Negeri ini sedang berbicara
tentang kesejahteraan rakyat
Tentang buruh
tentang upah
tentang keluarga kecil
yang setiap hari
menghitung kebutuhan
dengan sisa penghasilan
Lalu sebuah angka disebut
Tujuh ratus ribu rupiah
untuk satu kilogram
bawang yang dikupas
Angka itu terdengar besar
Terlalu besar
bagi telinga buruh
yang terbiasa menghitung
seribu demi seribu
untuk membeli beras
membayar listrik
membiayai sekolah
dan menyambung hidup
Kemudian rakyat bertanya
Benarkah?
Benarkah angka itu
upah yang diterima buruh?
Benarkah satu kilogram bawang
dihargai tujuh ratus ribu?
Ataukah ada angka
yang keliru dibaca
keliru dicatat
atau keliru dipahami?
Pertanyaan itu bukan dosa
Sebab ketika sebuah angka
disebut dari mimbar kekuasaan
angka itu bukan lagi
sekadar angka
Ia menjadi kabar
menjadi harapan
menjadi ukuran
bahkan bisa menjadi
cermin wajah negara
Tetapi ketika Istana berkata,
“Nanti kita cek.”
Rakyat pun kembali bertanya
Mengapa harus dicek
setelah disampaikan?
Mengapa kebenaran angka
baru ditelusuri
setelah menjadi perbincangan?
Mengapa data
tidak lebih dahulu diperiksa
sebelum dibacakan
di hadapan bangsa?
Kita tidak sedang
mencari kesalahan seseorang
Kita sedang mencari
kebenaran sebuah angka
Sebab angka yang salah
bisa melahirkan
kesimpulan yang salah
Angka yang salah
bisa membuat rakyat kecil
terlihat jauh lebih sejahtera
daripada kenyataan
Angka yang salah
bisa membuat penderitaan
terlihat seperti keberhasilan
Dan angka yang salah
bisa membuat kebijakan
berdiri di atas
tanah yang keliru
Buruh tidak membutuhkan
angka yang indah
Buruh membutuhkan
upah yang benar
Bukan cerita tentang
betapa sejahteranya mereka
Tetapi kepastian
bahwa mereka benar benar
mampu hidup sejahtera
Bukan sekadar disebut
dalam pidato
Tetapi dirasakan
di dapur rumah
Di meja makan
Di biaya sekolah anak
Di harga kebutuhan pokok
Di ongkos berobat
Di sisa uang
yang masih ada
ketika akhir bulan datang
Jangan jadikan rakyat kecil
sekadar nama
untuk memperindah pidato
Jangan jadikan buruh
sekadar wajah
untuk menunjukkan
bahwa negara memperhatikan rakyat
Sebab rakyat kecil
bukan dekorasi kekuasaan
Mereka manusia
Mereka bekerja
Mereka berkeringat
Mereka memiliki keluarga
Mereka memiliki
harapan yang sederhana:
bisa makan
bisa sekolah
bisa sehat
bisa membayar kebutuhan
dan bisa pulang
tanpa membawa kecemasan
tentang hari esok
Jika benar upahnya
tujuh ratus ribu rupiah per kilogram
jelaskan kepada rakyat
bagaimana mekanismenya
Berapa kilogram
yang mampu dikupas
dalam sehari?
Berapa penghasilan
yang benar benar diterima?
Siapa pemberi upahnya?
Bagaimana sistem pembayarannya?
Apakah angka itu
upah bersih?
Ataukah angka borongan?
Jangan biarkan rakyat
menebak nebak
di antara kata kata
Sebab transparansi
tidak akan mengurangi
kehormatan pemerintah
Justru membuat pemerintah
semakin dipercaya
Kalau ternyata angka itu benar
tunjukkan datanya
Kalau ternyata angka itu keliru
katakan dengan jujur
Tidak ada kehormatan
yang runtuh
karena mengakui kekeliruan
Yang berbahaya
adalah mempertahankan
sesuatu yang belum pasti
hanya demi menjaga
wibawa
Negara yang besar
bukan negara
yang tidak pernah salah
Negara yang besar
adalah negara
yang berani memeriksa
ketika ada yang salah
Berani mengoreksi
ketika ada yang keliru
Berani mengatakan
“kami perlu memperbaikinya”
Itulah wibawa
Bukan kerasnya suara
Bukan tingginya podium
Bukan megahnya ruangan
Tetapi keberanian
berdiri di hadapan rakyat
dengan data yang benar
Sebab rakyat
tidak membutuhkan
pidato yang sempurna
Rakyat membutuhkan
kenyataan yang benar
Tidak membutuhkan
angka yang mengagumkan
Tetapi penghasilan
yang benar benar
mencukupi kehidupan
Jangan hanya pandai
membaca angka
Bacalah pula
kehidupan rakyat
Bacalah tangan buruh
yang kasar karena bekerja
Bacalah wajah ibu
yang setiap malam
menghitung uang belanja
Bacalah mata anak
yang menunggu
uang sekolah
Bacalah dapur
yang kadang mengepul
kadang tidak
Bacalah kenyataan
sebelum membaca pidato
Sebab di negeri ini
rakyat tidak hidup
dari angka
Rakyat hidup
dari kenyataan
Dan kenyataan itu
tidak bisa disunting
dengan kata kata
Tidak bisa diperindah
dengan tepuk tangan
Tidak bisa ditutupi
dengan panggung
Tidak bisa dibesarkan
dengan pidato
Jika angka itu benar
pastikan rakyat
merasakan kebenarannya
Jika angka itu salah
perbaiki tanpa malu
Karena yang harus dijaga
bukan gengsi kekuasaan
Yang harus dijaga
adalah kepercayaan rakyat
Jangan hanya pandai
menyebut kesejahteraan
Bangunlah kesejahteraan
Jangan hanya pandai
mengangkat kisah buruh
Angkatlah pula
kehidupan buruh
Jangan hanya pandai
menyebut angka
Pastikan angka itu
berpijak pada kenyataan
Sebab rakyat
tidak membutuhkan
angka yang tinggi
Rakyat membutuhkan
kehidupan yang layak
Dan pemerintah
tidak cukup hanya
pandai berkata:
“Kami peduli.”
Rakyat menunggu
pemerintah berkata:
“Ini datanya.”
“Ini kenyataannya.”
“Ini tanggung jawab kami.”
Karena pada akhirnya
sebuah angka
bisa saja salah
sebuah pidato
bisa saja keliru
sebuah pernyataan
bisa saja perlu dikoreksi
Tetapi kejujuran
tidak boleh salah
Data
tidak boleh dipermainkan
Dan rakyat kecil
tidak boleh dijadikan
sekadar angka
dalam pidato kekuasaan
Jangan hanya membaca angka.
Bacalah kenyataan.
Sebab di balik setiap angka
ada manusia
Dan di balik setiap manusia
ada kehidupan
Yang tidak boleh
dipoles oleh kata kata.
Yang harus diperjuangkan
dengan kebenaran.














