Puasa Tasu’a Dan Asyura Penuh Hikmah

banner 120x600

BuserNasional — Setiap datang bulan Muharram, kaum muslimin kembali diingatkan pada salah satu amalan agung yang memiliki sejarah panjang sejak masa para nabi terdahulu, yaitu puasa Tasu’a dan Asyura. Ibadah ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, mengenang kemenangan kebenaran atas kebatilan, serta meneladani jejak para nabi yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam menghadapi ujian kehidupan.

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah. Sejak zaman para nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ, bulan ini telah memiliki kedudukan istimewa. Di dalamnya terdapat hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, hari yang menyimpan banyak peristiwa besar dalam sejarah umat manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (yang dimuliakan).” (QS. At-Taubah: 36)

Rasulullah ﷺ juga memberikan keutamaan khusus terhadap puasa yang dilakukan pada bulan Muharram. Beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Sejarah puasa Asyura memiliki akar yang sangat panjang. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa hari Asyura adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Ketika Nabi Musa dan pengikutnya terjepit di tepi Laut Merah, Allah memerintahkan beliau memukulkan tongkatnya ke laut. Maka laut pun terbelah menjadi jalan-jalan yang kering. Nabi Musa dan kaumnya selamat, sedangkan Fir’aun bersama bala tentaranya tenggelam.

BERITA TERKAIT  Mengubah Ucapan Menjadi Doa

Allah berfirman:

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu’ara: 63)

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Fir’aun. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa.

Menariknya, tradisi puasa bukan hanya dikenal pada umat Nabi Musa. Sejak zaman dahulu, para nabi telah menjadikan puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Dawud ‘alaihissalam dikenal memiliki puasa yang sangat dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud; beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, hingga para hamba saleh terdahulu juga menjadikan puasa sebagai jalan penyucian jiwa. Karena itu, puasa bukanlah ibadah baru yang hanya dikenal umat Islam, melainkan ibadah yang diwariskan kepada seluruh umat para nabi.

BERITA TERKAIT  Headline: Hindari Kemacetan! Simak Rekayasa Lalu Lintas Penutupan Munas & Konbes NU di Bangkalan Hari Ini

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Pada masa para sahabat, puasa Asyura juga mendapat perhatian besar. Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, puasa Asyura bahkan sempat menjadi kewajiban bagi kaum muslimin. Setelah Ramadhan diwajibkan, statusnya berubah menjadi sunnah yang sangat dianjurkan. Para sahabat tetap menjaganya karena mengetahui keutamaan besar yang terkandung di dalamnya.

Keutamaan terbesar puasa Asyura disebutkan dalam hadis yang sangat masyhur:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim No. 1162)

Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Hanya dengan satu hari berpuasa, seorang muslim mendapatkan peluang dihapuskan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu. Karena itu para ulama menyebut puasa Asyura sebagai kesempatan emas yang tidak patut dilewatkan.

Namun Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar umat Islam memiliki identitas tersendiri dan tidak menyerupai kebiasaan kaum lain. Ketika para sahabat memberitahu bahwa orang Yahudi juga mengagungkan tanggal 10 Muharram, beliau bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

BERITA TERKAIT  Kolaborasi Budaya Malang Raya Siap Digelar: Perkuat Ekosistem Kreatif dan Pelestarian Warisan Singhasari

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal sembilan.” (HR. Muslim)

Dari sinilah para ulama menganjurkan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, kemudian dilanjutkan dengan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Dengan demikian, seorang muslim memperoleh dua keutamaan sekaligus: mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi.

Manfaat puasa Tasu’a dan Asyura tidak hanya berupa pahala akhirat. Puasa melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, memperkuat empati kepada fakir miskin, menumbuhkan rasa syukur, serta mengingatkan manusia bahwa kemenangan sejati lahir dari keteguhan iman. Kisah Nabi Musa mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada mereka yang tetap yakin meskipun jalan keluar tampak tertutup.

Muharram tahun 1448 Hijriah menjadi kesempatan berharga untuk menghidupkan kembali sunnah yang agung ini. Puasa Tasu’a dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2026. Jangan sampai hari-hari penuh keberkahan ini berlalu begitu saja tanpa kita isi dengan ibadah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai sunnah Nabi Muhammad ﷺ, menghidupkan syiar Islam, memperbanyak amal saleh pada bulan Muharram, serta memperoleh ampunan dan rahmat-Nya melalui puasa Tasu’a dan Asyura. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *