengandung tuduhan, fitnah, penghinaan, atau pembukaan aib. Sebab persoalannya kemudian bukan hanya hubungan kita dengan Allah, tetapi juga hubungan kita dengan manusia yang telah kita zalimi.

Rasulullah ﷺ menggambarkan betapa berat persoalan ini melalui hadis tentang orang yang bangkrut di akhirat. Beliau bersabda:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi dia juga datang setelah mencaci orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Lalu diberikanlah kepada orang yang dizaliminya sebagian dari pahala kebaikannya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum seluruh tuntutan kezalimannya selesai, dosa dosa mereka kemudian diambil dan dibebankan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kesalehan pribadi tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan hak orang lain. Seseorang mungkin rajin beribadah, tetapi apabila lisannya digunakan untuk mencaci, tangannya digunakan untuk menulis fitnah, dan jarinya digunakan untuk mempermalukan orang lain, maka ia sedang mempertaruhkan pahala amalnya sendiri.

Karena itu, kritik tetap diperbolehkan dalam Islam, tetapi kritik bukan penghinaan. Menasihati bukan mempermalukan. Mengoreksi bukan mencaci. Mengingatkan bukan merendahkan. Menyampaikan fakta bukan berarti bebas menambahkan tuduhan. Perbedaan pendapat bukan alasan untuk menghilangkan adab.

Ada kalanya kita memang perlu mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ada kalanya kesalahan harus dikoreksi. Ada kalanya kebijakan harus dikritik. Ada kalanya informasi keliru perlu diluruskan. Namun semuanya harus dilakukan dengan ilmu, kejujuran, keadilan, dan niat memperbaiki, bukan sekadar melampiaskan kemarahan.

Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah: 8)

Maka ketika seseorang berbeda pilihan, pandangan, organisasi, pemikiran, atau pendapat dengan kita, jangan sampai perbedaan tersebut menghapus akhlak. Jangan sampai kita merasa memiliki izin untuk menghina hanya karena merasa berada di pihak yang benar.

BERITA TERKAIT  Muktamar NU Diuji Oleh Dugaan Kekerasan

Dunia digital membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menahan diri. Tidak semua provokasi harus dibalas. Tidak semua komentar harus dijawab. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika seseorang mampu menahan jarinya daripada menulis sesuatu yang kelak dia sesali.

Diam bukan berarti kalah. Tidak membalas bukan berarti tidak mampu. Menghapus komentar sebelum dikirim bukan berarti takut. Justru kemampuan menahan diri merupakan bentuk kekuatan jiwa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di zaman ketika orang dapat mengetik dalam keadaan marah lalu menghapusnya beberapa menit kemudian, hadis ini semakin penting direnungkan. Sebab sesuatu yang telah terlanjur tersebar tidak selalu dapat ditarik kembali. Permintaan maaf tidak selalu menghapus luka. Penghapusan unggahan tidak selalu menghapus tangkapan layar. Dan penyesalan tidak selalu mengembalikan keadaan seperti semula.

Maka jadikan media sosial sebagai tempat menanam kebaikan. Gunakan jari untuk menyebarkan ilmu, menguatkan orang yang sedang lemah, mengingatkan dengan kasih sayang, membela yang dizalimi dengan cara yang benar, menyampaikan informasi yang bermanfaat, dan menghadirkan kata kata yang membuat orang lain semakin dekat kepada Allah.

Sebelum berkomentar, berhentilah beberapa detik. Periksa kebenarannya. Periksa niatnya. Periksa bahasanya. Periksa dampaknya. Jika benar tetapi tidak perlu, pertimbangkan untuk diam. Jika perlu tetapi cara penyampaiannya kasar, perbaiki cara. Jika belum pasti benar, jangan sebarkan. Jika berpotensi mempermalukan orang lain, pikirkan kembali.

Sebab pada akhirnya, internet mungkin mengenal kita melalui tulisan, tetapi Allah mengenal kita melalui niat, perkataan, perbuatan, dan seluruh tanggung jawab yang menyertainya.

Jangan berlindung di balik kalimat, “Cuma komentar.”

Bagi manusia mungkin hanya komentar. Tetapi bagi orang yang terluka, itu bisa menjadi luka. Bagi masyarakat, bisa menjadi konflik. Bagi nama baik seseorang, bisa menjadi kerusakan. Dan bagi pelakunya, bisa menjadi perkara yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, mari menjadikan setiap kata sebagai amal yang dipertimbangkan. Jangan biarkan jari lebih cepat daripada akal dan hati. Jangan biarkan emosi menulis sesuatu yang harus ditanggung oleh diri sendiri. Jangan menjadikan kebebasan berbicara sebagai alasan untuk kehilangan kehormatan.

Kita tidak harus menjadi orang yang selalu menang dalam perdebatan. Kita cukup menjadi orang yang selamat dari dosa perkataan.

Tulislah yang baik. Sampaikan yang benar. Kritiklah dengan adab. Nasihatilah dengan kasih sayang. Jika tidak mampu memberi manfaat, setidaknya jangan menambah mudarat.

Sebab setiap kata memiliki jejak, setiap jejak memiliki dampak, dan setiap dampak memiliki konsekuensi. Di dunia mungkin tulisan dapat dihapus. Namun di hadapan Allah, tidak ada satu pun amal yang luput dari perhitungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *