Bulan Dzulhijjah selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan seorang muslim. Ada yang menyiapkan biaya qurban, ada yang menyisihkan uang untuk mudik demi bertemu orang tua, ada pula yang sedang mengumpulkan bekal untuk berhaji ke Tanah Suci. Nominal yang keluar terasa besar, tabungan berkurang, bahkan terkadang hati dihampiri rasa khawatir. Namun bagi orang beriman, setiap pengeluaran di jalan Allah bukanlah kerugian, melainkan jalan datangnya keberkahan dan penggantian dari Allah سبحانه وتعالى.
Dzulhijjah adalah bulan pengorbanan, bulan ketaatan, dan bulan pembuktian iman. Pada bulan ini, seorang muslim belajar bahwa harta hanyalah titipan. Ia datang dan pergi atas izin Allah. Tidak ada satu rupiah pun yang dikeluarkan di jalan kebaikan kecuali Allah melihatnya, mencatatnya, dan menjanjikan balasan yang lebih baik. Karena itu, ketika seorang ayah mengeluarkan biaya untuk qurban, ketika seorang anak membeli tiket mudik demi membahagiakan orang tua, atau ketika seseorang menghabiskan hartanya untuk menunaikan haji, sejatinya mereka sedang menanam amal yang kelak dipanen di dunia dan akhirat.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)
Ayat ini menjadi penyejuk bagi hati orang beriman. Allah tidak mengatakan bahwa harta itu hilang, tetapi Allah menegaskan bahwa Dia sendiri yang akan menggantinya. Penggantian dari Allah tidak selalu berupa uang yang sama jumlahnya. Kadang Allah mengganti dengan kesehatan, ketenangan rumah tangga, anak yang saleh, hati yang lapang, umur yang berkah, atau jalan rezeki yang tidak pernah disangka.
Betapa banyak orang yang takut bersedekah karena khawatir miskin, padahal Allah telah menjamin balasannya. Setan selalu membisikkan ketakutan terhadap kefakiran agar manusia enggan berbagi. Allah berfirman:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا
“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 268)
Karena itu, pengeluaran di bulan Dzulhijjah seharusnya tidak menjadikan seorang muslim gelisah berlebihan. Justru inilah kesempatan besar untuk membuktikan keyakinan kepada janji Allah. Orang yang yakin kepada Allah akan merasa tenang saat berinfak. Ia sadar bahwa harta yang berada di tangan manusia sangat terbatas, tetapi خزائن Allah tidak pernah habis.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2588)
Hadis ini sangat singkat namun dalam maknanya. Secara kasat mata, uang memang berkurang ketika diberikan. Namun dalam hitungan Allah, sedekah justru menambah keberkahan harta. Ada orang yang hartanya sedikit tetapi cukup untuk hidup bertahun tahun. Ada pula yang penghasilannya besar tetapi selalu terasa kurang. Di sinilah letak keberkahan yang Allah titipkan kepada orang yang gemar berbagi.
Qurban adalah salah satu ibadah agung di bulan Dzulhijjah. Ketika seseorang membeli hewan qurban dengan harga yang tidak sedikit, sesungguhnya ia sedang meneladani Nabi Ibrahim عليه السلام dalam pengorbanan dan keikhlasan. Allah tidak membutuhkan daging atau darah hewan itu, tetapi Allah melihat ketakwaan hamba-Nya.
Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Begitu pula dengan biaya mudik. Jangan hanya melihatnya sebagai pengeluaran duniawi. Ketika mudik dilakukan untuk menyambung silaturahmi, membahagiakan orang tua, meminta maaf kepada keluarga, dan menjaga hubungan persaudaraan, maka itu menjadi amal ibadah yang bernilai besar di sisi Allah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian pula ibadah haji. Berapa banyak biaya yang harus disiapkan demi memenuhi panggilan Allah ke Baitullah. Namun orang yang berhaji dengan ikhlas tidak pernah merasa rugi. Sebab mereka yakin bahwa tamu Allah tidak akan disia siakan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
“Orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya maka Allah akan mengabulkannya, dan jika mereka memohon ampun maka Allah akan mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Sungguh, kehidupan dunia sering membuat manusia terlalu sibuk menghitung pengeluaran, tetapi lupa menghitung pahala dan keberkahan. Padahal belum tentu harta yang disimpan menjadi penyelamat. Bisa jadi harta itu habis tanpa manfaat. Sebaliknya, harta yang digunakan di jalan Allah justru menjadi simpanan abadi di akhirat.
Seorang muslim hendaknya belajar memandang harta dengan pandangan iman. Jangan terlalu sedih ketika tabungan berkurang karena ibadah dan kebaikan. Selama pengeluaran itu berada di jalan yang diridhai Allah, maka yakinlah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengganti. Terkadang penggantian itu datang cepat, terkadang Allah simpan untuk waktu yang paling tepat, dan terkadang Allah jadikan sebagai tabungan pahala yang menunggu kita di akhirat.
Dzulhijjah mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada harta. Orang yang rela berkorban karena Allah akan merasakan manisnya tawakal. Ia tidak mudah panik oleh kebutuhan dunia, sebab hatinya yakin bahwa rezeki bukan ditentukan oleh banyaknya simpanan, tetapi oleh keberkahan dari Allah سبحانه وتعالى.
Maka jika hari ini kita mengeluarkan biaya besar untuk qurban, sedekah, mudik, membantu keluarga, atau menunaikan ibadah haji, jangan biarkan hati dipenuhi keluhan. Ucapkanlah syukur karena Allah masih memberi kemampuan untuk berbagi dan beribadah. Tidak semua orang diberi kesempatan itu. Bisa jadi pengeluaran yang kita keluarkan hari ini justru menjadi sebab datangnya pertolongan Allah pada hari ketika tidak ada lagi harta yang bermanfaat kecuali amal saleh.
Semoga Allah mengganti setiap pengeluaran kita di bulan Dzulhijjah dengan rezeki yang halal, hati yang tenang, keluarga yang penuh keberkahan, serta pahala yang terus mengalir hingga akhir kehidupan. Aamiin.














