BuserNasional // Setiap kata yang keluar dari lisan bukanlah sesuatu yang ringan. Ucapan dapat membangun harapan, menguatkan jiwa, menumbuhkan semangat, dan menghadirkan optimisme dalam kehidupan. Karena itu, seorang mukmin diajarkan untuk menjaga tutur kata dengan baik. Daripada mengeluh, merendahkan diri sendiri, atau menyakiti orang lain dengan ucapan, Islam mengajarkan agar lisan dipenuhi kalimat yang baik, doa yang mulia, serta harapan yang penuh keyakinan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Dalam kehidupan sehari hari, sering kali seseorang tanpa sadar mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. Ketika menghadapi kesulitan, ada yang berkata, “Saya sudah tidak sanggup,” “Hidup saya selalu gagal,” atau “Tidak ada jalan keluar bagi saya.” Padahal, seorang mukmin diajarkan untuk selalu berbaik sangka kepada Allah dan mengisi lisannya dengan perkataan yang baik. Kalimat yang lebih tepat adalah, “Allah memberikan kekuatan kepada saya,” “Dengan izin Allah ada jalan keluar,” atau “Allah akan memudahkan urusan saya sesuai kehendak-Nya.”
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap lisan. Sebab lisan dapat menjadi sebab seseorang memperoleh pahala yang besar, tetapi juga dapat menjadi penyebab kebinasaan. Allah سبحانه وتعالى berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut manusia berada dalam pengawasan Allah. Tidak ada satu kata pun yang luput dari pencatatan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati hati dalam berbicara dan membiasakan diri mengucapkan kalimat yang mendatangkan kebaikan.
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya menjaga ucapan dalam sabda beliau:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pedoman agung dalam kehidupan sosial. Tidak semua hal harus diucapkan. Tidak semua yang terlintas di pikiran harus disampaikan. Jika perkataan itu baik, bermanfaat, dan membawa maslahat, maka katakanlah. Namun jika tidak, diam lebih baik dan lebih selamat.
Di tengah kehidupan modern, banyak orang yang terbiasa mengeluh. Keluhan yang terus menerus dapat melemahkan semangat diri sendiri dan orang lain. Padahal Allah mengajarkan hambanya untuk senantiasa berharap dan bertawakal. Ketika Nabi Ya’qub عليه السلام kehilangan putranya, beliau tidak tenggelam dalam keputusasaan. Beliau berkata:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
“Maka kesabaran yang baik itulah yang terbaik bagiku. Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan.”
(QS. Yusuf: 18)
Perhatikan bagaimana seorang nabi menghadapi ujian berat. Beliau tidak mengumbar keputusasaan, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak menebarkan energi negatif. Sebaliknya, beliau mengembalikan segala urusan kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya.
Ucapan yang baik bukan sekadar kata kata motivasi. Dalam Islam, ucapan yang baik lahir dari keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ketika seseorang berkata, “Allah akan memberikan kemudahan,” maka kalimat itu bukan sekadar sugesti, melainkan bentuk husnuzan kepada Rabb semesta alam.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al Insyirah: 5-6)
Ayat ini mengajarkan optimisme yang luar biasa. Tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan yang Allah siapkan. Karena itu, tidak pantas bagi seorang mukmin untuk membiasakan lisan dengan kalimat yang mencerminkan keputusasaan.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran mendalam bahwa seorang hamba hendaknya selalu memiliki harapan yang baik kepada Allah. Jika ia yakin bahwa Allah akan menolongnya, membimbingnya, menguatkannya, dan membukakan jalan keluar baginya, maka keyakinan itu menjadi sumber kekuatan yang luar biasa dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, biasakan mengganti kalimat negatif menjadi kalimat yang lebih baik. Daripada berkata, “Saya sudah tidak sanggup,” katakanlah, “Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada saya hari ini dan seterusnya.” Daripada berkata, “Saya tidak mampu,” katakanlah, “Dengan pertolongan Allah saya akan berusaha semaksimal mungkin.” Daripada berkata, “Hidup saya hancur,” katakanlah, “Allah sedang menyiapkan hikmah dan jalan terbaik bagi saya.”
Perubahan ucapan seperti ini bukan berarti mengingkari kenyataan atau menutup mata dari masalah. Namun hal itu merupakan bentuk adab seorang mukmin kepada Allah. Ia mengakui kesulitan yang dihadapi, tetapi tetap menjaga harapan dan keyakinannya kepada Sang Pencipta.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar umatnya mencintai perkataan yang baik. Beliau bersabda:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Perkataan yang baik adalah sedekah.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Betapa luasnya rahmat Allah. Bahkan ucapan yang baik kepada sesama manusia dihitung sebagai sedekah. Senyuman yang disertai kata kata yang menenangkan, doa yang tulus untuk orang lain, nasihat yang lembut, dan kalimat yang menguatkan hati termasuk amal yang bernilai di sisi Allah.
Oleh sebab itu, marilah kita membiasakan diri menjaga lisan. Jadikan setiap ucapan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Isilah hari hari dengan dzikir, doa, syukur, dan kalimat yang membawa ketenangan. Hindari kata kata yang mengandung pesimisme, celaan, caci maki, dan penghinaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Ketika hati sedang lelah, ucapkan bahwa Allah adalah sumber kekuatan. Ketika jalan terasa sempit, ucapkan bahwa Allah Maha Luas rahmat-Nya. Ketika masalah datang bertubi tubi, ucapkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman. Dengan demikian, lisan menjadi sumber kebaikan, hati menjadi lebih tenang, dan kehidupan dipenuhi keberkahan.
Semoga Allah سبحانه وتعالى menjaga lisan kita dari perkataan yang buruk, membimbing kita untuk senantiasa berkata baik, menanamkan prasangka yang baik kepada-Nya, serta menjadikan setiap ucapan yang keluar dari mulut kita sebagai doa yang mendatangkan kebaikan, keberkahan, kemudahan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.














