Kelembutan Dan Ketegasan Berakhlak

banner 120x600

Buser nasional. My.id – Kelembutan yang berpadu dengan ketegasan merupakan salah satu puncak kematangan akhlak seorang mukmin. Ia tidak mudah dikuasai amarah, tetapi juga tidak membiarkan kebatilan merajalela. Sikap seperti ini lahir dari hati yang dipenuhi iman, jiwa yang tenang, serta keyakinan bahwa setiap ucapan dan tindakan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Inilah akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah saw. sepanjang hidup beliau.

Di tengah kehidupan yang semakin keras, banyak orang mengira bahwa kelembutan adalah tanda kelemahan. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang menganggap ketegasan harus selalu diwujudkan dengan suara tinggi, sikap kasar, atau tindakan yang menyakitkan. Padahal Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang mukmin diperintahkan memiliki hati yang lembut, tetapi tetap teguh dalam memegang prinsip-prinsip kebenaran. Ia penuh kasih sayang kepada sesama, namun tidak pernah berkompromi terhadap kemaksiatan dan kezaliman.

Allah Swt. memuji akhlak Rasulullah saw. dengan firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan akhlak merupakan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Rasulullah saw. menjadi teladan sempurna dalam memadukan kasih sayang, kelembutan, ketegasan, kebijaksanaan, dan keberanian dalam satu kepribadian yang utuh.

Ketika menghadapi orang-orang yang berbuat salah karena ketidaktahuan, beliau memilih kelembutan sebagai jalan dakwah. Namun ketika hukum Allah dilanggar dengan sengaja atau hak-hak manusia dizalimi, beliau tampil tegas demi menjaga kemuliaan agama dan keadilan.

BERITA TERKAIT  Ramang, Ketika Negara Mengingat Sang Legenda

Allah Swt. juga mengingatkan betapa pentingnya kelembutan dalam berdakwah dan berinteraksi dengan manusia.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Ayat ini menjadi pelajaran besar bahwa kelembutan mampu menyatukan hati manusia. Seorang pemimpin, orang tua, guru, pendidik, maupun siapa pun yang diberi amanah akan lebih mudah diterima apabila mengedepankan kasih sayang, kesabaran, dan kebijaksanaan. Namun setelah musyawarah dan pertimbangan dilakukan, keputusan tetap harus diambil dengan penuh ketegasan disertai tawakal kepada Allah.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa kelembutan bukan sekadar pilihan akhlak, melainkan sifat yang dicintai Allah. Orang yang lembut bukan berarti mudah dipermainkan. Justru ia mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak dikuasai hawa nafsu ketika menghadapi persoalan yang sulit.

BERITA TERKAIT  Cinta Zainab Abul Ash Menembus Iman

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda:

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَمَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim)

Betapa indahnya ajaran Islam. Kelembutan menjadi perhiasan akhlak yang mempercantik setiap perkataan, sikap, dan keputusan. Bahkan ketika harus menegur, seorang mukmin tetap menjaga adab agar nasihatnya menjadi jalan perbaikan, bukan sumber permusuhan.

Namun Islam juga mengajarkan ketegasan. Ketegasan berarti berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ketegasan bukan didorong oleh amarah, melainkan oleh rasa tanggung jawab kepada Allah. Ketegasan menjaga seseorang agar tidak mudah terbawa arus, tidak takut terhadap tekanan manusia, dan tidak menggadaikan prinsip demi kepentingan sesaat.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 135)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketegasan sejati berdiri di atas keadilan, bukan kepentingan pribadi. Orang yang matang secara spiritual tidak akan membela kesalahan hanya karena hubungan keluarga, persahabatan, jabatan, atau keuntungan dunia.

BERITA TERKAIT  Ramang, Ketika Negara Mengingat Sang Legenda

Kelembutan tanpa ketegasan dapat berubah menjadi sikap yang membiarkan kemungkaran. Sebaliknya, ketegasan tanpa kelembutan dapat berubah menjadi kekerasan yang melukai hati banyak orang. Karena itu Islam mengajarkan keseimbangan agar seorang mukmin menjadi pribadi yang bijaksana. Ia lembut kepada yang membutuhkan kasih sayang, tetapi tegas terhadap pelanggaran yang merusak nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Kematangan hati tidak lahir dalam waktu singkat. Ia dibangun melalui ibadah yang istiqamah, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, memperdalam ilmu agama, melatih kesabaran, memaafkan kesalahan orang lain, serta terus bermuhasabah atas setiap ucapan dan perbuatan. Hati yang dekat dengan Allah akan lebih mudah mengendalikan emosi sehingga mampu bersikap tenang dalam berbagai keadaan.

Marilah kita memohon kepada Allah agar dianugerahi hati yang lembut, lisan yang santun, pendirian yang teguh, serta keberanian untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang penuh hikmah. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki akhlak mulia, dicintai manusia karena kelembutannya, dihormati karena ketegasannya, dan diridai Allah karena seluruh sikapnya selalu berlandaskan iman, ilmu, serta ketakwaan. Aamiin.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *