OPINI  

Anak Saleh Bisa Runtuh Karena Teman

banner 120x600

Anak yang tampak shalih di rumah, rajin shalat, sopan kepada orang tua, dan mudah diarahkan, tetap bisa berubah drastis ketika ia berada di luar pengawasan keluarga. Salah pergaulan adalah pintu kehancuran yang sering tidak disadari. Karena itu, Islam mengajarkan agar orang tua bukan hanya mendidik di rumah, tetapi juga mengawal lingkungan pergaulan, sekolah, dan teman dekat anak, sebab dari situlah akhlak dan keyakinan diuji.

Kalimat “se-shalih apa pun anakmu di rumah, akan hancur jika salah pergaulan” bukan sekadar ungkapan emosional, tetapi sebuah peringatan keras yang sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ. Banyak orang tua merasa cukup ketika anak sudah bisa mengaji, hafal doa, atau terlihat patuh. Namun kenyataannya, iman anak bukanlah benda mati. Iman itu hidup, bergerak, naik turun, dan sangat dipengaruhi oleh suasana sekitarnya. Anak yang baik bisa menjadi buruk jika ia dibiarkan tumbuh di lingkungan yang rusak, sebagaimana anak yang awalnya lemah bisa menjadi baik jika berada di lingkungan yang menuntun kepada kebaikan.

Allah ﷻ sejak awal sudah memperingatkan bahwa keselamatan keluarga bukan hanya soal memberi makan dan menyekolahkan, tetapi juga soal menyelamatkan jiwa dari jalan yang menyeret ke neraka. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini bukan hanya memerintahkan ayah dan ibu agar mengajarkan shalat dan adab, tetapi juga agar memastikan keluarga tidak terbakar oleh sebab-sebab kehancuran iman. Dan salah satu sebab terbesar kerusakan iman adalah pergaulan yang salah. Anak yang setiap hari mendengar nasihat di rumah, bisa kehilangan rasa takut kepada Allah jika setiap hari pula ia berteman dengan orang yang menjadikan dosa sebagai kebanggaan.

Rasulullah ﷺ sudah menjelaskan hukum pengaruh teman dengan kalimat yang sangat tegas. Dalam hadits yang masyhur, beliau bersabda:

BERITA TERKAIT  Warung yang Hilang di Bawah Langit

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.”
(HR. Abu Dawud)

Hadits ini seperti cermin yang jujur. Anak bisa saja mengaku Islam, tetapi perlahan-lahan pola pikirnya berubah karena ia mengidolakan temannya. Ia mulai meniru cara bicara, gaya hidup, candaan, hingga cara memandang dosa. Hari ini ia meniru pakaian, besok ia meniru kebiasaan, dan lusa ia meniru keyakinan. Pergaulan yang salah jarang menghancurkan anak secara tiba-tiba. Ia menghancurkan secara perlahan, halus, dan sering kali tidak disadari oleh keluarga.

Karena itu, Islam menggambarkan teman bukan sekadar kawan bermain, tetapi sebagai faktor penentu keselamatan. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat kuat:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau minimal engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau minimal engkau mendapatkan bau yang tidak sedap.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa teman baik pasti membawa manfaat meski sedikit. Bahkan jika kita tidak ikut menjadi seperti dia, minimal kita akan terpengaruh oleh aroma kebaikan: rasa malu untuk bermaksiat, semangat shalat, dan dorongan untuk memperbaiki diri. Sedangkan teman buruk pasti membawa mudarat meski tidak langsung. Jika tidak membuat anak terbakar dosa besar, minimal ia akan mengotori hati dengan kebiasaan buruk, kata-kata kotor, meremehkan ibadah, dan memandang ringan maksiat.

BERITA TERKAIT  Warung yang Hilang di Bawah Langit

Inilah sebab mengapa menjaga anak di zaman fitnah memang mustahil dilakukan sendirian. Orang tua bisa mengawasi anak di rumah, tetapi tidak bisa mengawasi setiap detik di luar rumah. Dan ketika anak mulai tumbuh remaja, ia akan lebih banyak bersama teman daripada bersama keluarga. Pada fase itu, teman berubah menjadi “guru kedua” yang paling berpengaruh. Karena itu, memilih lingkungan sekolah bukan sekadar memilih fasilitas akademik, tetapi memilih ekosistem akhlak dan aqidah.

Allah ﷻ bahkan menggambarkan penyesalan orang yang salah memilih teman sebagai penyesalan yang menghancurkan di hari kiamat. Allah ﷻ berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ۝ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Dan pada hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya, ia berkata: ‘Wahai, seandainya aku mengambil jalan bersama Rasul.’ Celakalah aku, seandainya aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab. Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku. Dan setan itu selalu mengkhianati manusia.”
(QS. Al-Furqan: 27–29)

Ayat ini menunjukkan bahwa teman yang buruk bukan hanya merusak perilaku, tetapi bisa menyesatkan dari jalan Allah. Dan betapa banyak anak yang awalnya masih cinta masjid, lalu menjadi asing dari shalat karena ejekan temannya. Betapa banyak anak yang awalnya masih takut pacaran, lalu menganggap zina sebagai hal biasa karena dianggap “normal” oleh lingkungan. Fitnah terbesar zaman ini adalah ketika keburukan dibuat tampak wajar dan kebaikan dibuat tampak aneh.

Di sinilah orang tua harus memahami bahwa pendidikan anak tidak cukup dengan nasihat. Pendidikan butuh sistem. Pendidikan butuh suasana. Pendidikan butuh lingkungan yang menjaga. Karena itu, memilih sekolah yang mendukung syariat bukan fanatisme sempit, tetapi bentuk ikhtiar menyelamatkan amanah. Sekolah yang menjaga shalat berjamaah, menjaga adab pergaulan, menanamkan rasa malu, membiasakan Al-Qur’an, dan memuliakan guru, adalah benteng besar yang akan membantu orang tua. Anak yang berada di lingkungan seperti itu akan sulit menyepelekan dosa, karena teman-temannya pun menjaga.

BERITA TERKAIT  Warung yang Hilang di Bawah Langit

Sebaliknya, anak yang dimasukkan ke lingkungan yang membiarkan aurat terbuka, membiarkan pacaran dianggap biasa, membiarkan shalat dianggap pilihan, serta menjadikan hiburan sebagai prioritas, akan menghadapi arus deras yang menyeret. Orang tua bisa menasihati, tetapi lingkungan akan membantah nasihat itu setiap hari. Rumah mengajarkan “ini haram”, tetapi teman berkata “semua orang juga melakukan.” Lama-kelamaan anak bingung, lalu menyerah, dan akhirnya mengikuti arus.

Islam tidak melarang anak bergaul, tetapi Islam memerintahkan agar pergaulan itu diarahkan. Karena pergaulan adalah jalan pembentuk karakter. Jika anak terbiasa berkawan dengan orang yang jujur, ia akan belajar jujur. Jika anak terbiasa berkawan dengan orang yang meremehkan orang tua, ia akan ikut durhaka. Jika anak terbiasa berkawan dengan pecinta Al-Qur’an, ia akan merasa malu meninggalkan Al-Qur’an.

Maka tugas orang tua bukan hanya mengajarkan anak agar shalih di rumah, tetapi memastikan anak punya “lingkaran shalih” di luar rumah. Caranya dengan memilih sekolah yang menjaga agama, memilih komunitas yang baik, mengarahkan anak ke majelis ilmu, dan membiasakan anak berteman dengan anak-anak yang memiliki visi akhirat. Semua itu adalah bentuk penjagaan yang nyata.

Orang tua harus berdoa, tetapi juga harus bergerak. Orang tua harus tawakal, tetapi juga harus memilih jalan yang paling aman. Karena anak adalah amanah. Dan amanah tidak cukup dijaga dengan harapan, tetapi harus dijaga dengan strategi. Semoga Allah ﷻ menjaga anak-anak kita dari pergaulan yang merusak, mengganti teman-teman mereka dengan sahabat yang shalih, dan menjadikan rumah serta sekolah sebagai benteng iman hingga mereka wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *