Cerpen: Huruf H Yang Mengacaukan Penyambutan Kota

banner 120x600

Hujan baru saja berhenti ketika kami duduk di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan. Lampu neon bergetar pelan tertiup angin malam. Aroma kopi hitam bercampur dengan tanah basah. Dalam suasana santai itu seorang teman lama tiba tiba mengingat sebuah kisah yang dulu sempat membuat satu kota menahan tawa. Kisah tentang sebuah huruf kecil yang berubah menjadi masalah besar.

Warung kopi itu hampir kosong malam itu. Hanya ada beberapa orang yang duduk diam sambil menatap layar ponsel. Di meja kami ada tiga cangkir kopi yang masih mengepul.

Aku duduk bersama Rian dan Bagas. Kami sudah lama tidak bertemu. Obrolan kami mengalir santai tentang pekerjaan, kota yang semakin macet, dan harga kebutuhan yang makin naik.

Tiba tiba Bagas tersenyum sendiri.

Rian menatapnya curiga.

“Apa yang lucu?”

Bagas menggeleng pelan sambil menahan tawa.

“Aku tiba tiba ingat satu kejadian lama. Waktu itu satu kota hampir menertawakan panitianya sendiri.”

Aku tertarik.

“Cerita apa?”

Bagas bersandar di kursinya.

“Waktu seorang pemain sepak bola dunia datang ke kota kami.”

Rian langsung menebak.

“Jangan bilang David Beckham.”

Bagas mengangguk.

“Iya. Kota kami waktu itu heboh sekali karena kedatangannya.”

Ia mulai bercerita perlahan.

“Pemerintah kota menyiapkan acara penyambutan besar. Wartawan datang. Jalan dihias. Panggung dibangun. Bahkan gerbang kota dipasangi spanduk raksasa.”

Aku membayangkan suasana itu.

Kota kecil yang tiba tiba merasa penting karena kedatangan seorang bintang dunia.

BERITA TERKAIT  Mantan Menhan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu Wafat, Indonesia Kehilangan Putra Terbaiknya

Bagas melanjutkan ceritanya.

“Semua panitia sibuk. Semua ingin terlihat sempurna. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu tersenyum aneh.

“Masalahnya justru muncul dari sesuatu yang sangat kecil.”

Rian mencondongkan badan.

“Apa?”

“Satu huruf.”

Bagas menatap kami bergantian.

“Seorang staf diminta membuat spanduk penyambutan. Spanduk itu dipasang di pintu masuk kota dengan tulisan besar.”

Ia menirukan nada pengumuman.

“SELAMAT DATANG DAVID BECKAM.”

Rian langsung tertawa.

“Tanpa huruf H.”

Bagas mengangguk.

“Bos panitia lewat dan langsung marah besar.”

Ia menirukan suara orang yang kesal.

“Bagaimana bisa nama tamu penting salah ditulis. Beckam itu ada huruf H nya. Cepat perbaiki.”

Staf yang membuat spanduk itu panik.

Ia langsung menjawab dengan gugup.

“Siap Pak. Akan segera diganti.”

Malam itu spanduk diturunkan.

Panitia menunggu versi yang sudah diperbaiki.

Keesokan paginya spanduk baru dipasang kembali di gerbang kota.

Bagas menatap kami sambil menahan tawa.

“Tulisan di spanduk sudah berubah.”

Rian menebak dengan yakin.

“SELAMAT DATANG DAVID BECKHAM.”

Bagas menggeleng.

“Bukan.”

Ia lalu berkata pelan.

“Yang tertulis justru SELAMAT DATANG H. DAVID BECKAM.”

Rian memukul meja karena tertawa.

“Dia pikir huruf H itu gelar.”

Bagas ikut tertawa.

“Tepat sekali.”

Bos panitia yang lewat pagi itu hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Ia kembali memanggil staf itu dengan wajah merah.

“Ini bukan gelar. Huruf H nya ada setelah huruf K. Kenapa malah dipindah ke depan.”

BERITA TERKAIT  Duka Mendalam Iringi Kepergian Ryamizard

Staf itu hanya bisa mengangguk gugup.

“Siap Pak. Akan saya perbaiki lagi.”

Hari itu panitia mulai gelisah.

Wartawan sudah berdatangan.

Acara tinggal dua hari lagi

Spanduk kembali diturunkan.

Semua berharap kali ini tidak ada kesalahan lagi.

Keesokan harinya spanduk baru kembali dipasang.

M

Orang orang yang lewat mulai membaca tulisan besar itu.

Beberapa orang berhenti.

Beberapa tertawa.

Beberapa bahkan memotret.

Bagas menahan napas sebelum melanjutkan cerita.

“Karena tulisan di spanduk itu sekarang berbunyi.”

Ia mengucapkannya perlahan.

“SELAMAT DATANG K.H. DAVID BECKAM.”

Rian tertawa keras sampai hampir tersedak.

Aku juga tidak bisa menahan tawa.

“Beckham berubah jadi ulama,” kata Rian sambil menghapus air mata tawanya.

Bagas tertawa sambil menggeleng.

“Seluruh panitia panik waktu itu.”

Ia menatap ke arah jalan yang basah oleh sisa hujan.

“Beberapa wartawan yang lewat langsung memotret spanduk itu.”

Foto itu cepat menyebar.

Orang orang di kota mulai membicarakannya.

Ada yang menganggapnya lucu.

Ada yang menganggapnya memalukan.

Bos panitia marah besar.

Ia mengumpulkan seluruh tim di kantor.

“Siapa yang membuat spanduk ini.”

Ruangan itu sunyi.

Tidak ada yang menjawab.

Rian berhenti tertawa dan menatap Bagas.

“Apa yang terjadi dengan staf itu.”

Bagas mengangkat bahu.

“Semua orang menertawakannya.”

Ia mengaduk sisa kopinya yang hampir habis.

“Bos memarahinya di depan semua orang. Wartawan juga sudah mulai menulis berita tentang spanduk itu.”

BERITA TERKAIT  ALI ALATAS DAN SENI MERAWAT PERDAMAIAN

Aku mulai merasa cerita ini tidak sekadar cerita lucu.

Aku menatap Bagas.

“Kamu tahu cerita itu dari mana.”

Bagas tersenyum kecil.

“Karena aku ada di sana.”

Rian langsung bertanya.

“Kamu panitianya.”

Bagas mengangguk pelan.

Ia menatap cangkir kopinya beberapa detik sebelum melanjutkan.

“Staf yang membuat spanduk itu tidak pernah membela diri.”

“Kenapa,” tanya Rian.

Bagas menarik napas panjang.

“Karena dia terlalu malu untuk bicara.”

Suasana warung kopi terasa lebih sunyi.

Lalu Bagas menatap kami dengan wajah datar.

“Staf yang salah menulis nama itu.”

Ia menunjuk dadanya sendiri.

“Adalah aku.”

Beberapa detik kami hanya saling menatap.

Rian tiba tiba tertawa lebih keras dari sebelumnya.

Aku ikut tertawa sampai tidak bisa berkata apa apa.

Bagas menggeleng sambil ikut tertawa kecil.

“Sejak hari itu aku belajar satu hal.”

Rian masih terengah karena tertawa.

“Apa itu.”

Bagas menjawab tenang.

“Kalau disuruh memperbaiki satu huruf oleh bos.”

Ia berhenti sejenak lalu berkata.

“Pastikan dulu dia maksudnya huruf atau gelar.”

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *