Busernasional.my.id – Sering kali seseorang begitu sibuk melihat kekurangan orang lain hingga lupa meneliti kekurangan dirinya sendiri. Bahkan ada yang merasa dirinya telah banyak beramal, merasa paling benar, paling saleh, dan seolah tidak lagi memiliki dosa. Keadaan seperti inilah yang sangat berbahaya. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin sejati justru semakin takut kepada Allah ketika amalnya bertambah, karena ia tidak pernah merasa yakin bahwa amal tersebut telah diterima. Oleh sebab itu, setiap muslim wajib mewaspadai penyakit hati berupa ujub, yaitu kekaguman terhadap diri sendiri, karena sifat ini dapat merusak amal, menghalangi keikhlasan, dan menyeret pelakunya kepada kebinasaan.
Ujub adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri, merasa memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, serta menganggap segala keberhasilan berasal dari kemampuan pribadi tanpa menyadari bahwa semuanya merupakan karunia Allah. Sifat ini sangat halus sehingga sering kali tidak disadari. Seorang yang rajin beribadah dapat terjangkit ujub ketika ia merasa ibadahnya lebih baik daripada orang lain. Orang yang banyak bersedekah pun dapat terjatuh ke dalam ujub apabila ia merasa jasanya besar di sisi Allah. Padahal, seluruh amal yang dilakukan tidak akan pernah bernilai tanpa rahmat dan pertolongan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan manusia agar tidak menganggap dirinya suci. Firman-Nya:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Ayat ini merupakan peringatan agar setiap hamba tidak mudah memuji dirinya sendiri. Penilaian manusia terhadap dirinya sering kali dipengaruhi hawa nafsu, sedangkan Allah mengetahui seluruh isi hati, niat, dan hakikat ketakwaan seseorang. Bisa jadi seseorang tampak mulia di hadapan manusia, tetapi tidak bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, ada orang yang sederhana dan tidak dikenal manusia, namun memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena keikhlasan dan ketakwaannya.
Orang yang merasa tidak memiliki dosa sesungguhnya telah tertipu oleh dirinya sendiri. Ia berhenti melakukan muhasabah, enggan menerima nasihat, bahkan mudah meremehkan kesalahan yang dilakukannya. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, manusia yang paling suci, senantiasa beristigfar kepada Allah setiap hari.
Beliau bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Al-Bukhari).
Jika Rasulullah yang telah dijamin ampunan dosanya masih memperbanyak istigfar, maka betapa pantasnya kita yang penuh kekurangan senantiasa memohon ampun kepada Allah. Tidak ada alasan sedikit pun untuk merasa bersih dari dosa.
Ujub juga menjadi pintu masuk bagi kesombongan. Ketika seseorang mengagumi dirinya sendiri, ia akan memandang rendah orang lain. Ia merasa lebih pantas memperoleh kemuliaan dan sulit menerima kritik. Padahal, kesombongan merupakan sifat yang sangat dibenci Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim).
Kesombongan sering kali berawal dari ujub. Ketika hati telah dipenuhi kekaguman terhadap diri sendiri, perlahan ia akan memandang rendah orang lain. Akibatnya, amal yang semula dilakukan dengan ikhlas berubah menjadi sarana untuk mencari pujian dan pengakuan manusia.
Allah juga mengingatkan bahwa semua nikmat berasal dari-Nya.
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53).
Ilmu, kesehatan, harta, kedudukan, kemampuan beribadah, bahkan kesempatan untuk berbuat baik semuanya adalah pemberian Allah. Jika Allah mencabut taufik-Nya, maka manusia tidak akan mampu melakukan satu pun kebaikan. Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati dan menjauhkan seseorang dari ujub.
Para salafush shalih selalu merasa khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka lebih sibuk memperbaiki diri daripada membicarakan kekurangan orang lain. Mereka memahami bahwa diterimanya amal bergantung pada keikhlasan dan kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada banyaknya amal atau pujian manusia.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27).
Karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak merasa aman dari makar Allah dan tidak pula berputus asa dari rahmat-Nya. Ia senantiasa berada di antara rasa takut dan harap. Takut apabila amalnya ditolak karena tidak ikhlas atau tercampur riya dan ujub, serta berharap agar Allah menerima amalnya dengan rahmat-Nya.
Selain ujub, penyakit hati yang sangat dekat dengannya adalah riya, yaitu melakukan amal agar dilihat dan dipuji manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan penyakit ini menimpa umatnya.
Beliau bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad).
Ujub dan riya sama-sama merusak keikhlasan. Ujub memusatkan hati kepada diri sendiri, sedangkan riya memusatkan hati kepada pandangan manusia. Keduanya mengurangi bahkan dapat menghapus nilai amal di sisi Allah apabila tidak segera disadari dan diperbaiki dengan taubat yang tulus.
Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak muhasabah, memperbanyak istigfar, menjaga niat dalam setiap amal, serta senantiasa mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari Allah semata. Jangan pernah merasa diri telah suci, jangan merasa amal sudah cukup, dan jangan menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Semakin tinggi ilmu dan amal seseorang, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah, semakin rendah hatinya di hadapan manusia, dan semakin banyak istigfarnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi hati kita dari penyakit ujub, riya, takabur, dan seluruh penyakit hati lainnya, menerima amal saleh kita dengan rahmat-Nya, mengampuni segala dosa yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari, serta meneguhkan kita hingga akhir hayat dalam keikhlasan dan ketakwaan. Aamiin.













